Kota Malang | ADADIMALANG.COM — Rencana pengoperasian Bus Trans Jatim Koridor 2 rute Terminal Talangagung Kepanjen-Terminal Hamid Rusdi-Terminal Arjosari terus dipersiapkan. Dinas Perhubungan (Dishub) Provinsi Jawa Timur bersama Pemerintah Kabupaten Malang masih melakukan pemetaan halte atau bus stop yang akan menjadi titik naik turun penumpang.

Kepala UPT Pengelolaan Prasarana Perhubungan (P3) Lalu Lintas Angkutan Jalan (LLAJ) Wilayah Malang Dishub Jatim, M Binsar Garchah Siregar mengatakan, penentuan lokasi halte masih dalam tahap kajian dan belum ditetapkan secara final.

“Masih dalam taraf penjajakan. Ada beberapa titik yang kemungkinan bisa mewakili masyarakat untuk naik turun penumpang Trans Jatim, tetapi semuanya belum fix,” ujar Binsar.

Ia menjelaskan, penentuan titik halte harus mempertimbangkan berbagai aspek, termasuk koordinasi dengan pihak yang berada di lokasi tersebut. Selain itu, survei kebutuhan masyarakat juga diperlukan agar halte yang dibangun benar-benar sesuai kebutuhan mobilitas warga.

Menurutnya, rencana jalur di wilayah Kabupaten Malang diperkirakan melintasi Terminal Hamid Rusdi, Bululawang, Gondanglegi, hingga Kepanjen. Sementara untuk wilayah Kota Malang, masih dilakukan pembahasan bersama operator angkutan kota terkait skema integrasi dengan angkutan feeder.

Ia juga memastikan kehadiran Trans Jatim Koridor 2 tidak bertujuan mematikan angkutan kota yang sudah ada. Sebaliknya, angkutan kota akan diarahkan menjadi feeder yang mendukung konektivitas penumpang menuju halte utama.

“Trans Jatim ini tidak mematikan, tetapi justru membangkitkan moda transportasi baru melalui feeder. Harapannya angkutan kota yang terdampak langsung bisa menjadi bagian dari sistem tersebut,” kata Binsar.

Ia menambahkan, pengalaman Koridor 1 Trans Jatim menunjukkan integrasi antara bus dan angkutan lokal dapat berjalan. Menurutnya, pola serupa diharapkan diterapkan di Malang Raya dengan menjaga harmonisasi antara operator lama dan moda transportasi baru.

Dishub Jatim memperkirakan kebutuhan armada Trans Jatim Koridor 2 sekitar 15 unit, terdiri dari 14 unit operasional dan satu unit cadangan. Target operasional sementara diarahkan pada Oktober 2026, dengan catatan seluruh tahapan persiapan, kajian rute, dan koordinasi antarwilayah berjalan lancar.

Sementara itu, Ketua Dewan Kampung Nuswantara (DKN) Ach Harun Al Rasid menyebut pengoperasian Trans Jatim Koridor 2 merupakan kebutuhan masyarakat Malang Raya untuk mendapatkan transportasi publik yang aman, nyaman, dan terjangkau.

“Trans Jatim Koridor 2 bukan sekadar proyek transportasi, melainkan kebutuhan dasar masyarakat untuk mendapatkan akses mobilitas yang manusiawi,” ujar Harun dalam deklarasi pers bersama 10 organisasi kemasyarakatan dan perwakilan pengemudi angkutan kota di Gedung GKB IV Pascasarjana UMM.

DKN menyampaikan tiga rekomendasi kepada pemerintah, yakni kepastian legalitas dan pendanaan koperasi bagi pengemudi angkot yang beralih menjadi feeder, pengaturan trayek agar tidak terjadi tumpang tindih, serta sosialisasi dan pendampingan kepada komunitas pengemudi.

Berdasarkan survei tim riset independen terhadap 750 responden pengguna transportasi umum di Malang Raya, sebanyak 90,9 persen responden mendukung kehadiran Trans Jatim Koridor 2. Survei tersebut juga mencatat seluruh responden mendukung konsep angkot sebagai feeder dengan skema yang menjamin kesejahteraan pengemudi. (Ftm/A.Y)