Kabupaten Malang | ADADIMALANG.COM – Melihat masih minimnya pencapaian pada indikator pembangunan strategis, terutama dalam aspek ketahanan ekonomi, dosen dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya (FISIP UB) menggelar kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat di Desa Benjor, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang.
Kegiatan ini dirancang untuk membantu menyelesaikan tantangan ekonomi yang dihadapi warga desa melalui pendekatan yang mengedepankan inovasi partisipatif. Dosen FISIP UB, Wawan Sobari, S.IP., MA., Ph.D., menjelaskan bahwa indeks ketahanan ekonomi merupakan tolok ukur penting dalam menilai seberapa kuat suatu desa dalam menghadapi dinamika ekonomi yang terus berubah.
“Indeks Ketahanan Ekonomi ini memegang peranan penting dalam mencerminkan kemampuan desa dalam menghadapi tekanan dinamika ekonomi yang terus berkembang. Oleh karena itu, pengembangan inovasi desa diarahkan sebagai pendekatan sistematis dan partisipatif guna merangsang lahirnya ide-ide kreatif, solusi kontekstual, serta praktik-praktik adaptif yang berorientasi pada peningkatan kapasitas lingkungan dan ekonomi desa,” jelas Wawan saat berdiskusi dengan warga, Jumat (25/06/2025).

Melalui program bertajuk Pelatihan Inovasi Desa untuk Memperkuat Ketahanan Ekonomi dan Lingkungan Desa Berkembang, Wawan mengajak warga Benjor menggali potensi lokal dan membangun kemampuan kelembagaan. Pelatihan ini sekaligus menjadi bagian dari implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, dengan harapan mampu memperkuat daya saing ekonomi desa secara berkelanjutan.
“Dengan pengembangan tersebut maka tidak hanya memanfaatkan potensi lokal yang ada secara optimal, namun juga pada peningkatan kapasitas kelembagaan dan partisipasi masyarakat. Dengan demikian, diharapkan Desa Benjor mampu mewujudkan transformasi sosial-ekologis yang adaptif serta memperkuat daya saing ekonomi lokal berkelanjutan,” lanjutnya.
Dalam pelaksanaannya, Wawan menerapkan pendekatan Human Centered Design (HCD) yang mengutamakan pemahaman mendalam terhadap kebutuhan serta persoalan yang dihadapi masyarakat. Pendekatan ini dimulai dengan mendengarkan langsung suara warga melalui diskusi interaktif dan teknik partisipatif.
“Agar penyampaian informasi dan fakta dapat lebih efetif dan mudah digali kita sengaja menggunakan alat bantu berupa spidol dan kertas catatan sehingga tidak dapat diketahui narasumber yang menulis data atau fakta tersebut. Dengan begitu maka fakta yang disampaikan kita harapkan akan lebih valid dan mendekati kondisi riil di lapangan,” ujarnya.
Selama pelatihan, peserta diajak melalui lima tahapan dalam proses HCD: berempati, merumuskan masalah, menggagas ide, membuat prototipe, dan menguji solusi. Tahap awal dilakukan dengan observasi langsung serta wawancara empatik agar warga merasa nyaman dalam menyampaikan pandangannya.
“Sebagai warga masyarakat desa Benjor tentunya sangat memahami kondisi riil desanya beserta permasalahan yang dihadapi, khususnya dalam hal yang terkait ekonomi desa. Selain berusaha memahami melalui observasi langsung perilaku warga, wawancara empatik yang terasa seperti percakapan juga dilaksanakan untuk menggali akar masalah,” kata Wawan menjelaskan.
Pada tahapan menggagas, masyarakat diminta menuliskan tantangan yang dihadapi, harapan, dan ide-ide solusi dalam bentuk catatan tertulis. Ini menjadi bahan utama untuk menyusun program berbasis kebutuhan lokal.
“Kita akan mulai menyusun program dari permasalahan yang sudah dirumuskan tadi terkait bidang ekonomi dimana ada tiga prinsip penting yang harus kita pegang yakni program yang dibuat harus sesuai kebutuhan masyarakat, harus dapat dijalankan oleh masyarakat itu sendiri, dan harus berkelanjutan serta jelas siapa yang akan menjalankan,” ungkap Wawan.
Menurut Wawan, semua ide, termasuk yang terdengar tidak biasa, tetap akan dihimpun dan dikelompokkan berdasarkan peluang keberhasilan, daya tarik pengguna, serta relevansi jangka panjang. Proses ini ditutup dengan pembuatan simulasi melalui roleplay dan storyboard sebagai sarana untuk mendapatkan umpan balik yang membangun.
“Kami mendorong berbagai usulan atau ide dan solusi dapat disampaikan oleh masyarakat, bahkan ide atau solusi yang ‘nyleneh’ juga kami tampung dan sampaikan dimana ide-ide solutif masyarakat tadi kemudian kita kategorikan dari yang paling mungkin berhasil, yang paling mungkin digemari pengguna, dan ide jangka panjang serta kategori lainnya. Kemudian kita akan kerucutkan pada pembuatan solusi akhir melalui roleplay dan storyboards, untuk mendapatkan masukan yang berguna dari masyarakat,” jelasnya.

Melalui seluruh rangkaian ini, Wawan berharap warga Desa Benjor dapat membangun kemampuan untuk menemukan dan menerapkan solusi yang tepat atas persoalan ekonomi yang dihadapi.
“Berbagai ide yang kemudian menjadi solusi permasalahan tersebut di tahapan akhir akan kita uji untuk memperoleh umpan balik yang nyata dan mendalam dari warga masyarakat dengan simulasi lapangan. Dengan begini masyarakat akan langsung tahu bagaimana penerapan solusi yang telah dihasilkan, dan bagaimana efektifitas solusi tersebut,” pungkasnya.
Lebih lanjut, hasil pelatihan ini akan dituangkan ke dalam Dokumen Inovasi Desa, yang kemudian akan diintegrasikan ke dalam dokumen perencanaan resmi desa seperti Rencana Kerja Pemerintah Desa (RKPDes) dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDes).
Dengan penerapan pendekatan yang melibatkan warga secara langsung ini, diharapkan desa tidak hanya menjadi objek pembangunan, tetapi menjadi pelaku utama dalam menciptakan perubahan yang nyata di lingkungan mereka sendiri. (A.Y)
