Kota Malang | ADADIMALANG.COM — Pengembangan teknologi kecerdasan buatan di lingkungan perguruan tinggi ditegaskan juga membutuhkan ekosistem yang terintegrasi sehingga tidak hanya mengandalkan keahlian talenta digital tetapi juga ketersediaan perangkat penunjang yang memadai. Penegasan tersebut disampaikan oleh Kepala Pusat Pengembangan Talenta Digital Kementerian Komunikasi dan Digital, Said Mirza Pahlevi, saat menghadiri pembukaan Workshop 3 Artificial Intelligence Talent Factory Batch 2 di Fakultas Ilmu Komputer Universitas Brawijaya (FILKOM UB).

Dalam agenda workshop ketiga kali ini, Said Mirza Pahlevi menjelaskan bahwa pelaksanaan program AITF di kampus ini memprioritaskan dua kasus penggunaan utama yang berdampak luas bagi masyarakat.

Kasus pertama berfokus pada ekosistem Sekolah Rakyat untuk menciptakan model sistem kecerdasan buatan yang mampu berinteraksi secara personal dan interaktif dengan para peserta didik, sedangkan kasus kedua diarahkan untuk mengoptimalkan ketepatan penyaluran program bantuan sosial.

“Tadi saya lihat dari user interface untuk Sekolah Rakyat yang ditayangkan itu sudah hampir 80 persen selesai gitu ya. Dengan target akhir bulan ini bisa nanti kita lakukan demonstrasi aplikasinya. Sedangkan yang terkait dengan bantuan sosial dari evaluasi terakhir juga sudah hampir 80 persen selesai,” ungkap Said Mirza Pahlevi.

Said Mirza Pahlevi menambahkan bahwa akselerasi penguasaan teknologi tingkat lanjut ini menuntut adanya intervensi fasilitas yang mumpuni dari sisi suprastruktur teknologi institusi. Guna menjembatani kebutuhan tersebut, kementerian terkait menginisiasi skema kemitraan intensif bersama manajemen universitas.

“Jadi kita kerjasama dengan UB terkait dengan infrastruktur AI yang kita fasilitasi sehingga mahasiswa lebih luas dan dalam bergerak dalam mengeksplorasi teknologi AI terkini. Yang kedua kita beri mereka fasilitas untuk belajar secara mandiri yang memang kita buat khusus untuk mahasiswa dapat melakukan pendalaman. Dan yang ketiga kita ada expert lecture yang langsung memberikan perkembangan AI terkini yang terkait dengan use case dan mahasiswa juga bisa bertanya dengan para expert tersebut,” jelas Said Mirza Pahlevi.

Meskipun program inkubasi talenta ini dirancang agar senantiasa terbuka untuk diadopsi oleh berbagai sektor industri dan layanan publik, untuk proses yang tengah berjalan saat ini fokus pengerjaan tetap diarahkan pada program-program prioritas nasional. Ruang lingkup riset terapan difokuskan pada penguatan sektor pendidikan nonformal, akselerasi program pengentasan kemiskinan, hingga penguatan sistem pelindungan anak di dalam dunia digital.

“Jadi fokusnya sekarang seperti itu, tapi ke depan kita bisa perluas ke sektor-sektor lain yang memiliki dampak yang luas kepada masyarakat. Tentunya kita sebagai pencetak talenta digital kementerian Komdigi berharap para lulusan AITF ini tidak hanya bekerja di instansi belaka, tetapi juga bisa membuat pekerjaan baru misalnya menciptakan startup dan seterusnya,” pungkas Said Mirza Pahlevi. (A.Y)