Adadimalang.com

The Art of News

banner 728x90

Penggunaan Antibiotik masih tinggi, FAO dan Kementerian RI gelar sarasehan bersama peternak

Penggunaan Antibiotik masih tinggi, FAO dan Kementerian RI gelar sarasehan bersama peternak

Kota Malang – Dalam rangka meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menggunakan antibiotik yang bijak, setiap tahun diseluruh dunia pada pekan ketiga bulan November diperingati sebagai Pekan Kesadaran Antibiotik Sedunia (World Antibiotik Awarness Week / WAAW) yang tahun ini jatuh pada tanggal 12-18 November 2018.

Terkait dengan peringatan Pekan Kesadaran Antibiotik tersebut, untuk tahun ini FAO Indonesia bersama dengan Kementerian Pertanian dan Yayasan Orang Tua Peduli (YOP) serta pemangku kepentingan lain menggelar Sarasehan Peternak dengan tema ‘beternak lebih sehat dan tetap produktif di era bebas AGP – antibiotics growth promoter sebagai kontribusi pengendalian resistensi antimikroba’ di kota Malang pada siang hari ini, Jumat (16/11).

Kegiatan sarasehan yang dilaksanakan di Hotel Shantika kota Malang tersebut diikuti oleh para peternak di Jawa Timur yang tergabung dalam Pinsar Petelur Nasional (PPN) Cabang Jawa Timur, Pinsar Indonesia Cabang Jawa Timur dan Paguyuban Peternak Rakyat Nasional (PPRN) serta Komunitas Peternak Ayam Indonesia yang menyatakan dukungan terhadap upaya pengendalikan resistensi antimikroba.

Selama  ini, peternak merupakan salah satu pengguna antimikroba seperti antibiotik yang cukup tinggi dan berkontribusi dalam mempercepat perkembangan dan penyebaran resistensi antimikorba atau antimicrobial resistance (AMR) kepada keluarga dan masyarakat. “Tapi saya sudah tidak pernah pakai antibiotik sebagai pemacu pertumbuhan di peternakan ayam broiler saya,” ujar Jarot peternak dari Malang.

Dalam paparan materinya, Kasubdit Pengawas Obat Hewan, Kementerian Pertanian drh Ni Made Ria Isriyanthi menjelaskan bahwa penggunaan antimikroba di sektor peternakan di Indonesia saat ini cukup mengkhawatirkan karena berdasarkan hasil survey penggunaan antimikroba (antimicrobial usage / AMU) yang dilakukan Kementerian Pertanian bersama FAO Indonesia pada tahun 2017 lalu di provinsi Jawa Barat, Jawa Timur dan Sulawesi Selatan yang merupakan sentra produksi unggas didapatkan hasil yang cukup mencengangkan yakni 81.4% peternak menggunakan antibiotik pada unggas untuk pencegahan, 30.2% peternak menggunakan antibiotik untuk pengobatan serta masih ada 0.3% yang menggunakan untuk pemacu pertumbuhan.

“Untuk itu melalui Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) nomor 14 tahun 2017 lalu pemerintah telah melarang penggunaan antibiotik sebagai pemacu pertumbuhan (Antibiotic Growth Promotor/AGP) pada pakan ternak yang efektif diberlakukan mulai bulan Januari 2018 untuk mengendalikan penggunaan antibitiok pada sektor peternakan, sekaligus mendorong para peternak menghasilkan produk yang sehat untuk masyarakat,” ujar drh Ni Made Ria Isriyanthi.

Sementara itu, Ketua Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia yakni drh  Tri Satya Putri Naipospos yang juga menjabat sebagai komisi ahli Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan menyampaikan bahwa pada tahun 2010 Indonesia merupakan negara di peringkat kelima pengkonsumsi antibiotik tertinggi di dunia.

“Tanpa adanya upaya pengendalian maka posisi kelima tersebut dapat menanjak menjadi posisi ke Empat pada tahun 2030 mengingat populasi ternak kita cukup tinggi, apalagi untuk unggas. Untuk mengganti AGP, peternak bisa menggunakan alternative lain seperti Probiotik, Prebiotik, Asam Organik, Minyak Esensial maupun Enzim. Namun yang terpenting peternak harus bisa menerapkan biosekuriti tiga zona dan beternak dengan bersih, termasuk melakukan vaksinasi dengan tepat agar unggas lebih sehat dan produktif, jauh dari penyakit dan infeksi. Antibiotik tetap boleh digunakan, tapi hanya untuk pengobatan dan diberikan oleh dokter hewan serta digunakan sesuai dengan petunjuknya,” pungkas drh. Ria Tri Satya Putri Naipospos.

Penggunaan antibiotik yang berlebihan atau tidak tepat pada hewan ternak ternyata akan membawa dampak kepada manusia yang mengkonsumsi hewan ternak yang telah resisten terhadap antibiotik. Hal tersebut disampaikan oleh dr. Harri Parathon dari Komite Pengendali Resistensi Antimikroba (KPRA) Kementerian Kesehatan yang menyampaikan bahwa para peternak harus berperan aktif dalam mengendalikan bakteri yang kebal terhadap obat antimikroba.

“Saat ini obat kolistin sebagai agen terakhir untuk memerangi bakteri yang resisten terhadap antibiotik terkuatpun ternyata telah banyak dilaporkan tidak efektif lagi. Karena semakin sering kita minum antibiotik, bakteri makin bermutasi dan menjadi ganas. Demikian juga pada produk unggas yang dapat menyimpan residu lalu masuk ke tubuh manusia ketika dikonsumsi. Dan itu berbahaya,” ujar Dr. Harri Parathon.

Selain melaksanakan sarasehan peternak, kegiatan Pekan Kesadaran Antibiotik juga akan melaksanakan Kuliah Umum di Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Brawijaya pada esok hari, Sabtu (17/11). (A.Y)

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan