September Hitam, FH UB Gelar Konferensi Internasional HAM Diikuti Mahasiswa Dari 4 Benua
- account_circle Agus Yuwono
- calendar_month Senin, 7 Sep 2026
- visibility 41
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Kota Malang | ADADIMALANG.COM — Di momen peringatan wafatnya tokoh Hak Asasi Manusia (HAM), Munir Said Thalib, Fakultas Hukum Universitas Brawijaya kembali menggelar konferensi internasional mahasiswa ke dua yang membahas tentang Hak Asasi Manusia mulai pagi hari tadi, Senin (07/09/2026).
Bekerjasama dengan beberapa lembaga yang concern bidang HAM, beberapa pemateri dihadirkan sebagai pemateri konferensi tersebut.
Ditemui di sela-sela pelaksanaan konferensi, Ketua Panitia ²nd ISCHR 2026, Cyndiarnis Cahyaning Putri, S.H., M.Kn., menyampaikan kegiatan konferensi internasional mahasiswa yang membahas tentang HAM tersebut merupakan agenda tahunan Fakultas Hukum Universitas Brawijaya.
“Jadi setiap tahun FH UB menyelenggarakan International Student Conference on Human Rights, dan ini memang diperlukan dengan target adalah mahasiswa dari berbagai negara, dimana pada tahun ini international outreach kita sudah mencapai empat benua, jadi mulai dari Asia, kemudian juga ada dari Afrika, dari South America, Europe dan tentunya dari Indonesia,” ungkap perempuan yang akrab disapa Cindy ini.
Dosen pengajar FH UB tersebut menjelaskan bahwa fokus pembahasan tahun ini menyoroti berbagai persoalan krusial yang tengah berkembang pesat di masyarakat dunia.
“Untuk tahun ini kami mengambil temanya memang berkaitan dengan isu-isu hak asasi manusia seperti civic space, kemudian ada environmental rights, kemudian juga terkait dengan hak lain-lainnya yang dirasa pada saat ini masih menjadi isu yang layak untuk dibahas. Pada hari ini tanggal 7 September ini merupakan petingatan hari kematiannya Almarhum Munir, sehingga memang kami menyelenggarakan konferensi ini pada tanggal ini untuk memperingati kematian tokoh HAM tersebut,”ujarnya.

Diikuti sekitar 60 peserta, konferensi yang berlangsung selama dua hari ini dibuka secara resmi oleh Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kewirausahaan UB, Dr. Setiawan Noerdajasakti. Dalam sambutannya, ia menggarisbawahi pentingnya pemahaman HAM dalam seluruh aspek kehidupan masyarakat. Termasuk pentingnya konferensi internasional tersebut dilaksanakan.
“Ini karena persoalan hak asasi manusia (human rights) itu merupakan suatu hal yang penting untuk dipahami oleh semua masyarakat. Human rights dalam berbagai aspek baik sosial, ekonomi, politik, dan sebagainya,” ungkap Noerdajasakti.
Akademisi yang juga merupakan dosen pengajar di Fakultas Hukum Universitas Brawijaya tersebut menekankan bahwa masyarakat umum harus terus meningkatkan pemahaman dan kesadarannya mengenai hak-hak mendasar sebagai warga negara. Dalam konteks pemahaman publik ini, mahasiswa memiliki posisi dan amanah yang sangat strategis sebagai salah satu garda terdepan untuk menyebarkan informasi ilmiah dan nilai-nilai keadilan tentang Hak Asasi Manusia.
“Mahasiswa sebagai insan-insan akademis yang berpengetahuan tentunya bisa diharapkan untuk memberikan pengetahuan tentang hak asasi manusia, mengingat dari waktu ke waktu hak asasi manusia itu mengalami perkembangan dan dinamika secara terus menerus. Sehingga sosialisasi itu sangatlah penting untuk dilakukan,” ungkap menurut pria yang akrab disapa Sakti tersebut.
Senada dengan hal tersebut, Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kewirausahaan FH UB, Dr. Muktiono, menegaskan bahwa keterlibatan anak muda sangat krusial dalam merespons dinamika penegakan HAM di era digital.
“Jadi kita terus melibatkan generasi muda dalam membincang tentang hak asasi manusia untuk membangun kesadaran teman-teman mahasiswa terkait dengan penegakan hak asasi manusia,” ungkap Wadek 3 FH UB.
Menurutnya, pemikiran kritis yang lahir dari ruang-ruang diskusi akademis ini diharapkan dapat menghasilkan karya tulis serta gagasan solutif dalam menghadapi tantangan HAM yang semakin kompleks
“Anak muda saat ini juga memiliki resource yang berbeda, potensi yang berbeda, sehingga konferensi ini juga memberikan wadah bagi mereka untuk menyampaikan aspirasi, pandangan, ide, kemudian pendapat dan perspektif mereka tentang Hak Asasi Manusia. Harapan kami, melalui tulisan-tulisan dan perdebatan mereka di ruang-ruang chamber dalam konferensi ini nanti akan ada sesuatu yang dihasilkan dan menjadi bacaan kita bersama dalam menghadapi tantangan asasi manusia yang semakin kuat dan semakin multi dimension tantangannya ini,” tutup Muktiono. (A.Y)
- Penulis: Agus Yuwono



