Beberapa fasilitas yang tidak jadi dibangun mulai dirasakan kebutuhannya.
ADADIMALANG – Meskipun belum diresmikan, pusat kegiatan kreatif di Kota Malang yakni Malang Creative Center (MCC) telah dipergunakan untuk beberapa kegiatan.
Bahkan beberapa hari terakhir, even Festival Mbois ke-7 dan kegiatan Dekranasda Kota Malang dilaksanakan bersamaan di bangunan yang sempat mengundang pro kontra di awal pembangunannya tersebut.
Wali Kota Malang, Drs H. Sutiaji saat menghadiri penutupan Festival Mbois ke 7 semalam menyampaikan rasa syukurnya karena animo masyarakat sangat tinggi untuk datang ke MCC menyaksikan berbagai even yang dilaksanakan.
“Alhamdulillah animo masyarakat sangat tinggi, saya tidak ingin bangunan yang dibuat dari uang rakyat ini tidak memberikan manfaat yang optimal. Kalau masalah evaluasi penggunaan sebelum peresmian, coba tanya ke teman-teman komunitas yang beberapa hari ini beraktivitas di MCC,” ungkap Wali Kota Sutiaji.
Di hadapan Wali Kota Malang, bersama Amar Alphabet, Dadik Wahyu Chang dari Malang Creative Fusion (MCF) yang menggelar Festival Mbois 7 menyampaikan banyak pihak seperti dari Kementerian, Pengusaha, SMK atau Kampus yang kemudian merujuk bahwa MCC ini sangat seksi.
“Jadi tinggal bagaimana kami menggunakan tempat ini termasuk mengatur bagaimana regulasi dan segala macamnya. Dari pola hasil diskusi itu nanti akan kami bawa ke manajemen untuk diatur pola SOPnya seperti apa. Tapi kami dari komunitas mengucapkan terimakasih untuk Pak Wali Kota Malang karena ternyata dari proses perjalanan enam tahun kita mengawal bersama, MCC ini dilahirkan dan diberikan kepada komunitas telah terbukti bahwa komunitas juga berperan aktif di MCC,” ungkap pria yang juga menjabat di Komite Kreatif Kota Malang ini.
Beberapa fasilitas yang dulu dibatalkan karena faktor anggaran menurut Dadik saat uji coba saat ini mulai terasa dibutuhkan.
“Seperti eskalator yang dulu mestinya ada tapi ditiadakan karena pola anggaran rasanya kemarin sangat dibutuhkan karena lift yang ada sampai stuck (macet) karena banyaknya pengunjung yang datang. Kami telah menyiapkan tangga darurat untuk mengatasinya. Ramp yang juga hanya sampai di lantai 5, dari rencana sampai lantai 8 yang kemarin juga terpotong anggaran,” ujar pengusaha dengan brand Utero ini.
Secara keseluruhan selama melaksanakan even di MCC, Dadik yang juga didampingi Amar Alphabet tersebut menegaskan selama 4 hari para pelaksana kegiatan sangat antusias karena merasa memiliki rumah kreatif.
“Banyak yang bertanya bagaimana proses sewa dan menggunakannya, dimana tadi telah disebutkan pak Wali Kota bahwa hanya 42 persen saja yang dikomersialkan. Disini ada ruang animasi, jika teman-teman tidak memiliki tempat dan komputer yang semuanya difasilitasi oleh Pemkot Malang secara gratis. Ada juga food lab untuk riset-riset di bidang kuliner, termasuk ada ruang broadcast, podcast yang itu semua gratis,” ujar Dadik.
MCC di Kota Malang menurut Dadik menjadi prototype di Indonesia dan tidak ada tempat lain yang menjadi referensi selain di Kota Malang.
“Alhamdulillah dari sebelum kita launching, ada beberapa kota/kabupaten di beberapa provinsi yang ingin sekali mengetahui bagaimana proses MCC ini dilahirkan,” pungkas Dadik Wahyu Chang. (A.Y)

1 Komentar