Tekan Inflasi, Pemkot Malang Tanam 4.000 Bibit Cabai di Merjosari
- account_circle Fitri
- calendar_month Rabu, 21 Okt 2026
- print Cetak

Pj Sekretaris Daerah Kota Malang, Dandung Djulharjanto beserta jajaran pejabat usai melakukan penanaman cabai di lahan Gapoktan Sumber Rejeki, Kelurahan Merjosari, Kota Malang (Foto : Fitri AdaDiMalang)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Kota Malang | ADADIMALANG.COM — Pemerintah Kota (Pemkot) Malang menanam sekitar 4.000 bibit cabai di atas lahan seluas 6.000 meter persegi di Kelurahan Merjosari, Kecamatan Lowokwaru, Rabu (21/10/2026). Langkah strategis hasil kolaborasi bersama Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Sumber Rejeki ini ditujukan untuk menjaga stabilitas pasokan pangan sekaligus menekan laju inflasi daerah menjelang akhir tahun 2026.
Pj Sekretaris Daerah Kota Malang, Dandung Djulharjanto, menegaskan bahwa komoditas cabai memiliki pengaruh signifikan terhadap pergerakan inflasi. Oleh karena itu, gerakan penanaman ini menjadi langkah konkret pemerintah kota dalam mengantisipasi lonjakan harga di tingkat konsumen.
“Gerakan menanam cabai ini kita lakukan dalam rangka pengendalian inflasi. Karena selain bahan pokok lain, cabai ini sangat berpengaruh terhadap inflasi. Kalau pas harganya melambung, tidak hanya ibu-ibu yang ngulek menjerit, bapak-bapak juga ikut menjerit,” kata Dandung.
Dandung menjelskan, penanaman diawali di lahan perkebunan jeruk dengan menerapkan sistem tumpangsari atau pemanfaatan lahan sela. Pola budidaya ini dinilai lebih efektif dan efisien karena perawatan tanaman cabai dapat dilakukan bersamaan dengan pemeliharaan pohon jeruk yang sudah ada.
“Lahan ini lahan lama, tumpangsari di sela-sela tanaman jeruk. Dengan demikian pemeliharaannya bisa lebih efektif, sekalian pemeliharaan jeruknya dan sekalian pemeliharaan untuk cabainya,” jelas Dandung.

Pemilihan lokasi di Merjosari didasarkan pada kesiapan sarana irigasi pendukung, seperti kolam penampungan air dan mesin pompa. Fasilitas tersebut memungkinkan para petani mengawali penanaman lebih cepat di musim kemarau tanpa perlu menunggu datangnya musim hujan.
“Penempatan di lokasi ini dengan berbagai pertimbangan, salah satunya ketersediaan air di kolam penampungan dan adanya mesin pompa untuk menarik air jika diperlukan. Ini penanaman awal yang secara bertahap akan kita perluas ke lokasi lain di Kota Malang,” tambah Dandung.
Sementara itu, Kepala Dispangtan Kota Malang, Slamet Husnan, mengungkapkan bahwa potensi lahan cabai di Kota Malang secara keseluruhan mencapai 71,25 hektare yang terpusat di dua titik, yakni Kelurahan Merjosari seluas 30 hektare dan lahan di Buring di Kecamatan Kedungkandang seluas 41,25 hektare. Dengan rata-rata hasil 1 ton per hektare, potensi produksi total ditargetkan mencapai 71 ton dalam satu masa tanam.
“Kalau totalnya 71,25 hektare dikali 1.000 kilogram per hektare, hasilnya sekitar 71 ton untuk satu kali masa tanam di Merjosari dan Kedungkandang. Biasanya cabai bisa dipanen 10 sampai 12 kali dalam satu musim tanam dengan jarak antarpanen satu hingga dua minggu,” ujar Slamet.
Slamet menambahkan bahwa penggunaan lahan sawah irigasi teknis untuk cabai di Kota Malang sangat dibatasi, yakni hanya sekitar 1.700 meter persegi. Hal ini dilakukan untuk menghindari risiko genangan air berlebih saat musim hujan yang dapat memicu busuk akar dan serangan jamur pada tanaman.
Meski memiliki potensi produksi puluhan ton, Slamet mengakui bahwa hasil panen lokal belum memadai untuk memenuhi seluruh kebutuhan masyarakat Kota Malang. Pasokan pasar saat ini masih disokong dari daerah produsen sekitar seperti Besuki, Probolinggo, Jember, Lumajang, dan Banyuwangi, di mana harga cabai di pasaran berkisar antara Rp50 ribu hingga Rp60 ribu perkilogram. (Fit/A.Y)
- Penulis: Fitri



