Jakarta | ADADIMALANG.COM – Tantangan ekonomi di setiap daerah memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Di wilayah Malang Raya, isu pengangguran menjadi permasalahan cukup menonjol yang dihadapi. Data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan potret ekonomi beberapa wilayah di Jawa Timur, dengan Kota Malang, Kabupaten Malang, Kota Batu, Kabupaten Pasuruan, dan Kabupaten Probolinggo sebagai fokus utama.
Berdasarkan data yang ada selama tahun 2024 lalu, di wilayah kerja Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Malang diketahui tantangan yang ekonomi di berbagai daerah di Jawa Timur, dimana persoalan tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Kota Malang mencapai angka 6,10 persen menjadi yang tertinggi di antara wilayah Malang Raya lainnya dimana angka ini jauh di atas rata-rata Provinsi Jawa Timur yang berada di angka 4,19 persen. Namun, dari sisi pertumbuhan ekonomi dimana Kota Malang menunjukkan kinerja yang positif dengan angka 5,41 persen, melampaui pertumbuhan ekonomi Jawa Timur secara keseluruhan yang berada pada 4,93 persen.
“Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di kota Malang ada di angka yang cukup tinggi jika dikomparasikan dengan tingkat TPT di Jawa Timur. Namun ini juga memerlukan penelitian lagi siapa yang disebut dengan pengangguran ini, mengingat kota Malang sebagai kota pendidikan ini juga memiliki jumlah mahasiswa yang tinggi. Dan banyak yang setelah lulus kuliah belum kembali ke daerahnya,” ungkap Deputi Kepala Kantor Perwakilan BI Malang, Dedi Prasetyo.

Sementara itu, Kabupaten Malang mencatatkan TPT sebesar 5,13 persen, sedikit lebih rendah dari Kota Malang namun masih menjadi tantangan yang signifikan. Meskipun demikian, pertumbuhan ekonominya berada di 4,96 persen. Kondisi menarik juga terlihat di Kota Batu, yang memiliki tingkat pengangguran terendah sebanyak 3,63 persen dan pertumbuhan ekonomi yang kuat di angka 5,04 persen yang menunjukkan bahwa sektor pariwisata yang menjadi andalan kota Batu ini berperan besar dalam menyerap tenaga kerja. Data tersebut menunjukkan adanya disparitas tantangan ekonomi di masing-masing wilayah.
Hal ini menunjukkan bahwa meskipun pertumbuhan ekonomi secara umum baik, masih ada pekerjaan rumah yang besar untuk menekan angka pengangguran terutama di wilayah perkotaan seperti Kota Malang.
Sementara itu di wilayah Kabupaten Probolinggo memiliki tantangan yang berbeda, yakni tingkat kemiskinan yang sangat tinggi yakni 16,45 persen yang merupakan angka tertinggi di antara semua wilayah yang dianalisis dari data BPS tersebut.
“Meskipun demikian tingkat penganggurannya relatif rendah hanya 3,00 persen yang menunjukkan bahwa permasalahan ekonomi tidak selalu linier, di mana pertumbuhan ekonomi atau tingkat pengangguran yang rendah tidak selalu menjamin penurunan angka kemiskinan,” ungkap Dedi.
Sebagai perbandingan, Provinsi Jawa Timur secara keseluruhan memiliki Gini Rasio 0,37, TPT 4,19 persen, tingkat kemiskinan 9,79 persen, dan pertumbuhan ekonomi 4,93 persen. Angka-angka ini menjadi patokan untuk melihat seberapa besar tantangan yang dihadapi oleh masing-masing wilayah di dalamnya. Data tersebut menjadi bahan evaluasi penting bagi pemerintah daerah dan pemangku kepentingan untuk merumuskan kebijakan yang lebih tepat sasaran. (Red)
