Kota Malang | ADADIMALANG.COM Tekanan inflasi di Kota Malang selama Juli 2025 tercatat tetap terkendali. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, inflasi bulanan berada di angka 0,12% (mtm), jauh lebih rendah dibanding bulan sebelumnya yang mencapai 0,38 persen (mtm). Sementara inflasi tahunan berada di level 2,24 persen (yoy), masih dalam rentang sasaran nasional sebesar 2,5.persen ± 1 persen.

Kondisi ini tak lepas dari peran aktif Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Malang yang terus memperkuat koordinasi dan sinergi lintas sektor. TPID ikut serta dalam berbagai agenda strategis, termasuk High Level Meeting (HLM) dan Rapat Koordinasi (Rakor) TPID Provinsi Jawa Timur bersama TPID se-Bakorwil III Malang pada 29 Juli 2025.

“Pertemuan tersebut menegaskan pentingnya kerja sama antardaerah dalam menjaga kestabilan harga melalui pendekatan 4K, yakni Keterjangkauan harga, Ketersediaan pasokan, Kelancaran distribusi, dan Komunikasi efektif,” jelas Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Malang, Febrina dalam siaran tertulisnya.

Sepanjang tahun hingga Juli 2025, TPID Kota Malang telah melaksanakan 19 kali Gerakan Pangan Murah, melakukan pemantauan harga kebutuhan pokok secara berkala, serta mengikuti rapat koordinasi mingguan bersama Kementerian Dalam Negeri guna memantau dan mengantisipasi potensi tekanan harga.

Kenaikan inflasi pada Juli ini sebagian besar dipicu oleh naiknya harga kelompok Pendidikan, terutama jenjang sekolah dasar, dengan andil sebesar 0,09 persen (mtm). Kenaikan ini berkaitan dengan awal tahun ajaran baru, yang kerap dimanfaatkan lembaga pendidikan untuk menyesuaikan tarif layanan mereka.

Komoditas lain yang turut mendorong inflasi adalah tomat (0,05 persen), beras (0,04 persen), bawang merah (0,04 persen), dan bensin nonsubsidi seperti Pertamax dan Dexlite (0,03 persen).
Menurut catatan BPS, kenaikan harga beras terjadi karena menurunnya pasokan dari produsen akibat meningkatnya harga gabah. Sementara harga tomat dan bawang merah naik akibat terbatasnya stok di tingkat pedagang yang disebabkan oleh faktor cuaca yang menghambat produksi hortikultura.

Harga BBM nonsubsidi juga mengalami penyesuaian pada Juli 2025, dengan kenaikan dalam kisaran 3 hingga 5 persen, menambah tekanan terhadap IHK Kota Malang.

Meski sejumlah harga komoditas naik, inflasi Kota Malang berhasil ditekan oleh deflasi yang terjadi pada beberapa barang. Beberapa sayuran seperti labu siam atau jipang menyumbang deflasi hingga 0,03 persen (mtm). Disusul oleh kacang panjang, selada, buncis, dan emas perhiasan yang masing-masing mencatatkan penurunan sebesar 0,02 persen (mtm).

Turunnya harga sayur-mayur ini disebabkan oleh melimpahnya pasokan di pasar. Sementara harga emas perhiasan mengalami penurunan seiring dengan normalisasi harga emas global.

Ke depan menurut Febrina, upaya pengendalian inflasi akan terus diperkuat melalui Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP).

“Kolaborasi antara Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, dan Bank Indonesia diharapkan dapat memastikan inflasi tetap dalam kisaran target yang telah ditetapkan, terutama menjelang momen-momen krusial seperti pergantian musim dan masa libur panjang yang rentan memicu lonjakan harga,” ujar Febrina.

Kota Malang menunjukkan bahwa sinergi dan koordinasi yang terjaga mampu menjadi benteng yang efektif menghadapi tekanan inflasi dari sisi domestik maupun eksternal. (Red)