Kota Malang | ADADIMALANG.COM — Partai Solidaritas Indonesia (PSI) membuat gebrakan yang tak terduga dalam Kongres mereka di Solo. Selain mengukuhkan kepengurusan, partai yang selama ini lekat dengan citra politisi muda ini secara resmi memperkenalkan identitas baru: logo anyar mereka. Jika sebelumnya PSI dikenal dengan lambang tangan menggenggam mawar merah, kini mereka memilih gajah dengan perpaduan warna merah dan hitam sebagai simbol perjuangan.

Perubahan logo ini ternyata tak hanya menarik perhatian dari sisi estetika visual. Dalam kacamata komunikasi politik, identitas baru PSI yang kini kembali dipimpin oleh Kaesang Pangarep ini menyimpan makna yang mendalam.

Verdy Firmantoro, seorang Dosen Komunikasi Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya (FISIP UB), melihat perubahan logo PSI dari Mawar Merah menjadi Gajah Merah Hitam sebagai strategi simbolik yang cerdas. Menurutnya, ini menunjukkan pergeseran identitas, penempatan posisi politik, dan penataan ulang narasi kekuasaan yang sedang diusung PSI.

“PSI dengan mawar pernah menandai diri sebagai partai anak muda, antikorupsi, dan mewakili idealisme ‘baru’. Namun, berubah ke simbol gajah yang secara historis dalam simbolisme politik diasosiasikan dengan kebesaran, memori yang kuat, dan dan stabilitas kekuasaan,” jelas Verdy.

Lebih lanjut, Verdy menyoroti makna simbolis gajah dalam budaya India dan Asia Tenggara. Ia menjelaskan bahwa gajah kerap muncul sebagai penanda legitimasi kekuasaan dan otoritas politik kerajaan.

“Ini menandai pergeseran narasi dari aktivisme moral, tapi ingin menjadi pusat kekuatan. Dalam budaya India juga Asia Tenggara, Gajah muncul dalam simbol-simbol sebagai penanda legitimasi kekuasaan dan otoritas politik kerajaan. PSI sedang mengubah posisi komunikasinya dari partai milenial ke partai yang siap memimpin, menampilkan kekuatan strategis,” ungkap Verdy.

Menariknya, Verdy juga membaca perubahan logo ini sebagai pesan politik yang lebih gamblang. “Setidaknya ini juga memberi pesan politik bahwa proyeksi utama PSI ingin menjadi lawan tanding PDIP (Gajah vs Banteng). Jika logo mawar terlalu ‘lembut’ untuk realitas politik Indonesia yang keras, maka Gajah diposisikan untuk menyesuaikan diri dengan gaya politik baru yang lebih kuat,” ujarnya.

Strategi political branding ini, menurut Verdy, bukan sekadar perubahan visual, melainkan juga perubahan citra keseluruhan. PSI yang sebelumnya menempatkan diri sebagai “hero” (pembela rakyat, antikorupsi, muda), kini ingin dipercaya sebagai pemimpin, bukan hanya pengkritik. Dalam konteks political branding, partai politik yang ingin “naik kelas” berupaya meninggalkan “minority image” dan mengadopsi “mainstream identity”.

Verdy menambahkan, “Meskipun dalam hal PSI bisa dimaknai secara simbolik ini sebenarnya kehilangan sebagian basis ideologis awal demi sejalan dengan kepentingan kekuasaan yang lebih besar.”

Perubahan logo ini juga bisa dibaca sebagai bagian dari branding elektoral jangka panjang untuk Pemilu 2029. Dengan elektabilitas yang masih rendah, PSI membutuhkan diferensiasi, tidak hanya dari isu, tetapi juga dari simbol.

“Dengan mengubah logo menjadi gajah, PSI juga mengirim sinyal kepada pemilih baru bahwa mereka telah bertransformasi dari underdog menjadi lebih matang dalam berkontestasi politik,” ujar Verdy.

Lebih jauh, Verdy Firmantoro melihat rebranding politik PSI ini sebagai penanda ruang politik baru bagi mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) pasca keluar dari PDIP. PSI, dengan identitas barunya, disebut Verdy sebagai bentuk dukungan politik dan simbol kendaraan kekuasaan yang siap menampung pengaruh Jokowi di era pemerintahan Prabowo-Gibran.

“Upaya reposisi PSI ini menarik, tetapi tetap harus diikuti dengan narasi dan aksi politik yang konkret untuk diuji di ruang publik,” pungkas Verdy Firmantoro. (Red)