Kota Malang | ADADIMALANG.COM — Keberhasilan Kampoeng Heritage Kajoetangan menyabet gelar Kelompok Sadar Wisata atau Pokdarwis terbaik di tingkat nasional ternyata tidak membuat pengelolanya cepat berpuas diri. Meski telah mencapai puncak prestasi di tanah air, destinasi wisata ikonik di Kota Malang ini terus melakukan evaluasi mendalam, terutama dalam aspek tata kelola administrasi dan keuangan.
Satu catatan penting dari tim penilai kompetisi nasional menjadi pemantik bagi para pengelola untuk segera berbenah. Menanggapi masukan tersebut, tim dosen dari STIE Malangkuçeçwara yang selama ini menjadi pendamping setia bergerak cepat dengan menggelar pelatihan khusus penyusunan laporan keuangan pada Selasa, 27 Januari 2026.
Ketua Pokdarwis Kampoeng Kajoetangan, Mila Kurniawati, menjelaskan bahwa pelatihan ini merupakan jawaban atas kebutuhan internal sekaligus tindak lanjut dari visitasi lomba beberapa waktu lalu. Menurutnya, pengelolaan pembiayaan dan laporan keuangan menjadi sorotan yang perlu ditingkatkan kapasitasnya.
“Titik baliknya memang saat visitasi waktu lomba awarding kemarin gitu, salah satunya memang menyoal pengelolaan pembiayaan dan laporan keuangan. Sebenarnya kita sudah menyusun laporan keuangan dengan cukup bagus, namun mungkin saat menyampaikannya kami tidak terlalu menguasai bahasa keuangan. Dan akhirnya kita sodorkan kepada tim dosen STIE Malangkuçeçwara untuk memberikan pelatihan hari ini,” jelas Mila di sela kegiatan yang berlangsung di kampus STIE Malangkuçeçwara.
Mila menyadari bahwa dengan meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan, arus kas yang masuk ke pengelola juga semakin besar. Hal ini menuntut adanya transparansi yang nyata agar seluruh warga dan anggota paguyuban mendapatkan informasi yang jelas mengenai pendapatan serta pengeluaran harian.
“Warga tentunya juga ingin mengetahui transparansi penggunaan uang yang masuk, jumlah uang yang masuk dan keluar setiap harinya. Tentunya setelah pelatihan ini akan tetap ada pendampingan dari tim dosen STIE Malangkuçeçwara kepada kami dalam penyusunan laporan keuangan,” pungkas Mila.
Pelatihan ini diikuti oleh 14 pengurus Pokdarwis serta perwakilan paguyuban di dalam kampung. Tim pengabdian masyarakat dari STIE Malangkuçeçwara yang dipimpin oleh Dr. Setyawan menerjunkan para pakar seperti Dr. Nunung Nurastuti, Dr. Kadarusman, Imama Zuchroh, B.Sc., M.Com., serta narasumber ahli Sugeng Hariadi, SE., MM., Ak., CA., CTIA.
Dr. Setyawan menekankan bahwa literasi keuangan adalah kunci untuk mencegah konflik internal di masa depan. Baginya, ketidakteraturan dalam mencatat uang yang masuk dan keluar bisa menjadi pemicu keretakan dalam sebuah organisasi masyarakat yang sedang berkembang pesat.
“Tema hari ini tentang menyusun laporan keuangan dan literasi keuangan yang lebih ditekankan upaya bagaimana menata keuangan agar ke depannya dapat lebih bagus, karena bagaimanapun juga keuangan ini penting. Semakin banyak pengunjung maka bisa saja persoalannya semakin banyak, laporan keuangannya jika tidak transparan akan menjadi ribut, akan menjadi konflik yang berkepanjang. Kita menghindari itu, sehingga kita ajarkan cara penyusunan laporan keuangan,” ungkap Dr. Setyawan.

Ambisi besar pun dicanangkan dalam pertemuan tersebut. Dr. Setyawan berharap dengan laporan keuangan yang tertib dan transparan, Kampoeng Heritage Kajoetangan bisa melompat lebih tinggi lagi dari sekadar prestasi nasional.
“Kalau kemarin sudah berhasil menjadi Pokdarwis Terbaik secara nasional, ya harapannya ke depan dapat menjadi destinasi wisata di level Asean. Asean dulu, nanti terus semakin meningkat,” tegasnya yang disambut riuh tepuk tangan peserta.
Senada dengan hal tersebut, Imama Zuchroh menambahkan bahwa pengelola wisata masa kini tidak cukup hanya memiliki kemampuan teknis dalam mengelola kampung atau menerima tamu. Literasi keuangan menjadi fondasi yang harus dimiliki agar organisasi tetap sehat dan berkelanjutan.
“Jadi tidak hanya tahu bagaimana mengelola kampung, tetapi juga harus tahu bagaimana mengelola keuangan yang diwujudkan melalui penyusunan laporan keuangan,” pungkas Imama. (A.Y)
