Kota Malang | ADADIMALANG.COM — Hilirisasi hasil riset dan inovasi akademik dari ruang laboratorium kampus kini benar-benar menyentuh sektor pelayanan publik dan pemberdayaan masyarakat akar rumput. Sebagai penutup dari rangkaian program pengabdian masyarakat, Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem (FTAB) Universitas Brawijaya resmi menggelar perhelatan Expo Inovasi Program Mahasiswa Membangun Mitra (3M) pagi ini, Senin (29/6/2026).

Dalam agenda unjuk karya yang berpusat di Gedung Samantha Krida Universitas Brawijaya tersebut, pihak fakultas memamerkan sekaligus mendistribusikan puluhan produk teknologi tepat guna (TTG). Tercatat, sebanyak 856 mahasiswa didampingi oleh 102 dosen pembimbing telah diterjunkan ke lapangan untuk memetakan dan menyelesaikan berbagai problem sosial-ekonomi warga yang tersebar di 57 kelurahan se-Kota Malang.

Dalam sambutannya, Dekan FTAB UB, Prof. Yusuf Hendrawan, STP., M.App.Life.Sc., Ph.D., menegaskan bahwa pameran ini bukan sekadar rutinitas seremoni akademik atau pajangan karya mahasiswa. Expo inovasi ini merupakan representasi komitmen tinggi institusi pendidikan tinggi dalam menghadirkan instrumen solusi yang konkret dan aplicable bagi masyarakat urban.

“Sebanyak 57 karya inovasi teknologi tepat guna yang dipamerkan merupakan hasil rekayasa 856 mahasiswa FTAB UB yang dibimbing oleh 102 dosen. Inovasi-inovasi tersebut dikembangkan untuk menjawab berbagai persoalan riil di bidang pangan, agroindustri, lingkungan, ekonomi sirkular, pemberdayaan UMKM, hingga keberlanjutan pembangunan,” urai Prof. Yusuf Hendrawan.

Lebih lanjut, Prof. Yusuf mengungkapkan kebanggaannya lantaran seluruh produk rekayasa teknologi buatan civitas akademika FTAB ini dipastikan tidak akan berakhir menjadi tumpukan berkas laporan atau sekadar prototipe usang di laboratorium kampus. Seluruh unit alat TTG tersebut langsung dihibahkan kepada jajaran aparatur kewilayahan melalui payung gerakan strategis bertajuk “1 Kelurahan 1 Karya Inovasi”.

Langkah nyata ini dinilai menjadi tolok ukur baru bagi implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, di mana luaran riset diarahkan untuk memicu dampak multiplier secara sosial, ekonomi, maupun perbaikan ekologi lingkungan hidup lokal secara berkesinambungan.

“Perguruan tinggi pada abad ke-21 tidak lagi cukup hanya menghasilkan lulusan dan penelitian saja, tetapi harus menjadi motor transformasi masyarakat. Sehingga kegiatan 3M dan expo ini sejalan dengan semangat Kampus Berdampak untuk menghadirkan pendidikan tinggi yang mampu memberikan solusi nyata terhadap persoalan bangsa,” tambah pakar teknologi biosistem tersebut.

Sinergi program pengabdian makro ini sekaligus menjadi sokongan linier terhadap visi prioritas Rektor Universitas Brawijaya yang sedang menggalakkan Program Kampung Lingkar Kampus (KLK). Pola pendekatan terpadu ini diharapkan mampu merajut relasi harmonis, inklusif, dan produktif antara otoritas kampus dengan warga sekitar agar Universitas Brawijaya berfungsi optimal sebagai episentrum kesejahteraan serta pemberdayaan ekonomi kreatif.

Di akhir penjelasannya, Dekan FTAB menekankan bahwa program aksi kolektif ini merupakan visualisasi nyata dari target capaian global Sustainable Development Goals (SDGs). Khususnya dalam mengakselerasi program ketahanan pangan, penyediaan energi bersih dan terjangkau, penciptaan lapangan kerja layak, modernisasi industri, konsumsi-produksi bertanggung jawab, hingga penguatan kemitraan pembangunan daerah secara inklusif. (A.Y)