Kota Malang | ADADIMALANG.COM – Kota Malang memiliki sebutan sebagai kota pendidikan menjadi salah satu daya tarik banyaknya warga dari luar kota Malang untuk datang dan menempuh pendidikan di kota Malang. Sebutan tersebut bukan tanpa alasan, di kota Malang saat ini setidaknya ada 62 perguruan tinggi negeri dan swasta yang beroperasional di kota Malang.
Meski demikian, banyaknya perguruan tinggi yang ada di kota Malang ternyata dinilai masih belum memberikan kontribusi yang optimal dalam pembangunan kota Malang.
Hal tersebut disampaikan salah satu anggota DPRD kota Malang, Arief Wahyudi, SH., saat menyampaikan pandangan akhir dalam Rapat Paripurna Ranperda APBD pagi hari tadi, Kamis (27/11/2025). Terlebih dalam kondisi postur APBD kota Malang 2026 sedang dalam kondisi kurang ideal akibat pengurangan dana Transfer ke Daerah (TKD) saat ini.
“Banyaknya perguruan tinggi di kota Malang yang jumlahnya berkisar di angka 62 kampus ternyata perannya dalam pembangunan kota Malang masih belum dirasakan saat ini. Oleh karena itu ke depan kampus-kampus diharapkan dapat lebih berperan dalam proses pembangunan kota Malang,” ungkap Arief Wahyudi.
Dikonfirmasi terpisah terkait pernyataannya tersebut, Arief Wahyudi menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki anggaran untuk melaksanakan Pengabdian Masyarakat.
“Harapan kami karena Perguruan Tinggi tersebut berdiri dan beroperasional di Kota Malang ya sangat wajar apabila kegiatan Pengabdian Masyarakat yang dilakukannya akan akan di tempatkan di Kota Malang mengingat banyak kebutuhan Kota Malang yang bisa ditangani oleh dunia Perguruan Tinggi,” ungkapnya.
Beberapa hal yang dapat dilakukan dan dapat menjawab beberapa persoalan yang dihadapi kota Malang saat ini, Arief mencontohkan pembangunan sumur resapan untuk solusi banjir yang masih kerap terjadi, termasuk menangani rumah tidak layak huni, penghijauan, hingga pelatihan dan pendampingan UMKM dan lain sebagainya.
“Di samping itu sangat baik pula jika Perguruan Tinggi dapat berkolaborasi dengan Dinas yang membutuhkan riset dan penelitian, atau Perguruan Tinggi mendampingi kampung sebagai kampung binaan sehingga dapat membantu masyarakat,” ungkap Arief Wahyudi. (A.Y)
