Empower Academy Batch 2 resmi dimulai pagi tadi di kota Malang.
Kota Malang | ADADIMALANG.COM — Langkah nyata untuk mendorong kemandirian ekonomi bagi penyandang disabilitas kembali bergulir. Program inkubasi bisnis Empower Academy, yang secara khusus menyasar Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) milik wirausahawan difabel, resmi memasuki angkatan kedua di Kota Malang. Inisiatif yang digagas oleh Bentoel Group melalui program CSR Bangun Bangsa ini, berkolaborasi dengan Ngalup.co, dengan tujuan memperluas jangkauan dan dampak positif bagi para pelaku usaha disabilitas di berbagai daerah.
Pembukaan Empower Academy Batch 2, yang berlangsung di Main Hall Malang Creative Center (MCC), dihadiri oleh perwakilan dari Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan Kota Malang, serta Dinas Sosial Kota Malang. Program pendampingan intensif selama tujuh bulan ke depan ini akan diikuti oleh 30 pelaku UMKM difabel terpilih.
General Manager Ngalup.co, Irfan Rahmad, yang juga menjadi pelaksana program ini di Malang, menjelaskan bahwa kurikulum Empower Academy dirancang untuk menjawab tantangan utama yang dihadapi pelaku UMKM.
“Kami yakin para peserta memiliki keterampilan produksi yang luar biasa. Namun, yang perlu ditingkatkan adalah kemampuan promosi, terutama melalui digital marketing, aktivasi sosial media, dan SEO (Search Engine Optimization) di Google, agar produk mereka dikenal lebih luas,” ujar Irfan Rahmad usai acara pembukaan.
Dari total 30 peserta, 25 merupakan wajah baru, sementara 5 lainnya adalah alumni angkatan pertama yang kembali terpilih untuk mengikuti program lanjutan bernama ‘Hypercare’. Program ini bertujuan untuk memberikan pendampingan berkelanjutan dan memantau perkembangan bisnis yang telah menunjukkan kemajuan signifikan.
Irfan menambahkan bahwa seleksi peserta dilakukan dengan cermat. “Tidak ada kriteria disabilitas khusus. Kami sangat terbuka. Namun, kami melakukan kurasi ketat untuk memastikan peserta memiliki komitmen dan semangat kemandirian yang tinggi, karena program ini murni memberikan bekal keilmuan tanpa insentif uang saku secara langsung sama sekali selama pelaksanaan program. Jadi yang datang itu benar-benar memiliki tekad yang kuat untuk belajar.”

Aspek pendampingan dalam Empower Academy mencakup poin-poin krusial dalam dunia bisnis, mulai dari legalitas usaha seperti Nomor Induk Berusaha (NIB), sertifikasi halal, hingga pendaftaran merek (HAKI) untuk menghindari perselisihan di kemudian hari. Selain itu, para peserta juga dibekali strategi pemasaran digital, termasuk cara mengelola hubungan baik dengan pelanggan (customer relationship management) menggunakan aplikasi seperti WhatsApp yang kini menjadi kanal komunikasi utama bagi banyak usaha.
Keberhasilan program ini telah terbukti di angkatan pertama. Dian Widyanarti, Head of Corporate and Regulatory Affairs Bentoel Group, mengungkapkan kebanggaannya atas tingkat kelulusan yang mencapai 96 persen.
“Ini membuktikan komitmen kuat para peserta untuk berkembang. Empower Academy ini tidak hanya membantu pengembangan usaha, tetapi juga mendorong perubahan pola pikir. Di Batch 2 ini, kami berharap dapat memperluas dampak positif tersebut ke lebih banyak UMKM difabel di Indonesia,” ungkap Dian.
Fokus program Empower Academy dapat berbeda di setiap daerah. Di Malang, program ini fokus pada UMKM difabel, sementara di wilayah lain seperti Jawa Tengah dan Jakarta, Empower Academy menyasar masyarakat perdesaan, vokasional, hingga kelompok perempuan marjinal.
Kisah inspiratif datang dari Nur Khalifah, seorang alumni angkatan pertama yang terpilih untuk mengikuti tahap Hypercare. Nur, yang memiliki keterbatasan penglihatan, berbagi perjalanannya.
“Sebelum ikut Empower Academy, saya sering ragu dan tidak percaya diri. Kadang dalam seminggu tidak ada pelanggan sama sekali yang meminta saya pijat. Area layanan saya pun hanya sebatas tetangga di Sawojajar saja,” kenangnya.
Setelah mendapatkan pelatihan, Nur tidak hanya piawai mengelola keuangan dan pemasaran, tetapi juga difasilitasi untuk memperoleh NIB dan logo usaha. Dampaknya, usahanya kini berkembang pesat.
“Alhamdulillah, sekarang kepercayaan diri saya meningkat. Saya jadi tahu teknik pemasaran yang benar. Kini, saya bisa mendapat pelanggan hingga 80 orang dalam sebulan meminta saya pijat. Bahkan saya pernah mendapat panggilan sampai ke Dau. Semua berkat ilmu dan branding yang saya dapatkan di Empower Academy,” tuturnya bangga.
Cerita serupa juga diutarakan oleh Atik Tri Tatuningtyas, seorang disabilitas tunadaksa pemilik usaha jus bernama FrutaFrooty dari Kepanjen. Baginya, momen paling berharga adalah saat memahami pentingnya branding dan legalitas merek.
“Dulu nama usaha saya ‘JustJuice’, namun setelah ikut pelatihan dan mendaftarkan merek, ternyata nama itu sudah banyak digunakan. Akhirnya, kami melakukan rebranding total menjadi ‘FrutaFrooty’ dengan slogan baru. Ini adalah pelajaran yang sangat mahal,” jelas Atik.

Berkat pendampingan tersebut, usaha Atik yang semula hanya satu, kini telah berkembang menjadi tiga cabang. Ia mengakui, sebelum bergabung dengan Empower Academy, ia belum pernah menggunakan marketplace, dan kini merasakan perbedaan penjualan yang sangat signifikan. (A.Y)
