Tiga Petinggi Militer di Malang berikan pendidikan budi pekerti dan kepemimpinan kepada mahasiswa baru UB

0

Kota Malang – Mahasiswa yang disebut sebagai penerus bangsa dan calon pemimpin di masa mendatang disebut juga menggenggam Indonesia dalam genggamannya. Hal tersebut disampaikan oleh Komandan Korem 083 Baladhika Jaya, Kolonel Inf Bagus Suryadi Tayo yang menjadi salah satu pemateri dalam acara Pembinaan Budi Pekerti dan Kepemimpinan (PBPK) bagi mahasiswa baru (maba) Universitas Brawijaya (UB) di gedung Samantha Krida UB, Sabtu (29/09).

Pendidikan Budi Pekerti dan Kepemimpinan yang merupakan bagian dari rangkaian acara RAJA Brawijaya tersebut mengambil tema ‘Indonesia Dalam Genggaman Pemuda’ yang terbagi di tiga lokasi secara bersamaan yakni di gedung Widyaloka bersama Komandan Lanud Abd Saleh dan Aula Pertamina yang diisi oleh perwakilan dari Lanal Malang.

Dengan tema Indonesia dalam genggaman pemuda tersebut diharapkan akan mampu memberikan penyadaran tentang pentingnya peranan pemuda dalam pembangunan bangsa dan kemajuan negara Indonesia melalui ide, gagasan dn potensi-potensi yang dimilikinya.

“Apalagi beberapa waktu lalu Universitas Brawijaya diindikasi telah dimasuki oleh kelompok radikalisme, sehingga mahasiswa Universitas Brawijaya juga harus kritis dan berhati-hati agar terhindar dari faham radikalisme,” ujar Kolonel Inf Bagus Suryadi Tayo.

Komandan Korem 083 Baladhika Jaya tersebut menyatakan negara wajib mengakomodasi peran dan potensi pemuda baik melalui pendidikan agama, rasa kebangsaan dan cinta tanah air dalam menghadapi tantangan global.

“Termasuk menjaga ideologi Pancasila sebagai alat pemersatu bangsa Indonesia, sebab Pancasila telah mempersatukan 1.128 suku dan 731 bahasa daerah di Indonesia yang berpenduduk 250 juta orang menjadi kewajiban dari generasi muda (mahasiswa) saat ini,” jelas Kolonel Inf Bagus Suryadi Tayo.

Menurut Kolonel Inf Bagus Suryadi Tayo, ancaman yang dihadapi oleh bangsa Indonesia saat ini adalah ancaman yang bersifat non tradisional yang dilakukan oleh Non Negara baik dalam bentuk terorisme,  radikalisme,  perampokan, pembajakan, penyelundukan, imigrasi gelap, perdagangan, narkotika, obat terlarang dan yang lainnya.

“Adanya otonomi Kampus, rasa ingin tahu, mudah dipengaruhi hingga proses pencarian jati diri menjadi beberapa alasan paham radikalisme dikembangkan di area kampus.

“Saya berharap mahasiswa dan civitas akademik bisa memiliki karakter dan wawasan kebangsaan, pandai dan mandiri sebagai Bangsa yang kuat, mahir dan menguasai dalam bidang serta dunia yang ditekuni dan  bertujuan untuk memajukan Indonesia. Kepentingan Negara harus berada di atas kepentingan pribadi kelompok dan yakinlah pada masanya kalian yg akan memimpin Bangsa ini,” ungkap Kolonel Inf Bagus Suryadi Tayo. (A.Y)

Share.

About Author

Leave A Reply