Adadimalang.com

The Art of News

banner 728x90

Tak Ingin Gigi dan Tulang Warga Makin Keropos, FKG dan MIPA UB Ciptakan Alat Penyaring Kalsium

Tak Ingin Gigi dan Tulang Warga Makin Keropos, FKG dan MIPA UB Ciptakan Alat Penyaring Kalsium

Alat temuan disumbangkan untuk dipergunakan d Balai Desa Wonokerto Bantur.

ADADIMALANG – Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan sebelumnya di desa Wonokerto, kecamatan Bantur, kabupaten Malang yang menunjukkan bahwa kualitas air yang dikonsumsi masyarakat memiliki kadar kalsium yang tinggi melebih ambang batas aman, membuat Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Brawijaya (UB) berusaha mencari solusi.

“Dari hasil penelitian di Perum Jasa Tirta diketahui kadar Kalsium di daerah Wonokerto ini 165 miligram perliter padahal ambang batas air yang aman dikonsumsi itu hanya 150 miligram perliter,” ungkap Kordinator Pengabdian Masyarakat Badan Penelitian dan Pengabdian MAsyarakat FKG UB, drg Yully Endang Hernani di lokasi kegiatan pagi tadi, Sabtu (08/02/2020).

Jika kualitas air dengan Kalsium tinggi tersebut terus dikonsumsi, menurut drg Yully Endang Hernani akan dapat menyebabkan masyarakat mengalami peradangan pada persendian (artritis), batu ginjal, hingga pengeroposan tulang dan gigi.

“Hal ini juga didukung laporan yang kami terima dari PKP dengan kejadian luar biasa yang menunjukkan Artritis tinggi. Sementara beberapa kali penelitian dan pemeriksaan dari mahasiswa FKG UB yang melakukan pemeriksaan pada siswa SD diketahui tingkat karies giginya tinggi dengan kriterianya buruk,” ungkap drg Yully Endang Hernani.

Tidak ingin berbagai penyakit akan mengganggu kesehatan masyarakat Wonokerto, FKG UB melaksanakan pengabdian masyarakat dengan melakukan sosialisasi tentang kualitas air serta penyerahan alat penyaring Kalsium untuk bisa digunakan masyarakat Wonokerto.

“Hari ini kami akan menyosialisasikan tentang cara pemasangan alat penyaring air yang menggunakan metode Elektrolisis hasil kerjasama dengan Fakultas MIPA Universitas Brawijaya,” jelas drg Yully Endang Hernani saat berada di pendopo desa Wonokerto, kecamatan Bantur, kabupaten Malang.

Dalam sambutannya dihadapan warga yang hadir dalam kegiatan sosialisasi tersebut, Sekretaris Desa Wonokerto, Eko Bambang menyampaikan apresiasi dan ucapan terimakasih atas kegiatan pengabdian masyarakat yang diadakan oleh FKG Universitas Brawijaya.

“Terimakasih juga untuk alat penyaring air yang telah disumbangkan kepada kami. Nantinya akan kami pasang di kantor desa sehingga masyarakat yang membutuhkan bisa langsung mengambil kesini,” ungkap Eko Bambang.

Alat penyaring air yang diciptakan oleh mahasiswa Fakultas MIPA Universitas Brawijaya ini diketahui menerapkan metode eletrolisis dimana dengan menggunakan beberapa logam akan mampu mengikat kalsium sehingga air yang dihasilkan akan memiliki kadar kalsium yang lebih rendah.

“Dengan alat ini maka air hasil penyaringan akan lebih aman untuk dikonsumsi masyarakat,” ungkap salah satu mahasiswa MIPA UB yang menciptakan alat, Hammami.

Menurut Hammami, alat penyaring air dengan metode elektrolisis yang dibuatnya bersama Hamid tersebut menghabiskan waktu untuk melakukan riset dan penelitian dan juga pembuatan alat kurang lebih selama enam bulan lamanya.

“Untuk alat dengan kualifikasi besar yang disumbangkan ini menghabiskan dana sebesar Rp.6 juta untuk keseluruhan, dan jika untuk kualifikasi rumahan akan lebih terjangkau lagi untuk biaya pembuatannya yang masih sedang kami kerjakan juga saat ini,” ungkap Hammami.

Serah terima alat penyaring air kepada pihak desa Wonokerto

Sekretaris Desa Wonokerto Eko Bambang juga melihat sisi ekonomis yang didapatkan masyarakat selain factor kesehatan yang akan lebih baik dengan mengonsumsi air hasil penyaringan elektrolisis tersebut.

“Jika biasanya dalam lima hari itu menghabiskan dua galon air mineral, maka dengan adanya penyaring air ini bisa menghemat uang yang digunakan membeli air mineral (gallon) untuk kebutuhan yang lainnya. Wah ini menguntungkan sekali,” ungkap Eko Bambang.

Sebelum mengakhiri sosialisasi kepada masyarakat, tim pengabdian masyarakat dari FKG dan MIPA UB juga mendemonstrasikan penggunaan alat dan cara kerja alat penyaring air dengan metode elektrolisis tersebut kepada masyarakat desa Wonokerto yang hadir.

“Semoga alat ini benar-benar dimanfaatkan sebaik mungkin yang bisa berdampak positif kepada kesehatan masyarakat khususnya kesehatan gigi dan mulut,” ungkap drg Yully Endang Hernani. (A.Y)

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan