Adadimalang.com

The Art of News

banner 728x90

Yusnan : PSSI Kota Malang Gagal Lakukan Pembinaan

Yusnan : PSSI Kota Malang Gagal Lakukan Pembinaan

Sepak Bola dan Futsal Kota Malang Gagal Raih Emas di Porprov 2019 adalah Potret Kegagalan.

ADADIMALANG. Sepakbola – Kegagalan Tim Sepak Bola dan Futsal kota Malang meraih emas pada Porprov 2019 adalah wujud ketidakmampuan pengelola khususnya Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) kota Malang dalam melakukan pembinaan.

Hal tersebut ditegaskan oleh Yunan Syaifullah, Pengamat Sepak Bola yang juga Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

“Kegagalan sepakbola kota Malang dalam meraih prestasi adalah ketidakmampuan state yakni pemerintah daerah dan otoritas sepak bola kota Malang dalam menjaga tinta emas dan sejarah sepak bola di Kota Malang,” ujar Yusnan siang tadi, Senin (15/07).

Menurut Yusna, sepakbola hanya dipergunakan dan berorientasi serta dibangun untuk kepentingan jangka pendek, prestasi secara instan. Konsekwensinya melupakan sebuah proses panjang yakni pembinaan dari hulu.

Dia mencontohkan, kompetisi kelompok umur sudah tidak ada di kota Malang selama puluhan tahun. Begitu pula turnamen yang memfasilitasi potensi anak muda, seperti Tirta Dharma Cup dan Baladhika Cup sudah tidak ada dan tidak berjalan sejak tahun 1990-an akhir.

Begitu juga futsal. Turnamen futsal hanya digelar pada momen tertentu saja, namun sangat kurang dari sisi pembinaannya.

“Turnamen Futsal masih tinggi dan dinamis karena faktor kampus yang sering menyelenggarakan,” ucapnya.

Jalur prestasi untuk atlit, khususnya sepak bola di lembaga pendidikan dari SMP, SMA, SMK porsinya makin berkurang. Terlebih aturan pendaftaran siswa baru memberatkan calon siswa yang memiliki prestasi

SSB begitu banyak di Kota Malang tapi kemampuan dan potensi mereka (pemain muda) tidak banyak terserap di klub klub kota Malang. Akhirnya mereka berkiprah di kota lain dan berhasil.

Aturan zonasi menurut Yusna sangat berpengaruh terhadap calon-calon siswa yang akan masuk sekolah, terlebih mereka yang memiliki prestasi itu tinggalnya di pinggir kota,l sedangkan sekolah yang menampung jalur prestasi tidak banyak.

Yusnan mencontohkan SMAN 7 Malang yang selama ini dikenal dengan sekolah untuk para atlet sepak bola kini tidak bisa otomatis menerima anak anak binaan ASIFAnya Aji Santoso karena masalah zonasi

“Hingga kini belum ada kebijakan khusus Walikota untuk menyelamatkan sepak bola di Kota Malang,” ucapnya.

Retorika sudah sering dilakukan Pemda, namun tidak diikuti kebijakan dan peraturan turunan. Perlu pula ada kurikulum khas yang disisipkan di proses pembelajaran berkaitan olah raga yang jadi branding kota Malang.

“Tentunya tidak bisa sepenuhnya berharap ke SSB dalam mencetak atlet sepakbola untuk memenuhi kebutuhan turnamen-turnamen, harus ada kolaborasi dengan institusi pendidikan,” ujarnya.

Karena itulah, Yusnan menegaskan PSSI mestinya mampu membangun jaringan dengan stakeholder dan institusi lain dalam membangun sepak bola Kota Malang. Institusi lain diajak untuk ikut memajukan sepak bola dengan dengan membentuk tim maupun turnamen yang digelar secara kontinyu dan menyeluruh.

“Yang tentu sangat penting, turnamen-turnamen digelar oleh PSSI sendiri. Selain itu PSSI juga harus hadir mendukung keberadaan klub-klub dengan memberikan bantuan pendanaan agar dapat berkembang maju,” ujarnya.

Intinya, lewat pembinaan yang baik maka diharapkan bahwa pemain yang membela Kota Malang dalam berbagai kompetisi benar-benar pemain warga kota setempat dan merupakan pemain-pemain terbaik jebolan kompetisi internal. (Hud)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan