Kota Malang | ADADIMALANG.COM — Dalam rangka menyemarakkan tiga momentum penting bagi bangsa Indonesia, yakni Hari Pendidikan Nasional, Hari Kebangkitan Nasional, dan Hari Lahir Pancasila, Universitas Tribhuwana Tunggadewi (UNITRI) Malang melalui Pusat Studi dan Pengembangan Wawasan Kebangsaan (Pusdik Wasbang) menyelenggarakan acara bertajuk Pameran Kebhinekaan dan Wayangan, Sabtu (21/06/2025).

Mengangkat tema “Warisan Nusantara Menyulam Kebhinekaan Merajut Bangsa”, kegiatan ini menampilkan beragam kekayaan budaya Indonesia. Mulai dari sajian kuliner khas Jawa, koleksi senjata tradisional dari berbagai daerah, dokumentasi foto-foto pahlawan nasional dan pemimpin bangsa, hingga pameran kain tradisional yang merepresentasikan keberagaman budaya lokal.

Agustinus Ghunu, SE., M.MA., M.AP., selaku Kepala Pusdik Wasbang UNITRI, menjelaskan bahwa kegiatan ini digelar sebagai bentuk keprihatinan atas kian meredupnya pemahaman generasi muda terhadap warisan budaya bangsa sendiri.

“Mungkin karena pengaruh teknologi, generasi sekarang lebih banyak terpapar budaya luar. Melalui kegiatan ini, kami ingin mengajak anak muda untuk kembali merenungkan dan mengenali kembali jati diri bangsa lewat warisan budaya Nusantara,” ujar Agustinus Ghunu.

Ia menambahkan bahwa tema yang diusung bukan sekadar peringatan simbolik, melainkan ajakan untuk menyadari bahwa keberagaman adalah karunia dari Tuhan Yang Maha Esa.

“Bayangkan, kita sudah merdeka selama 80 tahun. Sejak 1 Juni 1945, Pancasila hadir sebagai pemersatu bangsa ini. Seperti kain tenun, jika hanya satu warna tentu akan membosankan. Justru dengan warna-warni, kain itu menjadi indah. Begitu pula Indonesia,” tuturnya.

Menurut Agustinus, keberagaman yang dimiliki bangsa ini seharusnya bukan menjadi sumber perpecahan, melainkan kekuatan yang menyatukan.

“Pendidikan seharusnya mampu menumbuhkan semangat nasionalisme. Pancasila bukan hanya dasar negara, tetapi juga titik temu dari segala perbedaan,” tambahnya.

Pameran ini turut dimeriahkan dengan berbagai agenda seperti pertunjukan musik nasional, peragaan busana kain tradisional dari berbagai daerah oleh para mahasiswa, serta lomba tari khas Jawa Timur.

Salah satu momen yang mencuri perhatian adalah antusiasme mahasiswa dalam mencoba kuliner khas Jawa Timur di salah satu stan makanan.

“Ini pertama kalinya saya mencicipi Lemet. Rasanya unik dan mengejutkan karena berbeda dengan makanan di daerah saya,” ungkap Lani, seorang mahasiswi pengunjung pameran.

Sementara itu, stan kain tradisional juga ramai dikunjungi. Banyak mahasiswa dari berbagai wilayah mencoba mengenakan kain khas daerah lain.

“Yang saya pakai ini sarung khas Manggarai. Saya berasal dari Sumba Barat, jadi saya ingin mencoba mengenakannya,” kata seorang pengunjung yang tidak ingin disebutkan namanya.

Sebagai penutup acara, digelar pertunjukan wayang oleh dalang Ki Dian Permana. Pentas tersebut mengangkat tema keberagaman dan menjadi momen puncak dari rangkaian acara Pameran Kebhinekaan dan Wayangan malam itu.

Kegiatan ini menjadi ruang perjumpaan budaya dan semangat nasionalisme yang dibungkus dalam ekspresi seni dan tradisi. Melalui langkah konkret seperti ini, UNITRI berharap dapat terus menjaga semangat persatuan dalam kebhinekaan. (A.Y)