UPT MKU Polinema undang Staf Khusus KASAD untuk membentuk karakter mahasiswanya

0

Kota Malang – Menghadapi berbagai tantangan di era revolusi 4.0 saat ini dengan berbagai konsekuensinya, membuat Politeknik Negeri Malang (Polinema) terus melakukan inovasi dalam menghadapinya. Salah satunya adalah pembentukan karakter positif mahasiswa yang nantinya akan diperlukan setelah lulus kuliah di Polinema dan bersaing dalam dunia kerja sesungguhnya. Pembentukan karakter yang dilakukan oleh Polinema tidak main-main rupanya, karena menghadirkan tokoh atau pejabat dalam skala nasional yang benar-benar mumpuni di bidangnya. Seperti hari ini (28/11), Polinema melalui UPT MKU Polinema mengadakan Seminar Nasional dengan tema Pendidikan Karakter dan Wawasan Kebangsaan Di Era Revolusi 4.0 yang dihadiri ratusan mahasiswa Polinema yang menghadirkan Staf Khusus KASAD Mayjen TNI Markoni sebagai narasumber seminar.

Wakil Direktur I Polinema, Supriatna Adisuwignjo menjelaskan bahwa generasi milenial saat ini dilahirkan dalam kondisi masyarakat internasional yang sudah berbeda yakni di era global.

“Pengaruh globalisasi yang sangat besar baik positif ataupun negatif tidak dapat dihindari, artinya globalisasi itu berpengaruh kepada kita dalam kehidupan berbangsa. Sekat-sekat antar bangsa semakin menipis. Dalam situasi seperti ini, kita diberi pilihan dimana kita tidak bisa mengucilkan diri dari negara lainnya dan kita juga masih ditanamkan nilai-nilai nasionalisme bangsa kita. Apalagi saat ini kita sudah memasuki Revolusi 4.0 sehingga generasi muda harus mempersiapkan diri untuk menghadapi perkembangan yang sangat cepat dan perubahan yang tidak menentu,” ungkap Supriatna Adisuwignjo dalam sambutannya.

Pembantu Drektur I Polinema tersebut lebih lajut menegaskan bahwa salah satu kunci sukses yang tidak boleh ditinggalkan setelah lulus dari Polinema adalah harus menyiapkan diri dengan softskill yang bisa membentuk karakter yang positif.

“Harapannya hari ini kita mendapatkan pencerahan dari narasumber kita sehingga bisa merubah tantangan menjadi peluang menuju kondisi yang lebih baik lagi,” pungkas Supriatna.

Sementara itu dalam pemaparannya, Mayjen TNI Markoni menjelaskan bagaimana kondisi Negera Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan semua kekayaan dan potensi yang dimilikinya sehingga membuat banyak pihak yang ingin menguasainya.

“Sayangnya saat ini banyak tangan yang tidak terlihat (invisible hand) yang sering memanfaatkan atau bermain di NKRI melalui berbagai cara seperti menyebarkan ujaran kebencian yang kemudian menyebabkan masyarakat kita ketagihan bertengkar, saling tuduh bahkan saling bunuh. Padahal karakter dan budaya bangsa Indonesia aslinya tidak seperti itu. Sehingga kita perlu jeli dalam menghadapi kondisi seperti itu,” ujar Mayjen TNI Markoni.

Menurut Staf Khusus KASAD tersebut, saat ini perang tidak lagi menggunakan kekuatan fisik semata, melainkan dengan menggunakan perang proxy (proxy war) yang menggunakan doktrin, adu domba yang tidak kelihatan dan banyak lainnya yang memerlukan kejelian generasi muda agar tidak terjebak atau menjadi korban proxy war yang menyebabkan jauh dari karakter dan budaya asli bangsa Indonesia yang santun, ramah dan suka menolong.

“Sehingga kita perlu tahu dan benar-benar kenal seperti apa karakter asli bangsa Indonesia sehingga tidak mudah terpengaruh dengan doktrin-doktrin yang justru jah dari karakter bangsa Indonesia,” pungkas Mayjen TNI Markoni.

Ditemui di sela-sela pelaksanaan Seminar Nasional, Kepala UPT MKU Polinema, Hairus Sandy menjelaskan bahwa pelaksanaan Seminar Nasional tersebut salah satunya adalah untuk pembentukan karakter generasi muda khususnya mahasiswa Polinema sebelum mereka lulus pendidikan di Polinema.

“Kita di MKU Polinema tidak ingin hanya menghasilkan SDM lulusan yang pastinya pintar saja, tetapi juga baik, cinta NKRI, berwawasan kebangsaan dan juga berkarakter,” ungkap Hairus Sandy.

Hairus Sandy mengingatkan perubahan terjadi sangat cepat sehingga tantangan dan peluang sangat tidak menentu yang membutuhkan kesiapan para mahasiswa Polinema menghadapinya.

“Banyak kita lihat ancaman paham-paham yang tidak sesuai dengan Pancasila mulai beredar di dunia maya hingga muncul paham terorisme dan radikalisme yang perlu diantisipasi dan disikapi oleh para mahasiswa. Sehingga kami berkewajiban untuk menyiapkan para mahasiswa ini untuk menghadapinya,” pungkas Hairus Sandy. (A.Y)

Share.

About Author

Leave A Reply