Kota Malang | ADADIMALANG.COM — Di tengah ramainya Jalan Terusan Ijen kota Malang, sebuah tempat unik mengundang rasa penasaran siapa saja yang melewatinya. Sebuah kafe yang bukan sekadar tempat ngopi, tapi juga menyimpan cerita masa lalu dalam balutan bunker peninggalan Belanda yang dibangun tahun 1930 lalu. Cafe Bunker Gedong Ijen bukan hanya tempat santai, melainkan ruang edukasi yang mengajak pengunjung untuk menyelami sejarah kolonial dengan cara yang berbeda.

Hal tersebut disampaikan Mohammad Haris Ishaq yang merupakan Pemilik sekaligus Pengelola cafe Bunker Gedong Ijen yang mengungkapkan kisah di balik penemuan bunker yang kini menjadi jantung kafenya. “Saat pertama kali menemukan bunker ini, saya terpikat oleh keunikan dan nilai sejarahnya. Bunker ini tercatat sebagai cagar budaya dan bahkan masuk dalam sertifikat hak milik. Ini sangat langka,” ujarnya penuh semangat.

Bunker yang dibangun pada era 1930-an ini ternyata terhubung dengan sejumlah bunker lain di Malang, seperti yang ada di Museum Brawijaya dan kawasan Tugu. “Setiap bunker berfungsi sebagai tempat persembunyian dan jalur pelarian, sehingga saling terhubung dalam satu jaringan misalkan saja terkoneksi ke bunker di Museum Brawijaya, kawasan Tugu hingga jalan Bandung,” jelas Haris.

Kini, bunker dengan luas sekitar 80 meter persegi telah berubah menjadi ruang makan yang nyaman, dengan enam ruangan dimana meski bersejarah tetapi berkat renovasi ambience dan infrastruktur di dalamnya membuat suasana di dalamnya tidak suram. Sentuhan renovasi dan penataan membuatnya tetap ramah bagi pengunjung yang ingin menikmati kopi sembari belajar sejarah.

Aturan ketat diberlakukan demi menjaga kelestarian bunker, seperti larangan merokok dan kegiatan yang dilakukan di dalam bunker akan terasa lebih berkualitas karena saat pengunjung masuk ke dalam bunker maka semua sinyal ponsel akan hilang agar tidak mengganggu suasana.

Haris menyampaikan rasa senangnya karena sejak coba dibuka ternyata Cafe Bunker Gedong Ijen mendapat banyak tanggapan positif, bahkan ada turis atau wisatawan dari luar kotanyang datang ke Malang hanyanuntuk datang ke Cafe Bunker dan ke Bromo.

“Wah saya sebagai pengelola merasa sangat senangnya. Selain itu banyak juga adik-adik pelajar yang datang dan jadi tahu tentang bunker dan sejarahnya khususnya yang di sini. Saya selaku pengelola juga berusaha semaksimal mungkin untuk menceritain sejarah bunker ini seperti apa kepada para pengunjjng,” jelas Haris.

Berada di jalan Terusan Ijen kota Malang, Cafe Bunker Gedong Ijen memang sejak awal dikonsep sebagai cafe edukasi yang menawarkan peninggalan sejarah berupa bunker.

“Saya juga menyiapkan para pegawai di cafe ini tentang literasi sejarah yang ada, sehingga para tamu yang datang juga akan mendapatkan penjelasan terkait bunker peninggalan Belanda ini. Memang ada ruangan atau jalur yang sengaja kita tutup dengan pagar besi (teralis) karena itu bisa tersambung ke beberapa bunker di lokasi lain. Dan itu dibenarkan oleh beberapa saksi mata yang masih hidup saat ini termasuk juru kunci yang memang pernah masuk ke dalamnya,” ungkap Haris.

Menu khas yang wajib dicoba adalah Sego Bunker, nasi dengan telur Barindo khas Padang yang dibuat tanpa persiapan akibat terdesak segera membuka cafenya akibat terlanjur viral.

“Sego Bunker ini buatnya juga tidak sengaja, saat melakukan pembersihan banker beberapa pegawai itu merekam video dan menguploadnya ke internet dan ternyata viral. Karena sudah terlanjur viral akhirnya kami memutuskan harus segera berjualan, padahal kami belum memiliki menu. Dan saat itu kami tiba-tiba saja terpikir membuat nasi bunker yaitu nasi dengan lauk telur dimana telurnya kita masak seperti telur Barindo khas Padang dan sambal. Selain itu kami menawarkan menu wstern dan tradisional,” ujar Haris.

Memiliki peninggalan sejarah sebagai salahsatu daya pikat pengunjung, ternyata masih ada masyarakat yang merasa ngeri atau takut untuk berkunjung karena mereka menduga areal cafe bunker hanya ada di dalam bunker saja.

“Kalau ada yang mau makan di dalam bunker ya akan kita antar ke lokasi, tetapi yang tidak berkenan di bunker ya bisa menikmati lokasi di atas bunker yang seperti cafe-cafe pada umumnya ini. Kalau di daerah lain ada yang seperti ini, tapi untuk bisa makan di dalam bunker order mereka minimal harus sekain juta. Tetapi di sini tidak seperti itu karena memang dikonsep sebagai lokasi edukasi sejarah,” tukas Haris meluruskan.

Mantan Wali Kota Batu, Dewanti Rumpoko yang turut hadir dalam Grand Opening Cafe Bunker Gedong Ijen ini menyampaikan dirinya sudah hampir 40 tahun hidup di kota Malang tetapi baru sekarang ini masuk ke dalam bunker yang ada di Jalan Terusan Ijen setelah menjadi Cafe saat ini.

“Ini luar biasa ya kalau dijadikan sebuah desinasi wisata dan edukasi sangat, karena saat ini orang-orang berburu sesuatu yang berbeda, yang unik dan orisinil. Ini sangat luar biasa, karena benar-benar peninggalan sejarah, jadi saya sangat salut yang mau menjadikan ini sebagai tempat kegiatan yaitu cafe untuk dapat mengenang situasi kondisi zaman dahulu. Semoga sukses ya,” pungkas Dewanti Rumpoko.

Owner dan Pengelola Cafe Bunker Gedong Ijen, Mohammad Haris Ishaq dan Dewi Utari saat memotong pita tanda Grand Opening Cafe Bunker Gedong Ijen (Foto : Agus Y)
Owner dan Pengelola Cafe Bunker Gedong Ijen, Mohammad Haris Ishaq dan Dewi Utari saat memotong pita tanda Grand Opening Cafe Bunker Gedong Ijen (Foto : Agus Y)

Grand opening yang berlangsung meriah ini juga dihadiri oleh berbagai tokoh penting dari Malang Raya serta perwakilan instansi yang diisi juga dengan penampilan fashion show dari komunitas difabel Pejuang Mimpi Malang. (A.Y)