Kota Malang |ADADIMALANG.COM – Kota Malang, yang dikenal sebagai pusat pendidikan, pariwisata, hingga kota kreatif dunia, ternyata menyimpan potensi kerawanan terhadap radikalisme dan terorisme. Hal ini terungkap dari kegiatan yang digelar oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) RI pada bulan Oktober 2025 lalu.

Menyikapi temuan tersebut, Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kota Malang langsung bergerak cepat dengan mengumpulkan para tokoh masyarakat dan tokoh agama dalam sebuah forum bertajuk “Diskusi Kewaspadaan Dini dan Penanganan Konflik tahun 2025” sebagai upaya pencegahan dini di Kota Malang, siang tadi, Rabu (26/11/2025).

Diskusi yang diadakan di Hotel Grand Palace Kota Malang ini melibatkan sekitar 100 orang peserta yang terdiri dari tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh pemuda, tokoh wanita, hingga perwakilan dari berbagai kampus.

Kepala Bidang Wasnas dan Penflik Bakesbangpol Kota Malang, Ratih Sulistyo, S.T., M.Si., menjelaskan bahwa forum ini sengaja dirancang untuk meningkatkan penangkalan radikalisme dan terorisme dengan melibatkan narasumber yang sangat kompeten di bidangnya. Narasumber yang dihadirkan meliputi perwakilan dari Kodim 0833, Polresta Malang Kota, Densus 88, BIN Daerah Korwil Jatim, serta akademisi.

Khusus kali ini, Bakesbangpol memilih strategi baru dengan melibatkan dunia kampus, terutama tenaga ahli dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

“Jika selama ini kita selalu mengundang jajaran samping saja, tapi kali ini kami juga melibatkan dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) karena ternyata UMM itu memiliki tenaga ahli peneliti radikalisme dan deradikalisasi,” ungkap Ratih.

Salah satu Fokus dalam diskusi ini juga ditujukan pada dunia pendidikan, mengingat adanya indikasi bahwa institusi akademik rentan menjadi sasaran penyebaran paham radikal.

“Kenapa kita mengundang dari dunia kampus atau pendidikan, karena ada beberapa kejadian terakhir ini seperti yang terjadi di SMA 72 Jakarta ternyata membutuhkan perhatian khusus dari kita semua. Kegiatan ini juga sebagai bentuk bahwa pemerintah hadir di dunia pendidikan,” jelas Ratih.

Lebih lanjut, Bakesbangpol Kota Malang berencana mengintensifkan sosialisasi pencegahan radikalisme langsung ke sekolah-sekolah, mulai dari tingkat SMP, SMA, dan SMK.

“Sebenarnya mulai dari PAUD dan TK itu juga ada dalam bentuk seperti story telling dengan melibatkan badut. Nah yang sekarang ini sasarannya adalah SMP dan SMA/SMK karena ternyata berdasarkan pelitian banyak yang mulai terpapar radikalisme sejak duduk di kelas 2 SMP,” pungkas Ratih Sulistyo.

Banyaknya narasumber dari berbagai instansi membuat diskusi berjalan dengan aktif karena para peserta ingin menggali informasi dari para narasumber yang berkompeten di bidang radikalisme dan terorisme tersebut. (A.Y)