Kota Malang, ADADIMALANG.COM – Kolaborasi erat antara insinyur, industri, dan perguruan tinggi menjadi kunci utama dalam mendorong pembangunan nasional. Harapan ini diungkapkan oleh Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah VII Jawa Timur, Prof. Dr. Dyah Sawitri, S.E., M.M., saat membuka workshop sinergi di Politeknik Negeri Malang (POLINEMA) pagi tadi.

Workshop yang bertajuk “Sinergi Insinyur, Industri, dan Pendidikan Tinggi untuk Reindustrialisasi Indonesia Yang Berdampak Dan Berkelanjutan” ini menekankan pentingnya peran ketiga pilar tersebut dalam mewujudkan kemajuan bangsa.

Bahkan Prof. Dyah Sawitri secara spesifik menyoroti kontribusi ketiga elemen tersebut terhadap pelaksanaan Asta Cita keempat Presiden dan Wakil Presiden RI.

“Harapannya dapat turut berkontribusi besar dalam mewujudkan Asta Cita keempat Presiden dan Wakil Presiden RI, yakni memperkuat pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM), Sains, Teknologi, Pendidikan, Kesehatan, Prestasi Olahraga, Kesetaraan Gender, serta Penguatan Peran Perempuan, Pemuda, dan Penyandang Disabilitas,” tutur Prof. Dyah Sawitri.

Prof. Dyah juga menegaskan para insinyur memiliki tanggung jawab besar untuk membawa dampak nyata dalam pembangunan sesuai dengan poin-poin Asta Cita tersebut.

“Semoga para insinyur akan benar-benar mampu berdampak pada pembangunan. Dan upaya mewujudkan itu dan juga menjadi tanggung jawab serta komitmen bersama, termasuk industri dan Pendidikan Tinggi yang pagi ini berkumpul di kampus POLINEMA,” tambahnya.

Setelah pembukaan workshop, Prof. Dyah Sawitri berharap Persatuan Insinyur Indonesia (PII) dapat menjadi agen perubahan yang proaktif dan mampu memberikan kontribusi signifikan untuk mewujudkan program Kampus Berdampak.

“Dengan memberikan kontribusi nyata itu, maka akan menjadi kekuatan menjadi PII yang inovatif dan kreatif sehingga akan dapat terus bertumbuh dan berkembang. Dengan begitu maka untuk mewujudkan Kampus Berdampak untuk Indonesia Emas melalui PII ini dapat dilakukan dengan komunikasi, koordinasi, dan kolaborasi yang baik dengan dunia industri, para praktisi, dan juga dengan pemerintah dan Perguruan Tinggi,” jelas Dyah Sawitri.

Prof. Dyah Sawitri menegaskan sinergi yang kuat antara seluruh elemen ini sangat krusial dalam mencapai visi Indonesia Emas. Peran insinyur sebagai agen perubahan menjadi fundamental, terutama dalam mendukung implementasi konsep Kampus Berdampak yang tengah digalakkan oleh pendidikan tinggi saat ini. (A.Y)