Kota Malang | ADADIMALANG.COM — Hingga bulan Agustus 2025 ini, tekanan inflasi tahunan di Kota Malang masih terkendali. Kondisi ini tidak dapat dilepaskan dari koordinasi dan peran serta kerja sama yang kuat antara Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) serta berbagai pihak terkait.
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), Indeks Harga Konsumen (IHK) Kota Malang mengalami deflasi sebesar 0,07 persen (mtm) pada Agustus 2025. Padahal di bulan sebelumnya yakni Juli 2025 sempat terjadi inflasi 0,12 persen (mtm). Dengan capaian ini, inflasi tahunan Kota Malang berada di angka 2,13 persen (yoy) menunjukkan kondisi yang stabil dan terkontrol.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Malang, Febriana menyampaikan deflasi yang terjadi pada bulan Agustus lalu utamanya disebabkan oleh penurunan harga pada kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau.
Komoditas yang harganya turun drastis dan menekan inflasi adalah tomat, cabai rawit, telur ayam ras, bensin, dan sawi putih.
“Penurunan harga tomat dan cabai rawit terjadi karena panen raya, sedangkan harga bensin turun seiring penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi. Pasokan yang melimpah juga membuat harga telur ayam dan sawi putih menjadi lebih terjangkau,” ungkap Febrina dalam rilis tertulisnya.
Namun tidak semua harga komoditas turun, dan beberapa komoditas justru mengalami kenaikan harga, yang menahan deflasi agar tidak terlalu dalam. Komoditas yang mengalami kenaikan ini antara lain beras, biaya akademi/perguruan tinggi, emas perhiasan, daging ayam ras, dan pepaya.
Kenaikan harga beras terjadi karena pasokan dari produsen berkurang, sementara biaya pendidikan di akademi dan perguruan tinggi meningkat karena penyesuaian biaya operasional di awal tahun ajaran baru. Harga emas perhiasan naik seiring dengan kenaikan harga emas global, dan harga daging ayam ras serta pepaya naik karena tingginya permintaan masyarakat menjelang Maulid Nabi.
Untuk menjaga stabilitas harga, TPID Kota Malang melakukan berbagai upaya, seperti mengadakan pelatihan smart farming dan pelatihan membuat menu makanan sehat bersama Tim Penggerak PKK Kota Malang, menyelenggarakan lomba membuat resep makanan alternatif pengganti beras sebagai bagian dari Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP), mengadakan pasar murah di lima lokasi berbeda dan melakukan pemantauan stok dan harga bahan pangan pokok secara rutin, termasuk mengantisipasi peredaran beras oplosan.
Selain itu TPID juga rutin mengikuti rapat koordinasi mingguan bersama Kementerian Dalam Negeri.
Ke depannya, sinergi antara Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, dan Bank Indonesia melalui GNPIP dan program 4K (Keterjangkauan harga, Ketersediaan pasokan, Kelancaran distribusi, serta Komunikasi efektif) akan terus ditingkatkan.
“Tujuannya adalah untuk memastikan inflasi tetap terkendali dalam rentang target,” pungkas Febrina. (Red)
