Tanah dikuasai meski pegang sertifikat, warga Tlogomas tunggu keadilan

0

Kota Malang – Meski memegang sertifikat kepemilikan atas dua Persil yang merupakan warisan dari orang tuanya, namun tidak menjamin bahwa dua Persil aset warisan tersebut bisa dinikmati atau dikuasainya. Hal tersebut seperti yang dialami oleh Supinah (77) warga Jalan Tlogo Indah IV kota Malangnyang kemudian mengajukan gugatan ke Pengadilan Agama (PA) kota Malang terkait warisan orang tuanya. Adapun yang digugat oleh Supinah ini antara lain adalah keponakannya sendiri dan cucu dari kakak pertamanya yang bernama Ramsi yang juga sudah meninggal.

Dua persil tanah yang menjadi awal sengketa ini berada di Jalan Tlogo Suryo V Malang (2.350 m²) dan di lokasi kawasan Pondok Pesantren Baghrul Maghfiroh (4.530 m²).

“Dari dua persil tanah warisan tersebut, mertua saya (Supinah) justru tidak mendapatkan apa yang menjadi haknya sebagai anak dari Roemini alias Saripin,” ujar menantu Supinah, Hermono kepada awak media, Minggu (08/07).

Dua persil yang diwariskan orang tuanya tersebut yakni Persil 129 tersebut menurut Hermono saat ini dikuasai keponakan dan cucu dari saudara kandung mertuanya dalam bentuk pembangunan beberapa rumah, sementara Persil nomor 131 diketahui telah dijual kepada pengasuh Pondok Pesantren Baghrul Maghfiroh.

“Mertua saya hanya menginginkan apa yang menjadi haknya saja dan bukan keseluruhan akan dikuasai meski sertifikat surat dua Persil tanah tersebut berada di tangan mertua saya,” ungkap Hermono.

Hermono juga menjelaskan ada keanehan pada Persil 129 dan 131 yang sebelumnya telah mendapatkan keterangan dari pihak kelurahan bahwa dua Persil tanah tersebut masih merupakan hak milik dari orang tua Supinah, tetapi di kemudian hari justru muncul surat keterangan dua Persil tanah tersebut merupakan tanah adat.

“Ini kan aneh, setelah mengeluarkan surat tanah itu kosong dan merupakan milik orang tua Bu Supinah, kok kemudian muncul surat yang menyatakan tanah tersebut sebagai tanah adat,” ungkap Hermono keheranan.

Bahkan dalam penelusuran mencari status dua Persil tanah warisan tersebut, Hermono justru menemukan adanya bukti pemalsuan tanda tangan dari beberapa saksi yang dijadikan dasar penjualan tanah warisan tersebut.

“Pak Heri ini anak dari Bu Supinah yang keduanya masih sama-sama hidup merasa tidak pernah tanda tangan tapi kok namanya dicatut dan ada tanda tangan yang tidak sesuai dengan tanda tangan mereka berdua. Ini kan pemalsuan,” ujar Hermono yang mengakui telah melaporkan ke polisi indikasi pemalsuan tersebut.

Hermono bersama keluarga Supinah hanya berharap gugatan yang diajukan ke PA kota Malang ini bisa memberikan keadilan kepada para pihak yang terkait sehingga mendapatkan hak sesuai dengan apa yang diwariskan oleh kedua orang tuanya. (A.Y)

Share.

About Author

Leave A Reply