Kota Malang | ADADIMALANG.COM — Di tengah gelombang digitalisasi, simbol kecintaan terhadap Rupiah kini mengambil wujud baru. Bukan hanya soal memegang lembaran uang kertasbyng secara fisik nampak, tetapi tentang bagaimana anak muda memanfaatkan teknologi untuk menegakkan kedaulatan ekonomi bangsa.

Hal ini disampaikan oleh Husein Ja’far Al Hadar, yang akrab disapa Habib Ja’far, dalam sebuah kuliah kebangsaan yng digelar oleh Bank Indonesia (BI) Malang berkolaborasi dengan Universitas Negeri Malang (UM) di Graha Cakrawala UM pagi tadi, Senin (29/99/2024).

Dalam sesi sharing, Habib Ja’far secara lugas menyebut QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) sebagai salah satu capaian strategis yang telah mengangkat martabat ekonomi Indonesia di kancah global. Habib Ja’far menyoroti bagaimana QRIS telah membuktikan keunggulan teknologi Indonesia di mata dunia.

“Orang tetap memilih QRIS dimana-mana, bahkan Amerika dan Trump sebagai preaudennya juga mulai khawatir dengan keberadaan QRIS saat ini. Ini adalah bukti kita mampu,” tegasnya di hadapan ribuan mahasiswa peserta Kuliah Kebangsaan.

Ciptakan Generasi Muda Berkualitas dengan semangat Cinta, Bangga dan Paham Rupiah, UM dan BI Malang gelar Kuliah Kebangsaan pagi tadi (Foto ; Agus Yuwono)
Ciptakan Generasi Muda Berkualitas dengan semangat Cinta, Bangga dan Paham Rupiah, UM dan BI Malang gelar Kuliah Kebangsaan pagi tadi (Foto : Agus Yuwono)

Pandangan Habib Ja’far meluas dari sekadar nilai ekonomi, ia mengaitkannya dengan nilai spiritual dan kebangsaan. Menurutnya, menguatkan Rupiah melalui inovasi seperti QRIS adalah sebuah aksi nyata yang bernilai tinggi.

“Mencintai rupiah adalah bentuk jihad kebangsaan yang bernilai pahala. Salah satu yang membuat Nabi Muhammad SAW itu menangis adalah saat beliau diusir dari Mekah karena cintanya pada bangsanta. Maka menjaga rupiah adalah wujud cinta tanah air sekaligus iman,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa meskipun bentuk uang terus berubah dari koin, kertas, hingga kini digital, namun esensi kecintaan pada Rupiah tetap abadi. Dulu kebanggaan tersemat pada lembaran uang, kini pada kode QRIS yang efisien. “Bentuknya bisa berbeda, tapi esensinya sama yaitu menjaga kedaulatan,” tambahnya.

Lebih dari 6.000 orang mahasiswa UM mengikuti kegiatan Kuliah Kebangsaan di Gedung Graha Cakrawala pagi tadi (Foto : Agus Yuwono)
Lebih dari 6.000 orang mahasiswa UM mengikuti kegiatan Kuliah Kebangsaan di Gedung Graha Cakrawala pagi tadi (Foto : Agus Yuwono)

Inovasi, kata Habib Ja’far, tidak hanya terbatas pada mesin atau software digital semata sehingga ia mengajak audiens untuk melihat seni, budaya, hingga kuliner sebagai bagian dari “teknologi sosial” yang memiliki potensi besar mendongkrak nama Indonesia di luar negeri.

Ia memberikan contoh yang menarik yakni kuliner. “Kita ini negara dengan jumlah sambal terbanyak di dunia. Itu teknologi budaya yang bisa jadi kekuatan ekspor. Semua berawal dari cinta rupiah dan kebanggaan terhadap identitas kita,” tuturnya.

Dalam konteks inilah peran pemuda menjadi sangat krusial, diman Habib Jafar mengutip pemikiran Ben Anderson dalam buku Revolusi dan Pemuda, bahwa anak muda selalu menjadi motor utama perubahan, sejak sebelum kemerdekaan hingga era reformasi. Bonus demografi yang dimiliki Indonesia hingga tahun 2045 adalah momen emas yang harus dimanfaatkan.

“Anak muda harus berada di garis terdepan, menciptakan produk-produk kreatif, berbasis sains, sosial, maupun budaya. Kalau produk kita diterima dunia, devisa masuk, rupiah menguat, dan bangsa ini dihargai,” kata Habib Ja’far.

Habib Ja’far menutup pandangannya dengan pesan kunci yakni cinta, paham, dan bangga terhadap Rupiah adalah fondasi yang kokoh untuk tidak hanya demi menjadikan Indonesia tuan rumah di negeri sendiri, tetapi agar bangsa Indonesia disegani dan dihargai di panggung global dari urusan pembayaran digital seperti QRIS hingga kekayaan budaya dan kuliner yang dimilikinya. (A.Y)