~ The Art of News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Berita » FEB UM Dampingi 35 Pelaku UMKM Gedangan Kelola Keuangan dan Pemasaran Digital

FEB UM Dampingi 35 Pelaku UMKM Gedangan Kelola Keuangan dan Pemasaran Digital

  • account_circle redaksi
  • calendar_month Senin, 2 Nov 2026
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Kab. Malang | ADADIMALANG.COM — Persoalan pencatatan keuangan usaha yang masih bercampur dengan keuangan rumah tangga serta pemasaran produk yang terbatas secara konvensional menjadi perhatian tim dosen Departemen Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Malang (FEB UM).

Melalui program pendampingan selama delapan bulan di Desa Gedangan, Kecamatan Gedangan, Kabupaten Malang, tim dosen FEB UM membekali 35 peserta dengan kemampuan literasi keuangan dan pemasaran digital. Program ini diarahkan agar pelaku UMKM tidak hanya mampu mengelola keuangan usaha, tetapi juga mulai memanfaatkan teknologi digital untuk memperluas jangkauan pemasaran produknya.

Program yang didanai Universitas Negeri Malang melalui skema Desentralisasi FEB Tahun Anggaran 2026 ini diketuai oleh Dr. Satia Nur Maharani, S.E., M.SA., Ak., CSRS., bersama Dr. Nurika Restuningdiah, S.E., M.Si., Ak., CA., dan Novi Trisnawati, S.E., M.S.A., CRA, CILA. Dua mahasiswa yang disebut berasal dari FEB UB, Firnanda Fitriyah Al Ma’arif dan Nur Azizah, juga turut terlibat dalam kegiatan tersebut.

Desa Gedangan dipilih karena memiliki potensi ekonomi lokal yang ditopang sektor pertanian dan wisata pesisir Malang Selatan. Peserta pendampingan terdiri dari pengelola BUMDes, perangkat desa, ibu rumah tangga, serta pelaku UMKM dengan beragam produk, mulai dari kopi bubuk robusta, keripik krecek, keripik geblek, sale pisang, basreng, dimsum, cilok, roti, jajanan pasar, hingga grosir pakaian.

Dari identifikasi awal, tim menemukan bahwa sebagian peserta belum memisahkan keuangan usaha dengan keuangan rumah tangga dan belum mampu menyusun laporan keuangan. Sementara dari sisi pemasaran, produk lokal masih banyak mengandalkan promosi dari mulut ke mulut dan penjualan secara langsung.

“Dari identifikasi awal, tim pelaksana menemukan dua masalah utama yang dihadapi peserta program yakni belum memisahkan keuangan usaha dari keuangan rumah tangga dan belum mampu menyusun laporan keuangan sederhana. Permasalahan kedua produk lokal warga sebagian besar masih dipasarkan secara konvensional, promosi dari mulut ke mulut dan penjualan dilakukan secara langsung sehingga jangkauan pasarnya terbatas,” jelas Dr. Satia Nur Maharani.

Untuk menjawab persoalan tersebut, tim memberikan lima kelompok materi yang mencakup literasi keuangan dasar, pencatatan keuangan digital melalui aplikasi di telepon pintar, digital marketing, branding dan pemanfaatan marketplace, serta pengelolaan keuangan keluarga.
Pendampingan tidak berhenti pada penyampaian materi. Peserta juga diajak mempraktikkan penyusunan laporan keuangan menggunakan data usaha masing-masing, mengikuti workshop fotografi produk menggunakan smartphone, serta berlatih membuat konten pemasaran dan akun marketplace.

Setelah pertemuan tatap muka, proses pendampingan dilanjutkan secara daring melalui grup WhatsApp untuk menjaga komunikasi dan membantu peserta selama proses penerapan materi.
Hasil evaluasi melalui tes sebelum dan sesudah pelatihan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman peserta pada seluruh materi yang diberikan. Peningkatan paling menonjol terlihat pada materi digital marketing, yang sebelumnya masih menjadi hal baru bagi sebagian besar peserta.

Meski demikian, tim menilai peningkatan pemahaman tersebut masih perlu diikuti penerapan secara konsisten dalam kegiatan usaha sehari-hari.

“Kenaikan pemahaman ini baru langkah awal. Tantangan berikutnya adalah memastikan peserta benar-benar rutin mencatat keuangan dan konsisten memasarkan produknya secara digital,” ujar Satia Nur Maharani.

Dr. Nurika Restuningdiah menambahkan, materi branding dan marketplace masih memerlukan penguatan karena peserta membutuhkan latihan lebih lanjut, terutama dalam menyusun identitas merek, menyiapkan foto dan deskripsi produk, serta mengelola toko daring.

“Pendampingan lanjutan akan diarahkan pada praktik individual berbasis produk masing-masing peserta, seperti pembuatan katalog dan pengelolaan toko daring secara bertahap,” jelas Nurika Restuningdiah.

Untuk menjaga keberlanjutan program, tim menyerahkan modul pelatihan dan template keuangan kepada pemerintah desa dan BUMDes. Tim juga merencanakan pemantauan penerapan hasil pelatihan setiap tiga bulan selama satu tahun setelah program berakhir.

Melalui pendampingan tersebut, tim berharap kemampuan pengelolaan keuangan dan pemasaran digital dapat menjadi bekal bagi pelaku UMKM Desa Gedangan untuk mengembangkan usahanya sekaligus mendukung pencapaian SDGs Desa, khususnya desa tanpa kemiskinan, pertumbuhan ekonomi desa yang merata, dan desa tanpa kesenjangan.

“Program ini diharapkan mendukung pencapaian SDGs Desa, khususnya desa tanpa kemiskinan, pertumbuhan ekonomi desa yang merata, dan desa tanpa kesenjangan,” ungkap Novi Trisnawati. (Red)

  • Penulis: redaksi
expand_less