Kota Malang | ADADIMALANG.COM — Perayaan malam tahun baru kerap identik dengan hiruk pikuk pesta dan dentuman musik. Grand Mercure Malang Mirama memilih jalur berbeda untuk menyambut pergantian tahun 2026. Hotel ini merancang malam spesial yang tidak hanya meriah, tetapi juga meninggalkan kesan bermakna melalui cerita, imajinasi, dan pengalaman bersantap yang dirancang secara detail.

Tahun ini, Grand Mercure Malang Mirama menghadirkan dua konsep perayaan dalam satu malam di dua lokasi berbeda, yakni Grand Ballroom dan Sky Lounge lantai 19. Keduanya berjalan bersamaan, namun menyasar selera tamu yang tidak sama.

Grand Ballroom menjadi pusat perayaan bertema Food & Fiction. Ruang berkapasitas sekitar 500 orang ini disulap menjadi dunia imajinatif yang terinspirasi dari buku dan cerita. Unsur literasi tidak sekadar hadir sebagai dekorasi, tetapi menjadi bagian dari pengalaman, mulai dari instalasi tematik, area buku untuk anak-anak, hingga sajian kuliner yang dirancang menyerupai buku. Mulai dari kue hingga dessert, setiap hidangan dibuat seolah memiliki cerita tersendiri.

Tema ini dipilih sebagai bentuk respons manajemen hotel terhadap rendahnya minat baca di Indonesia. Pesan literasi disisipkan secara halus melalui ruang yang dekat dengan keluarga, yakni perayaan dan meja makan.

“Kami ingin tahun baru ini punya makna. Bukan hanya bersenang-senang, tapi juga mengajak keluarga, terutama anak-anak, lebih dekat dengan dunia membaca. Literasi tidak harus selalu serius, bisa juga menyenangkan,” ujar Sugito Adhi, Cluster General Manager Grand Mercure Malang Mirama & Mercure Surabaya Grand Mirama.

Sementara itu, Sky Lounge lantai 19 menawarkan suasana yang lebih privat dengan tema Antartika. Area ini hanya menampung sekitar 90 tamu dan dirancang untuk mereka yang menginginkan perayaan lebih tenang dan eksklusif.

Dengan konsep set menu, tamu dapat menikmati santapan sambil menyaksikan panorama malam Kota Malang hingga Batu dari ketinggian. Saat detik pergantian tahun tiba, pemandangan kembang api dapat dinikmati dari berbagai arah.

Perbedaan konsep juga terasa pada layanan. Grand Ballroom menggunakan format buffet dengan pilihan hidangan melimpah, sedangkan Sky Lounge mengedepankan pengalaman personal. Meski begitu, keduanya sama-sama menyediakan sajian tambahan menjelang tengah malam agar tamu tetap nyaman hingga acara usai.

Dari sisi hiburan, perayaan ini dipersiapkan secara serius. Sebanyak 22 personel band dari Universal Fragile dijadwalkan mengisi panggung, dipadu dengan berbagai penampilan lain yang mengalir sepanjang malam. Musik dan visual dirancang untuk membangun suasana selebrasi, bukan sekadar pelengkap.

Urusan kuliner menjadi salah satu daya tarik utama. Di Grand Ballroom, lebih dari 150 jenis hidangan disiapkan, mencakup menu utama hingga dessert tematik. Di Sky Lounge, set menu eksklusif disajikan sebagai bagian dari pengalaman bersantap yang lebih terkurasi dan intim.

Sebagai penutup, hotel juga menyiapkan berbagai hadiah bagi para tamu. Di Grand Ballroom, hadiah utama berupa sepeda motor disiapkan sebagai grand prize. Sementara di Sky Lounge, tamu berkesempatan mendapatkan motor listrik. Voucher menginap di kamar penthouse turut melengkapi daftar hadiah yang diperebutkan.

Antusiasme masyarakat sudah terlihat sejak jauh hari. Sekitar dua pekan menjelang malam pergantian tahun, tingkat keterisian Grand Ballroom telah mencapai sekitar 50 persen, sementara Sky Lounge mencatat okupansi sekitar 70 persen dari total kapasitas.

“Pemesanan masih terus berjalan. Kami optimistis seperti tahun-tahun sebelumnya, malam tahun baru ini akan terisi penuh,” kata Sugito.

Melalui dua konsep dan dua suasana berbeda, Grand Mercure Malang Mirama menegaskan bahwa perayaan tahun baru dapat dikemas lebih reflektif tanpa kehilangan semangat selebrasi. Di hotel ini, malam pergantian tahun tidak sekadar tentang hitung mundur, tetapi juga tentang cerita baru yang mulai ditulis bersama. (Red)