Empat Akademisi Resmi Dikukuhkan Jadi Guru Besar UM, Bawa Gagasan Inovatif dari Seni Hingga Big Data
- account_circle redaksi
- calendar_month Kamis, 8 Okt 2026
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Kota Malang | ADADIMALANG.COM — Universitas Negeri Malang (UM) kembali menambah deretan pakar di bidang akademis. Sebanyak empat dosen terbaiknya resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar di Gedung A-19 lantai 9 Kampus UM hari ini, Kamis (08/10/2026).
Empat akademisi yang menerima gelar tertinggi tersebut adalah Prof. Dr. Pujiyanto, M.Sn. (Guru Besar Fakultas Sastra), Prof. Dr. Raden Bambang Sumarsono, S.Pd., M.Pd. (Guru Besar Fakultas Ilmu Pendidikan), Prof. Dr. Imam Agus Basuki, M.Pd. (Guru Besar Fakultas Sastra), dan Prof. Dr. Ir. Triyanna Widiyaningtyas, M.T. (Guru Besar Fakultas Teknik).
Dalam prosesi pengukuhan yang penuh khidmat ini, masing-masing Guru Besar menyampaikan orasi ilmiah yang menyoroti berbagai isu strategis dan pemikiran inovatif di bidangnya.
Ilustrasi Gen Z: Seni Visual Berdaya Persuasif bagi Generasi Muda
Mengangkat judul orasi “Kreativitas Generasi Z: Metafora Karya Ilustrasi Hasil Ajang Talenta Nasional Sebagai Media Persuasif Pada Anak Sebayanya”, Prof. Dr. Pujiyanto, M.Sn. menekankan pentingnya karya seni visual cerita bergambar sebagai alat komunikasi efektif.
Ia menjelaskan bahwa karya ilustrasi diciptakan untuk memperjelas pesan tulisan melalui kekuatan gambar. Agar mampu menarik perhatian, sebuah media persuasif membutuhkan keistimewaan berita yang hangat, karakter familiar, serta gaya visual yang tidak terbatas ruang dan waktu.
“Dalam perkembangannya, karya ilustrasi dapat dijadikan media persuasif sebagai alat menyampaikan pesan dari komunikator kepada komunikan. Agar media persuasif dapat menarik pandang dari sisi visual maka diperlukan gaya visual, karakter, familiar, memiliki keistemewaan berita yang hangat hingga ditampilan secara visual dalam ilustrasi yang tidak terbatas ruang dan waktu,” ungkap Prof. Pujiyanto.
Dosen Fakultas Sastra ini menyoroti bagaimana Generasi Z mengolah daya cipta mereka sesuai dunia anak-anak. Penggunaan warna lembut dan ceria, seperti paduan biru muda dan oranye, sangat mencerminkan sifat khas anak. Sentuhan teknologi komputer pun mempertegas ketajaman garis dan bidang pada karya mereka.
“Selain itu ketertarikannya juga terletak pada tema atau issue, objek, warna, dan tekniknya. Dalam segi warna lebih mengarah pada karakter anak yang lembut dan ceria, yang dipadukan antara warna biru muda dengan warna orange yang menunjukkan sifat anak-anak yang lembut dan ceria. Dalam segi teknis, pengerjaan karya dilakukan melalui teknologi komputer sehingga hasilnya lebih jelas, kuat, tegas yang terasa pada unsur garis dan bidang,” tambahnya.
Transformasi Tata Kelola Sekolah: Bangun Kepercayaan Publik dan Transparansi
Di panggung orasi yang sama, Prof. Dr. Raden Bambang Sumarsono, S.Pd., M.Pd. menyampaikan gagasan bertajuk “Kepercayaan Sebagai Fondasi Partisipasi: Transformasi Tata Kelola Sekolah Menuju Pendidikan Yang Akuntabel Dan Responsif”. Penelitiannya berangkat dari keresahan para wali murid yang kerap merasa tidak terakomodasi dalam perencanaan sekolah.
Ia menegaskan pentingnya disiplin manajemen yang merancang relasi harmonis antara sekolah, keluarga, dan masyarakat melalui transparansi tata kelola.
“Dengan demikian maka akan menghasilkan keterlibatan yang bukan sekadar “kehadiran fisik” atau “bantuan material”, tetapi lebih bermakna, berkeadilan, dan berdampak langsung pada mutu pendidikan,” terang Prof. Raden Bambang.
Menurutnya, tata kelola yang terbuka dan responsif akan mengubah posisi masyarakat dari sekadar penerima layanan pasif menjadi mitra strategis yang memiliki suara dalam pengambilan keputusan.
“Pergeseran paradigma ini sangat relevan karena tata kelola sekolah modern berhadapan dengan tiga tantangan utama, yaitu: tuntutan akuntabilitas publik, kebutuhan transparansi informasi, serta pentingnya partisipasi substantif orang tua. Dalam praktiknya, partisipasi yang hakiki sering kali terhambat bukan karena ketidakpedulian masyarakat melainkan karena lemahnya arsitektur tata kelola, terbatasnya akses informasi yang akurat, serta belum terbangunnya kepercayaan yang kokoh terhadap institusi,” pukasnya.
Mengembalikan Hakikat Pembelajaran Bahasa Indonesia
Sementara itu, Guru Besar dari Departemen Sastra Indonesia, Prof. Dr. Imam Agus Basuki, M.Pd., membawakan orasi berjudul “Mengembalikan Pembelajaran Bahasa Indonesia Pada Khitahnya Sebagai Sarana Berkomunikasi Dan Berpikir”. Ia menyoroti berbagai dinamika dan tantangan yang dihadapi dalam pengajaran bahasa saat ini.
“Dalam perjalanannya, pembelajaran bahasa Indonesia mengalami perkembangan dan tantangan yang beragam. Perkembangan dan tantangan tersebut terjadi karena hadirnya teori baru, kebijakan baru, tren baru, teknologi baru, atau karena penyederhanaan pembelajaran,” jelas Prof. Imam.
Ia mengingatkan para pendidik agar menyikapi kehadiran pembelajaran berbasis teks secara bijak. Jika tidak difahami secara menyeluruh, fokus pengajaran bisa bergeser dari esensi utamanya. Begitu pula dengan penerapan model pembelajaran modern seperti Problem-Based Learning (PBL) dan Project-Based Learning (PjBL).
“Selain itu hadirnya pendekatan dan model pembelajaran baru seperti PBL dan PjBL, juga harus disikapi secara arif. Jika tidak, guru akan fokus mementingkan langkah-langkah pembelajaran dibandingkan dengan membelajarkan keterampilan berbahasa. Misalnya, karena pembelajaran pada umumnya diakhiri dengan presentasi, guru cenderung memberikan penilaian pada kondisi presentasi. Padahal, niat awal guru adalah membelajarkan membaca,” tegasnya.
Peran Data Mining dalam Menyaring Informasi di Era Big Data
Menutup rangkaian orasi ilmiah, Guru Besar Fakultas Teknik, Prof. Dr. Ir. Triyanna Widiyaningtyas, M.T., memaparkan materi berjudul “Peran Data Mining Dalam Pengembangan Sistem Rekomendasi Cerdas Di Era Big Data”.
Ia menjelaskan konsep dasar Big Data yang ditandai oleh prinsip 5V: Volume (ukuran besar), Velocity (kecepatan tinggi), Variety (keanekaragaman jenis), Veracity (kualitas yang dipenuhi dinamika noise), dan Value (nilai ekonomi yang tinggi).
“Big Data merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan kumpulan data sangat besar dan kompleks untuk dianalisis dan diproses menggunakan teknik dan metode tradisional. Ciri Big Data bukan hanya besar, tetapi juga terdapat 5V yakni Volume (datanya sangat besar), Velocity (datanya datang sangat cepat, real-time), Variety (datanya bermacam-macam, bisa dalam bentuk teks, gambar, suara, atau video), Veracity (kualitasnya meragukan, banyak noise dan hoaks), dan Value (nilai ekonominya luar biasa jika bisa diolah),” terangnya.
Prof. Triyanna juga menambahkan istilah Vexation atau kebingungan akibat terlalu banyaknya pilihan data, yang justru menyulitkan pengguna saat mengambil keputusan.
“Era big data ini telah mengubah cara manusia berinteraksi dengan informasi. Volume, kecepatan, dan keragaman data yang dihasilkan setiap detik menuntut adanya sistem yang mampu menyaring dan menyajikan informasi yang relevan secara personal. Oleh karena itu, peran Data Mining dan Recommender System menjadi sangat strategis dalam menangani ledakan data yang terjadi,” tutupnya. (Red)
- Penulis: redaksi



