Cegah Kerugian Tersembunyi, Dosen FEB UB Perkenalkan Activity Based Costing Pada Peternak Sapi Perah Pujon
- account_circle redaksi
- calendar_month Sabtu, 11 Jul 2026
- visibility 13
- print Cetak

Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat FEB Universitas Brawijaya, Prof. Dr. Aulia Fuad Rahman, S.E., M.Si., Ak., saat menyampaikan paparan materinya kepada para peternak di Pujon (Foto : Ist)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Kota Malang | ADADIMALANG.COM — Biaya kecil yang keluar berulang kali dari kandang bisa saja luput dari perhatian peternak. Padahal, jika dikumpulkan, pengeluaran untuk pakan tambahan, obat obatan hingga kebutuhan air dapat memengaruhi besarnya biaya produksi.
Hal tersebut menjadi salah satu hal yang menjadi perhatian dan dibahas dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya (FEB UB) saat mendampingi kelompok peternak sapi perah di wilayah Pujon, hari ini, Sabtu (11/7/2026).
Melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM), tim yang diketuai Prof. Dr. Aulia Fuad Rahman, S.E., M.Si., Ak., ini mengajak para peternak di wilayah desa Pandesari ini dapat melihat kembali cara mereka menghitung biaya usaha. Memperkenalkan metode Activity Based Costing (ABC) untuk membantu menghitung Harga Pokok Penjualan (HPP), diharapkan para peternak dapat mulai mengantisipasi terjadinya kerugian yang tidak disadari.
Kegiatan berlangsung dengan diskusi dan praktik langsung, dimana para peternak diajak membedah pengeluaran yang muncul dalam aktivitas sehari-hari di kandang, termasuk biaya yang selama ini mungkin dianggap sebagai pengeluaran biasa.
Dalam paparan materinya, Prof. Aulia Fuad menyebut sejumlah pengeluaran seperti pakan tambahan (Saeprofit), obat-obatan dan iuran air operasional perlu diperhitungkan ketika peternak ingin mengetahui biaya produksi secara lebih utuh.
“Dengan begitu maka para peternak akan belajar memecah total biaya operasional ke dalam pos-pos spesifik seperti proses pemerahan, nutrisi pakan, tes laboratorium, hingga pengemasan botol,” ungkap Prof. Aulia Fuad.
Selama ini, pencatatan biaya yang dilakukan pelaku usaha tidak selalu memisahkan pengeluaran berdasarkan aktivitas, dan melalui penggunaan metode Activity Based Costing ini maka para peternak diperkenalkan dengan cara membebankan biaya sesuai aktivitas yang dilakukan dalam proses produksi.
Pembahasan tersebut kemudian dilanjutkan melalui focus group discussion (FGD). Dalam forum ini, peternak bersama Prof. Aulia Fuad membedah alur operasional kandang dan ternak, sekaligus mencoba menghitung HPP berdasarkan kondisi usaha yang mereka jalankan.
Para peserta mengikuti proses tersebut dengan antusias. Bagi mereka, pembahasan tidak berhenti pada teori karena langsung dikaitkan dengan pengeluaran yang benar benar muncul dalam kegiatan peternakan sehari hari.
“Jadi kita berusaha membuka mata para peternak pada kondisi riil usaha yang selama ini luput dari perhatian. Dalam FGD ini kita bedah bersama alur operasional kandang dan ternak untuk melihat besaran modal yang sesungguhnya, dan akhirnya para peternak menyadari realita biaya produksi dengan pendekatan activity-based costing secara konkret,” ungkap pria yang menjadi pemateri utama tersebut.
Dari pembahasan itu, masyarakat peternak di Desa Pandesari mulai mendapatkan gambaran yang lebih jelas mengenai biaya yang harus ditanggung dalam menjalankan usaha. Perhitungan tersebut kemudian dapat menjadi dasar bagi peternak ketika menentukan harga jual produknya.

Kegiatan FGD kemudian dilanjutkan dengan rembug’an santai antara akademisi FEB UB dengan para peternak di desa Pandesari Pujon membahas berbagai hal (Foto : Ist)
Hal lain yang membuat kegiatan berlangsung cair adalah adanya ruang untuk berbincang di luar pembahasan teknis. Dalam suasana santai, para peternak dan akademisi FEB UB turut membicarakan berbagai persoalan yang mereka hadapi dalam menjalankan aktivitas peternakan sehari hari.
Pendampingan ini menjadi bagian dari kegiatan PkM FEB UB untuk membawa pengetahuan mengenai pengelolaan biaya usaha langsung pada persoalan yang dihadapi masyarakat desa Pandesari yang rata-rata juga merupakan peternak dalam kesehariannya. (Red)
- Penulis: redaksi



