Kota Malang | ADADIMALANG.COM — Gedung Malang Creative Center (MCC) semakin dikenal sebagai salah satu ikon ekonomi kreatif (ekraf) di Kota Malang. Keberadaannya tidak hanya menjadi ruang aktivitas bagi pelaku ekonomi kreatif, tetapi juga menarik perhatian berbagai daerah yang datang untuk melakukan studi banding.

Di tengah peran strategis tersebut, DPRD Kota Malang melalui Komisi B mendorong adanya perubahan model pengelolaan agar pusat ekonomi kreatif itu tidak terus bergantung pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

Terkait dengan hal tersebut, Ketua Komisi B DPRD Kota Malang, Bayu Rekso Aji menilai Malang Creative Center merupakan aset penting yang mampu mendorong pertumbuhan sektor ekonomi kreatif di kota ini.

Meski demikian, Bayu mengingatkan bahwa pengelolaan MCC perlu terus dievaluasi agar tidak selamanya menjadi beban APBD Kota Malang mengingat saat ini kebutuhan operasional MCC dalam satu tahun mencapai sekitar Rp7,5 miliar. Seluruh biaya tersebut masih ditopang oleh APBD.

Menurut Bayu, nilai tersebut cukup besar, dimana tanpa model bisnis yang adaptif dan progresif, maka potensi MCC sebagai pusat inkubasi, pelatihan, dan kolaborasi ekonomi kreatif dikhawatirkan tidak akan berkembang maksimal.

“Kita ingin MCC bukan hanya menjadi gedung megah, tetapi menjadi pusat pertumbuhan ekonomi yang hidup, produktif, dan mandiri,” tegasnya.

Komisi B pun mendorong Pemerintah Kota Malang untuk mempelajari pola pengelolaan Solo Technopark yang telah menerapkan skema Badan Layanan Umum Daerah (BLUD).

Dengan model BLUD, pengelolaan keuangan di MCC dinilai akan lebih fleksibel dan membuka peluang kerja sama dengan sektor swasta sekaligus menjaga orientasi pelayanan publik.

Bayu menilai, pembentukan BLUD bagi MCC merupakan langkah strategis menuju kemandirian fiskal tanpa mengurangi misi utama dalam meningkatkan kapasitas pelaku ekonomi kreatif.

Melalui model tersebut, Bayu menilai MCC berpeluang lebih aktif menjalin kemitraan dengan industri, mengadakan pelatihan profesional berbayar, mengelola coworking space, hingga menghadirkan program inkubasi bisnis yang berorientasi pasar.

“Prinsipnya sederhana, APBD jangan terus menjadi penopang utama. MCC harus kita dorong menjadi pusat kreatif yang mandiri, produktif, dan memberi dampak ekonomi nyata bagi warga Kota Malang. Kita ingin ekosistem ekraf naik kelas, dan itu butuh tata kelola yang berani, profesional, dan berorientasi hasil,” pungkas Bayu. (Red)