Jaga Pasokan Pangan, Akademisi UB Dampingi Penanaman 4.000 Bibit Cabai di Merjosari
- account_circle Fitri
- calendar_month 20 jam yang lalu
- print Cetak

Akademisi Fakultas Teknologi Pertanian dan Kehutanan UB, Prof. Dr. Ir. Setyono Yudo Tyasmoro, M.S., saat dalam penanaman sekitar 4.000 bibit cabai di Kelurahan Merjosari pagi tadi (Foto : Fitri AdaDiMalang)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Kota Malang | ADADIMALANG.COM — Akademisi Universitas Brawijaya (UB) memberikan pendampingan teknologi pertanian dalam penanaman sekitar 4.000 bibit cabai di atas lahan seluas 6.000 meter persegi di Kelurahan Merjosari, Kecamatan Lowokwaru, Rabu (21/10/2026). Kolaborasi dengan Pemerintah Kota (Pemkot) Malang dan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Sumber Rejeki ini ditujukan untuk menjaga stabilitas pasokan pangan daerah.\
Perwakilan akademisi Fakultas Teknologi Pertanian dan Kehutanan UB, Prof. Dr. Ir. Setyono Yudo Tyasmoro, M.S., menyatakan bahwa pihak kampus telah menandatangani Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan kelompok tani setempat. Kerja sama tersebut menjamin keberlanjutan pendampingan dari para akademisi dan mahasiswa secara jangka panjang, tidak hanya sebatas pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN).
“Kami sudah PKS dengan kelompok tani. Jadi, setelah KKN kami mau melanjutkan lagi program ini, tidak hanya selesai KKN. Kami mendampingi petani di sini,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa ketersediaan air menjadi tantangan utama bagi para petani cabai di musim ini. Apalagi, kondisi iklim global saat ini tengah dihadapkan pada fenomena cuaca ekstrem Super El Nino yang berdampak pada keterbatasan sumber air.
“Kendalanya ini kan di air di musim ini, apalagi sekarang kita El Nino, Super El Nino. Jadi petani untuk sifat tumbuh memang harus mengadakan airnya dulu, sampai nanti hujan turun,” ujarnya.
Kendati menghadapi tantangan pasokan air, Setyono menilai keberanian para petani mengawali penanaman di musim kemarau didasari oleh perhitungan ekonomi yang matang. Panen yang dihasilkan sebelum musim puncak diperkirakan akan bernilai jual lebih tinggi sehingga mampu menutup biaya operasional tanam.
“Kalau sampai panen, harganya akan lebih tinggi. Jadi artinya kalaupun hasilnya sedikit, usaha taninya bisa tercover biayanya. Poktan ini berani karena sudah ada hitung-hitungan mereka,” tambahnya.
Guna memastikan tanaman tumbuh optimal di tengah keterbatasan air, tim UB memfokuskan penguatan pada pemulihan kondisi fisik dan biologis tanah. Lahan pertanian di kawasan tersebut terindikasi mengalami penurunan kualitas akibat pemupukan anorganik secara masif.
“Kami pendampingan pembuatan pupuk organik dan penerapan PGPR (Plant Growth-Promoting Rhizobacteria). Tanahnya keras karena menggunakan pupuk anorganik terus-menerus, sehingga bahan organiknya kurang dan mikrobanya tidak ada,” jelasnya.
Melalui penerapan teknologi mikroba baik (PGPR) dan pupuk organik tersebut, struktur tanah diharapkan dapat kembali gembur sehingga mampu menahan kelembapan dan menutrisi akar tanaman cabai secara efektif.
Dengan intervensi sains dan pendampingan berkala dari akademisi, Setyono optimistis tingkat keberhasilan produksi cabai di lahan Merjosari dapat dicapai secara maksimal meski di tengah ancaman kemarau panjang.
“Kami support supaya bisa minimal 80 persen hingga 99 persen tingkat keberhasilannya. Kami sudah PKS untuk mendampingi dan mengerahkan tim di lapangan,”pungkasnya. (Fit/A.Y)
- Penulis: Fitri



