Kota Malang | ADADIMALANG.COM — Transformasi digital di lingkungan perguruan tinggi terus bergerak cepat. Konsep smart campus kini menjadi agenda bersama banyak kampus, seiring meningkatnya kebutuhan akan sistem pembelajaran, layanan akademik, dan manajemen kampus yang serba digital. Namun di balik kemajuan tersebut, ancaman terhadap keamanan data dan integritas sistem masih menjadi persoalan yang belum sepenuhnya teratasi.
Kondisi inilah yang mendorong CV Cahaya Mustika menginisiasi forum bertajuk Redefining The Future Campus, Establishing Digital Assurance In The Hyper-Connected Era. Forum ini menghadirkan perwakilan perguruan tinggi di Jawa Timur untuk berdiskusi dan menutup celah keamanan digital dalam upaya mewujudkan smart campus yang lebih menyeluruh.
Kegiatan yang digelar di Grand Mercure Malang Mirama itu menghadirkan sejumlah narasumber dari kalangan pakar keamanan digital dan teknologi pendidikan. Para peserta mendapatkan pemaparan materi dengan berbagai sudut pandang, mulai dari keamanan siber, tata kelola data, hingga pemanfaatan teknologi blockchain.
Direktur CV Cahaya Mustika, Mufidatul Zulfa, S.Pi., MM., dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas kehadiran para perwakilan perguruan tinggi dan narasumber. Ia menegaskan bahwa forum ini menjadi bagian dari komitmen Cahaya Mustika untuk terus berkontribusi bagi dunia pendidikan.
“Forum ini menjadi semangat bagi Cahaya Mustika untuk terus memberikan kontribusi positif bagi dunia pendidikan, khususnya dalam ekosistem kampus yang lebih modern, aman, dan berdaya saing. Dari kesadaran perguruan tinggi saat ini sedang berada pada titik penting perjalanan transformasi digital dengan berbagai inovasi, perangkat teknologi, dan sistem semakin terintegrasi membuat kampus menjadi lingkungan yang sangat dinamis sekaligus kompleks,” ujar Mufidatul Zulfa.

Menurutnya, kompleksitas tersebut membuka peluang besar bagi kemajuan pendidikan, namun sekaligus menghadirkan tantangan serius. Isu keamanan digital, integritas data akademik, hingga kesiapan kampus menghadapi risiko di era hyper-connected menjadi perhatian utama.
“Melihat kondisi tersebut, kami merasa perlu untuk menghadirkan ruang dialog yang mempertemukan para pemimpin Perguruan Tinggi dengan para pakar di cyber security, blockchain integrity, data governance, hingga cyber security dengan tujuan agar kita semua dapat memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif, berbagi pengalaman, serta merupakan arah langkah yang lebih strategis di depan,” lanjutnya.
Forum ini menghadirkan sejumlah pakar, di antaranya Baskoro Adi Pratomo, S.Kom., M.Kom., Ph.D, Dr. Raden Arief Setyawan, S.T., M.T, serta I Gede Putu Rahman Desyanta, S.SI., S.Kom., M.M. Kehadiran para ahli tersebut memperkaya diskusi mengenai tantangan dan solusi keamanan digital di lingkungan kampus.
Project Manager CV Cahaya Mustika, Danar Wicaksono, menyoroti pesatnya digitalisasi di dunia pendidikan yang belum sepenuhnya diimbangi dengan kesiapan sistem keamanan data. Ia menyebut kampus kini berada pada fase baru, di mana ketergantungan terhadap sistem digital menuntut tata kelola keamanan yang jauh lebih kuat dan terintegrasi.
“Dengan semakin terhubungnya seluruh perangkat di era hyperconnected, kampus harus menyesuaikan diri. Percepatan digitalisasi harus diikuti kesiapan keamanan data yang matang, karena ancaman kebocoran dan manipulasi data semakin kompleks,” ujar Danar di sela-sela acara.

Danar mengungkapkan, tingkat digitalisasi kampus di Jawa Timur saat ini telah mencapai sekitar 70 persen. Meski demikian, banyak institusi pendidikan masih menghadapi potensi kerawanan, mulai dari data akademik, sistem presensi, hingga keamanan dokumen penting.
Salah satu isu utama yang dibahas dalam forum tersebut adalah pemanfaatan teknologi blockchain untuk memperkuat keaslian data dan identitas digital mahasiswa. Cahaya Mustika, yang kini bekerja sama dengan perusahaan teknologi blockchain Baliola, mendorong perguruan tinggi untuk mulai mengadopsi teknologi ini dalam ekosistem pendidikannya.
“Blockchain bukan sekadar alat transaksi, tetapi fondasi untuk membangun digital assurance di kampus. Teknologi ini dapat memastikan keaslian ijazah, sertifikat, maupun identitas digital, sehingga meminimalkan potensi pemalsuan,” jelas Danar.
Ia menambahkan, peningkatan literasi blockchain di kalangan perguruan tinggi menjadi hal penting agar kampus tidak hanya menerapkan teknologi, tetapi juga memahami tata kelola serta aspek keamanannya secara menyeluruh.
Selain diskusi dan pemaparan materi, forum ini juga menampilkan demonstrasi berbagai perangkat pendukung smart campus. Mulai dari sistem keamanan berbasis kecerdasan buatan, akses kontrol, ruang kelas pintar, hingga integrasi Internet of Things melalui platform Hikvision. Para narasumber menegaskan bahwa smart campus tidak lagi sebatas penggunaan perangkat digital, melainkan mencakup arsitektur keamanan menyeluruh yang meliputi data governance, cyber physical security, dan digital sovereignty.
Dalam sesi materinya, Baskoro Adi Pratomo menekankan bahwa model pembelajaran modern yang serba digital membutuhkan fondasi keamanan yang kuat. Tanpa sistem perlindungan data yang memadai, risiko terhadap privasi dan keaslian data mahasiswa akan semakin besar.
Di tengah meningkatnya kebutuhan perguruan tinggi terhadap solusi digital yang komprehensif, Cahaya Mustika juga memperkenalkan transformasi perusahaannya. Berbasis di Malang, perusahaan yang sebelumnya dikenal sebagai penyedia furnitur dan perlengkapan kantor tersebut kini bertransformasi menjadi integrator solusi digital untuk sektor pendidikan.
“Kampus menghadapi kebutuhan yang lebih kompleks dibanding lima tahun lalu. Karena itu, kami terus beradaptasi dari penyedia barang menjadi penyedia solusi digital dengan fokus pada keamanan data dan pengembangan smart campus,” ungkap Danar.
Melalui forum ini, Cahaya Mustika berharap perguruan tinggi dapat memandang smart campus tidak hanya sebagai simbol modernisasi, tetapi sebagai sistem terpadu yang aman, berkelanjutan, dan siap menghadapi tantangan era digital yang semakin terhubung. (A.Y)
