~ The Art of News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Berita » HARPI Kota Malang Gencarkan Sosialisasi Tata Rias Pengantin Malang Keputren

HARPI Kota Malang Gencarkan Sosialisasi Tata Rias Pengantin Malang Keputren

  • account_circle Fitri
  • calendar_month 23 jam yang lalu
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Kota Malang | ADADIMALANG.COM — Himpunan Ahli Rias Pengantin Indonesia (HARPI) DPC Kota Malang menggelar seminar dan sosialisasi mengenai Tata Rias Pengantin Malang Keputren. Kegiatan ini diinisiasi untuk mengenalkan kembali kekayaan budaya lokal yang dinilai masih minim pemahaman di kalangan perias muda dan masyarakat luas.

Ketua HARPI DPC Kota Malang, Lis Herdiana, menjelaskan bahwa Tata Rias Pengantin Malang Keputren sebenarnya telah dibakukan oleh Dinas Pendidikan dan Direktorat sejak tahun 1996. Artinya, pakem tersebut telah berusia 30 tahun, namun hingga kini sosialisasi dan edukasinya masih belum maksimal menjangkau generasi muda maupun para pelaku MUA.”

“Banyak yang tahu, tetapi banyak juga yang tidak tahu apa itu Tata Rias Pengantin Malang Keputren, masyarakat luas pun banyak yang belum paham,” ujarnya.

Atas dasar itulah, DPC HARPI Kota Malang bersama pengurus DPC HARPI Kabupaten Malang serta Kota Batu, merasa terpanggil untuk mengambil langkah nyata. Mereka bertekad memberikan edukasi dan wacana kepada generasi muda dan perias agar bersama-sama melestarikan warisan leluhur yang telah digali sejak puluhan tahun lalu.

Dalam pemaparannya, Lis menyebutkan ada empat ragam tata rias pengantin khas Malang yang wajib diketahui oleh para perias, yakni Malang Keputren, Malang Keprabon, Malang Muslim, dan Malang Kanigoro. Keempat gaya ini merepresentasikan kekayaan budaya keraton dan tradisi historis yang ada di Malang.

Sebagai tahap awal, bentuk edukasi yang diberikan difokuskan pada praktik langsung pembuatan sanggul. Selain itu, para peserta juga diberi kesempatan untuk berdiskusi mendalam mengenai ragam aksesori serta motif-motif baku yang menjadi ciri khas Tata Rias Pengantin Malang Keputren.

Dari segi historis, tata rias ini digali dari wilayah Kabupaten Malang dengan merujuk pada kebudayaan Kerajaan Singasari. Karakteristik utamanya tampak pada bagian mahkota yang dinamakan Mahkota Patma, yang bentuknya terinspirasi langsung dari relief candi-candi peninggalan Singasari.

Kekhasan lainnya juga terlihat pada motif kain Grengseng Bang yang melambangkan suasana peperangan di era Ken Arok, serta penggunaan selendang kuning emas pada manten putri seperti era Ken Dedes. “Busana manten pria juga dilengkapi keris di depan karena dulunya untuk keperluan perang, serta menggunakan hiasan kepala bermotif khas Malang Keputren bukan blangkon biasa,” jelasnya.

Untuk mendorong minat masyarakat secara luas, Lis menegaskan bahwa upaya ini tidak bisa berjalan sendiri tanpa adanya keterlibatan pihak pemerintah. Ia berharap Dinas Kebudayaan dan Pendidikan, hingga jajaran pejabat setempat dapat turut serta mendukung dan mempromosikan penggunaan tata rias ini dalam setiap acara pernikahan di Malang Raya. (Fit/A.Y)

  • Penulis: Fitri
expand_less