Kota Blitar | ADADIMALANG.COM —  Warisan diplomasi Presiden Pertama RI, Soekarno, dan semangat solidaritas Asia-Afrika kembali mengguncang panggung dunia. Dalam rangka memperingati 70 tahun Konferensi Asia Afrika (KAA) Bandung 1955, Megawati Institute menyelenggarakan Seminar Internasional bertajuk “Bung Karno In A Global History” di Museum Bung Karno, Blitar.

Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk merefleksikan kembali peran Indonesia dalam geopolitik global dan menegaskan kembali nilai-nilai pendiri bangsa di tengah tantangan zaman.

Presiden Kelima Republik Indonesia, Prof. Dr. (H.C.) Hj. Megawati Soekarnoputri juga turut hadir dalam seminar tersebut sebagai pembicara kunci dan menyampaikan pesan mendalam mengenai pentingnya ideologi bangsa.

Dalam sambutannya, putri Bung Karno ini menekankan agar bangsa Indonesia tidak pernah melupakan akar sejarah dan perjuangan para pendahulu. Megawati menegaskan bahwa nilai-nilai Pancasila bukan hanya sekadar ideologi di atas kertas.

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan sejarahnya. Pancasila bukan hanya ideologi, tetapi jalan hidup bangsa yang digali Bung Karno dari jati diri bangsa Indonesia,” ujar Megawati Soekarnoputri.

Seminar ini turut menghadirkan nama-nama besar dari kancah internasional, termasuk Connie Rahakundini Bakrie (Indonesia/Rusia – St. Petersburg State University), Jovan Čavoški (Serbia – Institute for Recent History of Serbia, Belgrade), dan Beatriz Bissio (Brazil/Uruguay – Federal University of Rio de Janeiro), yang membahas pengaruh Bung Karno dalam sejarah global.

Di tengah refleksi semangat KAA, muncul inisiatif penting dari akademisi yang berupaya menempatkan salah satu tokoh kunci KAA 1955 di posisi yang semestinya sebagai Pahlawan Nasional.

Pembina Pusat Studi dan Pengembangan Wawasan Kebangsaan (PUSDIPWASBANG) Universitas Tribhuwana Tunggadewi (UNITRI) Malang Prof. Ir. Wani Hadi Utomo, Ph.D., dan Kepala PUSDIPWASBANG, Agustinus GhunuSE., M.MA., M.AP., serta Dosen UNITRI, Noviana Yaniar, S.Si., M.M., turut hadir dalam seminar ini sekaligus melanjutkan upaya pengusulan Mr. Ali Sastroamidjojo, Ketua Umum Penyelenggara KAA Bandung 1955, untuk dianugerahi gelar Pahlawan Nasional.

“Kami berharap pemerintah dapat menetapkan Mr. Ali Sastroamidjojo sebagai Pahlawan Nasional. Beliau adalah tokoh diplomasi yang berperan besar menghadirkan 29 negara peserta dan melahirkan Dasasila Bandung,” ungkap Agustinus Ghunu.

Pengusulan gelar Pahlawan Nasional untuk Mr. Ali Sastroamidjojo ini bukanlah hal baru, karena Agustinus menyatakan bahwa inisiatif tersebut sudah diajukan berulang kali, tepatnya pada tahun 2023, 2024, dan 2025. Ia menaruh harapan besar agar usulan ini dapat disetujui oleh Presiden Prabowo pada tahun ini.

Sebagai informasi, seluruh dokumen dan arsip asli Konferensi Asia Afrika tahun 1955 telah diakui oleh UNESCO dan masuk dalam daftar Memory of the World pada Oktober 2015.

Pengakuan dunia ini tidak hanya menegaskan dampak positif KAA Bandung terhadap perdamaian global, tetapi juga menyoroti peran sentral Presiden Soekarno dan Mr. Ali Sastroamidjojo dalam menyukseskan perhelatan bersejarah tersebut. (Red)