Kota Malang | ADADIMALANG.COM — Upaya menyiapkan talenta digital di bidang kecerdasan buatan terus diperkuat. Melalui Pusat Pengembangan Talenta Digital, Kementerian Komunikasi dan Digital kembali menggelar program Artificial Intelligence Talent Factory yang mulai berlangsung mulai hari ini, Rabu (11/03/2026).
Program yang memasuki batch kedua ini kembali digelar di Universitas Brawijaya (UB) dimana pelaksanaan AITF tahun ini merupakan kelanjutan dari program serupa yang sebelumnya sukses digelar di kampus tersebut pada tahun lalu.
Ditemui di sela-sela kegiatan, Kepala Pusat Pengembangan Talenta Digital Komdigi, Dr. Eng. Said Mirza Pahlevi mengatakan ada sejumlah perubahan signifikan dalam pelaksanaan AITF tahun ini, terutama dari sisi jumlah peserta.
“Yang pertama jumlah pesertanya meningkat drastis, kalau tahun lalu hanya 34 orang tetapi kali ini sudah 98 peserta,” ungkap Said Mirza.
Tidak hanya jumlah peserta yang meningkat, jumlah perguruan tinggi yang terlibat juga bertambah. Jika pada pelaksanaan pertama Komdigi hanya bekerja sama dengan Universitas Brawijaya sebagai tuan rumah, kini dua perguruan tinggi lain turut bergabung.
“Untuk pelaksanaan kali ini selain UB ada juga Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) dan juga Universitas Gadjah Mada (UGM), sehingga jumlah pesertanya juga bertambah banyak,” ungkap Said Mirza.

Ia menjelaskan, Komdigi sebenarnya merencanakan pelaksanaan AITF dua kali dalam satu tahun mengikuti periode semester akademik. Namun pada tahun ini jumlah pelaksanaannya bertambah.
“Di tahun ini ada tiga kali pelaksanaan, dan tentu kami berharap untuk yang semester depan jumlahnya akan bertambah lagi mengingat saat ini sudah ada beberapa universitas baik negeri dan swasta yang memang tertarik untuk bergabung,” kata Mirza.
Ditanya hasil evaluasi dari pelaksanaan AITF perdana di Universitas Brawijaya pada tahun sebelumnya, Said Mirza memaparkan bahwa program tersebut telah menghasilkan output yang mulai dimanfaatkan dalam penanganan kasus judi online.
“Model AI yang dibuat dapat mendeteksi secara cepat dan masif situs judi, sehingga akan lebih cepat untuk melakukan penghilangan situs-situs yang dapat mengganggu masyarakat kita terutama yang terkait dengan judi online yang banyak berkembang saat ini,” ungkap Mirza.
Ia menegaskan bahwa AITF dirancang untuk menjembatani kebutuhan antara kemampuan yang diperoleh mahasiswa di perguruan tinggi dengan keterampilan yang dibutuhkan oleh industri digital.
“Oleh karena itu kami akan selalu melihat sejauh mana perkembangan AITF ini, sehingga dilakukan update kurikulum, update konten, update pelatihan yang dilakukan agar kualitasnya lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya,” pungkas Kepala Pusat Pengembangan Talenta Digital, Said Mirza Pahlevi. (A.Y)
