Sawah Warga Terancam Hama, Kelompok KKN 179 UMM Lakukan pengasapan Tikus Bersama Petani Bangelan
- account_circle redaksi
- calendar_month Kamis, 20 Agt 2026
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Kab. Malang | ADADIMALANG.COM — Salah satu tantangan yang dihadapi petani saat akan panen adalah adanya hama yang dapat mengurangi hasil ataupun menggagalkan panen padi yang telah ditanam oleh para petani.
Mengetahui tantangan tersebut, para mahasiswa dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang tergabung dalam kelompok 179 yang tengah melaksanakan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Berdampak di desa Bangelan, kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang ini berusaha melakukan upaya antisipasi dan penanganan hama tikus yang kerap muncul menjelang panen tersebut.
Upaya yang dilakukan para mahasiswa bersama para petani adalah dengan melakukan pengasapan belerang dimana upaya tersebut mulai menunjukkan hasil positif di lahan pertanian warga desa Bangelan.
Pengasapan belerang itu disebut menjadi salah satu langkah untuk menekan populasi tikus yang beberapa tahun terakhir sangat berdampak pada hasil panen petani. Berdasarkan keterangan petani setempat, hama tikus mulai menjadi persoalan serius sejak tahun 2024, dimana sebelumnya kondisi pertanian relatif aman dari serangan hama tersebut. Meningkatnya populasi tikus kemudian berdampak pada tanaman padi hingga hasil panen yang menurun kurang dari separuh dibandingkan kondisi sebelumnya.
Salah satu petani desa Bangelan yakni Umar, menjelaskan bahwa meningkatnya populasi tikus tersebut berkaitan dengan berkurangnya predator alami di lingkungan sekitar seperti ular, burung hantu, dan kucing hutan yang semakin jarang ditemukan.
“Dulu masih banyak predatornya, seperti ular dan burung hantu. Sekarang sudah jarang. Jadi tikusnya semakin sulit dikendalikan,” jelas Umar.
Upaya dari Dinas Pertanian untuk membantu mengembalikan keberadaan predator alami juga telah dilakukan melalui pembuatan rumah burung hantu. Namun, hingga kegiatan KKN dilakukan rumah tersebut belum ditempati oleh burung hantu sehingga belum memberikan dampak yang signifikan terhadap pengendalian populasi tikus.
Pengasapan menggunakan belerang dipilih karena metode tersebut bukan hal baru bagi petani Desa Bangelan dan dinilai cukup efektif untuk mengurangi keberadaan tikus di lahan pertanian.
“Kalau pengasapan belerang sebenarnya sudah pernah dilakukan. Hasilnya cukup bagus. Yang penting itu dilakukan bersama-sama, jangan hanya beberapa orang,” ungkapnya.
Menurutnya, kekompakan petani menjadi salah satu faktor penting dalam keberhasilan pengendalian hama karena jika hanya sebagian lahan yang dilakukan pengasapan maka tikus masih dapat berpindah ke area lain sehingga hama tikus tidak dapat terkurangi.
Setelah kegiatan pengasapan dilaksanakan menunjukkan adanya perubahan pada kondisi sawah dimana tanaman padi yang sebelumnya kerap dicabut atau dirusak tikus juga semakin jarang ditemukan.
“Setelah diasapi, tikusnya sudah mulai berkurang. Biasanya ada tanaman padi yang dicabut tikus, sekarang sudah tidak sebanyak sebelumnya,” ujarnya.
Meski demikian, hasil tersebut belum dapat dianggap sebagai solusi jangka panjang karena populasi tikus berpotensi kembali meningkat ketika tanaman mulai berbuah dan tersedia lebih banyak sumber makanan. Oleh sebab itu, pengasapan kembali akan dilakukan apabila mulai terlihat tanda-tanda peningkatan populasi, terutama ketika mendekati masa panen.

Sementara itu dari sisi pelaksanaan, keterbatasan peralatan dan bahan masih menjadi kendala. Saat ini, petani memiliki sekitar lima kompor untuk kegiatan pengasapan, sedangkan bahan belerang juga tidak selalu mudah diperoleh. Kondisi tersebut menjadi tantangan ketika penanganan harus dilakukan pada area persawahan yang cukup luas.
“Kalau dari segi biaya sebenarnya tidak terlalu besar, tetapi alat dan tenaganya yang terbatas. Sawah yang harus ditangani juga cukup luas,” kata Umar.
Keterlibatan petani dalam kegiatan juga masih menjadi tantangan, karena dari sekitar 60 petani yang berada di wilayah tersebutthanya sekitar 10 orang yang mengikuti kegiatan pengasapan sementara yang lainnya sedang melakukan pekerjaannya yang lain.
Berbagai tantangan dan kendala yang ada kemudian dicoba dipecahkan oleh mahasiswa Kelompok 179 KKN Berdampak UMM dengan berupaya mengambil peran dalam membantu menggerakkan petani untuk melakukan pengendalian hama secara bersama-sama.
“Awalnya kami melihat bahwa hama tikus menjadi salah satu persoalan yang cukup dikeluhkan oleh petani. Karena itu, kami berupaya untuk membantu petani desa Bangelan dalam melakukan pengendalian hama secara bersama-sama agar penanganannya dapat lebih opimal,” ujar Rakha Virlo Ramadhan, Ketua Kelompok 179 KKN Berdampak UMM.

Sementara itu Ketua Kelompok Tani yakni Muhajir menjelaskan bahwa penggunaan belerang, umpan makanan, hingga metode yang dikenal dengan istilah “digempur” yakni mmenutup lubang-lubang yang menjadi sarang tikus telah dilakukan oleh para petani.
“Bisa pakai belerang atau umpan makanan. Kalau digempur itu lubang tikusnya dicari kemudian digali, tetapi menjadi pekerjaan rumah lagi untuk memperbaiki pematang sawah. Cara-cara seperti itu bisa dilakukan tanpa merusak tanaman,” jelas Muhajir.
Menurutnya, penanganan secara berkelanjutan diperlukan karena serangan tikus dapat memberikan dampak besar terhadap hasil pertanian. Dalam kondisi tertentu, tanaman padi dapat rusak hingga petani tidak memperoleh hasil panen.
“Kalau tikusnya banyak, tanaman bisa habis dimakan. Bahkan kalau sudah parah, bisa sampai gagal panen,” ungkapnya.
Keberadaan predator alami seperti ular sebenarnya memiliki peran dalam mengendalikan tikus secara alami, namun karena warga merasa khawatir risiko tergigit ular maka keberadaan ular juga semakin jarang ditemui. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pengendalian hama tikus tidak hanya membutuhkan metode pemberantasan, tetapi juga upaya menjaga keseimbangan ekosistem pertanian.
Melalui kegiatan tersebut, Mahasiswa Kelompok 179 KKN Berdampak UMM turut berperan dalam menggerakkan masyarakat untuk melakukan penanganan hama tikus secara bersama-sama.
“Kami ingin Masyarakat dapat melanjutkan dapat melanjutkan upaya pengendalian dengan kompak ketika populasi tikus Kembali meningkat, sehingga penangaanannya bisa dilakukan lebih cepat dan berkelanjutan,” ungkap Rakha Virlo Ramadhan. (Red)
- Penulis: redaksi



