~ The Art of News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Berita » Profesor Iqbal dari FIA UB Tawarkan Model AISA untuk Memperkuat Inovasi dan Kewirausahaan Organisasi

Profesor Iqbal dari FIA UB Tawarkan Model AISA untuk Memperkuat Inovasi dan Kewirausahaan Organisasi

  • account_circle Agus Yuwono
  • calendar_month 5 jam yang lalu
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Model AISA menggabungkan kemampuan beradaptasi, orientasi inovasi, dukungan organisasi, dan otonomi untuk menumbuhkan inisiatif sukarela anggota organisasi.

Kota Malang | ADADIMALANG.COM – Kemajuan sebuah organisasi membutuhkan lebih dari sekadar anggota organisasi yang mampu menjalankan tugas, ternyata diperlukan pula anggota yang berani menemukan peluang, mengembangkan inovasi, dan mengambil inisiatif demi kemajuan bersama.

Gagasan tersebut disampaikan Prof. Mohammad Iqbal, S.Sos., MIB, DBA, CPM (Asia), dalam pidato pengukuhannya sebagai profesor bidang Ilmu Manajemen Kewirausahaan Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya (FIA UB).

Melalui pidato berjudul “Menumbuhkan Entrepreneurial Citizenship Behaviour melalui Adaptability, Innovation Orientation, Support, Autonomy (AISA): Penguatan Organisasi dan Ekosistem Kewirausahaan”, Iqbal menawarkan konsep Entrepreneurial Citizenship Behavior (ECB) dan model AISA untuk mendorong perilaku kewirausahaan sukarela di lingkungan organisasi.

“ECB merupakan perilaku anggota organisasi yang secara sukarela melakukan lebih dari kewajiban formal, dengan menggabungkan kepedulian terhadap kepentingan bersama dan inisiatif kewirausahaan. Konsep ini memiliki empat komponen, yaitu Opportunity Seeking atau mencari peluang, Entrepreneurial Initiative atau memulai gagasan baru, Calculated Risk-Taking atau mengambil risiko secara terukur, serta Strategic Directedness atau mengarahkan inisiatif agar sejalan dengan tujuan organisasi,” jelas Prof. Iqbal.

Untuk menumbuhkan perilaku tersebut, Mohammad Iqbal memperkenalkan model AISA yang terdiri dari empat faktor yakni Adaptability yang berarti kemampuan organisasi menyesuaikan diri terhadap perubahan. Innovation Orientation merupakan budaya yang menghargai kreativitas dan eksperimen. Support adalah dukungan pemimpin melalui kepercayaan, sumber daya, dan penghargaan. Sementara Autonomy memberikan keleluasaan kepada anggota dalam menentukan cara dan urutan pekerjaan. Keempat faktor tersebut diharapkan menciptakan lingkungan yang mendorong anggota organisasi berinisiatif tanpa harus selalu menunggu perintah.

Penerapannya diharapkan dapat dikembangkan dalam berbagai organisasi, baik bisnis maupun publik dalam berbagai tingkatan yang ingin mendorong munculnya keperilakuan kewirausahawanan individu anggota organisasi. Apabila dapat disinergikan dengan tujuan utama organisasi, maka inisiatif individu tersebut berpeluang berkembang menghasilkan pembaruan dan kekuatan strategis organisasi.

Konsep ECB dan AISA sebagai faktor pengungkit dikembangkan melalui integrasi tiga bidang keilmuan, yakni perilaku organisasi, kewirausahaan, dan manajemen strategis. Meski demikian, ECB dan AISA masih merupakan kerangka konseptual yang perlu diuji melalui penelitian empiris, termasuk pengembangan instrumen pengukuran dan pengujian hubungan antara empat faktor AISA dengan perilaku ECB. Pengujian lebih lanjut direkomendasikan pada berbagai lingkungan, dan tingkatan organisasi swasta maupun publik.

Melalui gagasan ini, Mohammad Iqbal menekankan bahwa penguatan organisasi tidak cukup dilakukan dengan mengatur dan mengendalikan anggotanya. Organisasi juga perlu memberdayakan mereka melalui lingkungan yang adaptif, inovatif, suportif, dan memberikan ruang otonomi bagi tumbuhnya inovasi.

Dengan begitu, inisiatif individu dapat tumbuh menjadi kekuatan kolektif untuk memperkuat organisasi dan ekosistem kewirausahaan. (A.Y)

  • Penulis: Agus Yuwono
expand_less