Keripik Nori Revani Kue Malang Kini Hadir Dengan Kualitas Lebih Baik Dan Berpeluang Ekspor
- account_circle Agus Yuwono
- calendar_month Senin, 20 Jul 2026
- visibility 177
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Kota Malang | ADADIMALANG.COM — Berkat dukungan dan pendampingan yang dilakukan oleh dosen dari kampus STIE Malangkuçeçwara (ABM) Malang, produk kripik nori (Seaweed Crisp) yang diproduksi dengan brand Ravani Kue kini terbuka peluang untuk melakukan export.
Hal tersebut disebabkan dengan pemberian bantuan alat dan teknologi berupa food dehidrator dan spinner dari dosen STIE Malangkuçeçwara, produk kripik nori dari Revani Kue ini akan mampu bertahan lebih lama dan lebih sehat karena hanya sedikit memiliki kandungan minyak.
“Jadi dengan food dehidartor ini saya tidak lagi melakukan proses penjemuran sehingga produk tidak terkontaminasi udara atau debu dari luar. Selain itu dengan alat tersebut kami hanya membutuhkan waktu empat jam saja maka sudah kering, sehingga kapasitas produksi juga bertambah lebih banyak,” ungkap Evi Afidah owner dari Kripik Nori (Seaweed Crisp) Revani Kue yang ada di wilayah kelurahan Arjowinangun, kecamatan Kedungkandang, kota Malang ini.
Menurut perempuan yang gemar memasak ini, sebelum ada food dehidartor dirinya harus melakukan penjemuran yang membutuhkan durasi waktu cukup lama dan tergantung pada cuaca atau matahari.
“Jika matahari bersinar terik ya bisa cepat meskipun tetap tidak secepat food dehidrator ini. Apalagi kalau mendung, wah bisa semakin lama. Jadi tidak bisa diprediksi produksinya karena tergantung cuaca,” ungkap Evi.
Selain produknya menjadi lebih higienis dan aman, food dehidrator yang dapat menampung cukup banyak produknya dalam sekali proses tersebut diakui membuat jumlah produksinya semakin meningkat sehingga dapat memenuhi permintaan atau kebutuhan konsumen dengan lebih cepat dan pasti.
Usai dihilangkan kandungan air yang cukup banyak dalam rumput laut (nori) melalui food dehidrator, Evi akan melakukan proses penggorengan dengan menggunakan minyak dalam rentang waktu yang cepat.
“Meskipun terlihat banyak menggunakan minyak saat menggoreng, namun kandungan minyak dalam nori ini sedikit. Meski demikian kita akan tetap melakukan penirisan minyak dengan alat kedua yakni spinner sehingga kandungan minyak dalam nori akan semakin sedikit lagi,” ungkapnya.
Dengan semakin sedikit kandungan air dan minyak yang ada di nori crisp yang diproduksinya,Evi menegaskan produk seaweed crisp Revani Kue semakin renyah dan juga tahan lama.
“Dulu sebelum menggunakan spinner, seaweed crisp Revani Kue ini hanya mampu bertahan maksimal empat bulan saja dengan kemasan pouch, tetapi setelah dispinner bisa bertahan lebih dari satu tahun,” jelas Evi.
Dengan kemampuan bertahan lebih dari satu tahun tersebut menurut Evi akan membuka lebar peluang Seaweed Crisp Revani Kue untuk dapat dijual ke pasar luar negeri (ekspor). Hal ini disebabkan beberapa waktu yang lalu produk seaweed crisp Revani Kue telah sempat ditawarkan kepada pihak pengusaha di Jepang yang sudah bisa menerima kualitas produk mereka.
“Sayangnya karena saat itu baru bisa bertahan empat bulan lamanya, mereka tidak bisa menerima. Karena memang secara aturan minimal harus mampu bertahan satu tahun. Sekarang dengan adanya sppinner maka inshaAllah sudah bisa ditawarkan kembali kepada pihak Jepang,” ungkap Evi yang merupakan binaan Diskopindag kota Malang dan juga BI Malang ini.
Dengan menghadirkan tiga varian seaweed crisp yakni Original, spicy dan salted egg, produk Revani Kue ini telah mampu menembus ke berbagai daerah termasuk toko oleh-oleh ternama di Indonesia seperti joger di pulau Bali dan juga Krishna di Yogyakarta.
“Saya menyampaikan banyak terimakasih kepada dosen STIE Malangkuçeçwara yang telah melakukan pembinaan dan pendampingan hingga bantuan alat dan teknologi, juga kepada Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kemendiktisaintek tahun anggaran 2026,” pungkas Evi berbangga hati.
Ditemui di lokasi produksi Nori Crisp Revani Kue, tim Pengabdian Kepada Masyarakat dari STIE Malangkuçeçwara yang diketuai oleh Dr. Dra. Siti Munfaqiroh M,Si., dan beranggotakan Ir. Dwinita. Aryani, MM., Ph.D., dan Dra. Enggar Nursasi, MM., ini tengah memberikan masukan dan pendampingan pada proses produksi dengan penggunaan alat bantuan dari mereka.
“Jadi pembinaan dan pendampingan hingga bantuan yang kami berikan ini berawal dari keinginan dari mitra kami yaitu Revani Kue untuk menjamin bahwa pengeringan produk yang dihasilkan akan lebih pasti sesuai dengan waktu yang ditentukan. Sehingga kami dari tim dosen STIE Malangkuçeçwara mencoba menginisiasi dengan mengajukan proposal ke Kementerian Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi (Kemendiktisaintek) untuk pengajuan salah satu teknologi berupa hood dehydrator,” jelas Siti Munfaqiroh.
Pengajuan proposal untuk membantu pelaku UMKM Revani Kue tersebut ternyata disetujui oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kemendiktisaintek yang memberi kepercayaan kepada tim dosen STIE Malangkuçeçwara.
“Untuk kesekian kalinya kita mendapat kepercayaan lolos dalam pendanaan hibah ini. Alhamdulillah, setelah kita ajukan dan kita lolos pendanaan DPPM Kemendiktisaintek tahun anggaran 2026 berupa food dehydrator. Selain itu kita juga memberikan tambahan bantuan alat berupa spinner,” ungkap dosen STIE Malangkuçeçwara. Dengan bantuan alat berupa food dehydrator dan spinner tersebut, tim Pengabdian kepada Masyarakat STIE Malangkuçeçwara berharap Revani Kue akan dapat memenuhi kebutuhan dan permintaan konsumen dengan lebih pasti dengan jumlah produksi yang lebih banyak.
“Dengan semakin sedikit kandungan minyak di dalamnya, maka produk kripik nori (seaweed crisp) Revani Kue ini akan menjadi lebih sehat untuk dikonsumsi,” tukas Siti Munfaqiroh.
Selain melibatkan dosen, beberapa mahasiswa STIE Malangkuçeçwara seperti Afizah Sabrina Ainurohmah, Mirza Haikal Rafsanjani, Gladis Naela Destiawan dan Rhena Fadia Amalia juga turut serta dalam pendampingan dan pembinaan dalam hal promosi dengan menggunakan media sosial. (A.Y)
- Penulis: Agus Yuwono



