Kota Malang | ADADIMALANG.COM — Proses pendampingan dan pembinaan bagi keluarga binaan LAZIS Sabilillah Malang terus dilaksanakan secara konsisten oleh sivitas akademika Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Malangkuçeçwara. Langkah konkret ini menjadi wujud nyata dari implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi yang berorientasi pada kemaslahatan umat.

Setelah sebelumnya sukses melaksanakan pembinaan dengan fokus materi tentang tata cara dan manajemen ibadah salat, kini tim Pengabdian Masyarakat STIE Malangkuçeçwara kembali menggelar kegiatan serupa. Tim akademisi yang diketuai oleh Drs. Zainul Arifin, MM., serta beranggotakan Dra. Sherly Hesti Erawati, MM., Dr. Siti Munfaqiroh, M.Si., dan Sugeng Hariadi, SE., CA., MM., ini membawakan tema baru yang esensial dalam membangun ketahanan rumah tangga.

Dosen STIE Malangkuçeçwara yang didapuk menjadi pemateri yaitu Drs. Taufik Djafri, MM., menyampaikan bahwa di momen menyambut datangnya Tahun Baru Islam, materi diarahkan pada strategi memperbarui sikap dan mentalitas diri.

“Jadi setelah kita membenahi diri sendiri, baru kita bergerak membenahi anak-anak kita. Manajemen keluarga tersebut diterapkan dengan menggunakan bahasa Qurani. Salah satu cirinya adalah mendahulukan hal positif baru negatif dalam semua aspek komunikasi. Layaknya struktur doa dalam Al-Qur’an, yang mendahulukan permohonan kebaikan baru kemudian diakhiri perlindungan agar jangan sampai masuk neraka,” urai Taufik Djafri.

Selain komunikasi berbasis Qurani, Taufik yang juga gemar menulis buku ini menekankan pentingnya penggunaan bahasa cinta dalam pengasuhan. Mengingat seorang ibu dan anak pernah berada dalam satu tubuh, ikatan emosional tersebut harus dirawat dengan komunikasi yang menyentuh hati.

“Anak harus menumbuhkan rasa cinta kepada orang tua karena ibu mereka pasti mencintai mereka tanpa syarat. Melalui dua pendekatan bahasa ini, saya berharap para ibu bisa memimpin keluarga secara praktis di lapangan. Kalau sekadar teori pola asuh bisa dengan mudah dicari di ponsel, namun pengalaman nyata dan suriteladan, itulah hal berharga yang sulit dicari saat ini,” tambah Taufik.

Agenda pengabdian masyarakat dari kampus yang juga dikenal dengan sebutan ABM Malang ini diikuti oleh sekitar 140 peserta yang terbagi dalam kelompok ibu dan anak. Kehadiran para dosen ini mendapat sambutan yang sangat hangat serta apresiasi positif dari manajemen LAZIS Sabilillah Malang.

Manajer Operasional LAZIS Sabilillah Malang, Sulaiman A. P., menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada seluruh jajaran pengajar STIE Malangkuçeçwara atas dedikasi mereka dalam menemani warga binaan.

“Keluarga binaan kami ini termasuk kelompok masyarakat yang sangat perlu dikuatkan mentalnya, di mana mereka biasanya lebih cepat paham melalui model komunikasi dua arah secara langsung. Kami sangat berterima kasih karena tim dosen ABM Malang berkenan hadir meluangkan waktu untuk menguatkan mental dan psikologis mereka,” ungkap Sulaiman.

Pria yang juga aktif dalam kepengurusan BAZNAS ini menambahkan bahwa dalam klaster pemberdayaan masyarakat, aspek utama yang harus disentuh terlebih dahulu adalah pendampingan penguatan mental, yang kemudian disusul dengan penguatan spiritualitas keagamaan. Setelah pondasi mentalnya kokoh, barulah intervensi peningkatan keahlian (skill) bisa diterapkan secara optimal.

“Dengan adanya dukungan dari berbagai pihak, termasuk sinergi berkelanjutan dari STIE Malangkuçeçwara, kami optimis hal ini akan dapat meningkatkan kualitas mental, spiritual, hingga keahlian kerja para muzakki binaan kami ke depan,” pungkas Sulaiman A.P. (A.Y)