Kota Malang | ADADIMALANG.COM — Universitas Brawijaya (UB) terus memperkuat peran akademisi dalam pelestarian budaya melalui pemanfaatan teknologi digital. Melalui program Globalizing UB, Universitas Brawijaya resmi meluncurkan aplikasi dan website Batikpedia yang dikembangkan oleh Fakultas Ilmu Budaya (FIB) bersama Fakultas Ilmu Komputer (FILKOM). Peluncuran ini diharapkan menjadi awal transformasi digital batik Jawa Timur agar semakin dikenal secara luas.
Batikpedia memuat lebih dari 300 desain motif batik Jawa Timur serta Virtual Gallery Batik yang menampilkan karya dari empat daerah yaitu Malang Raya (Kota Malang, Kabupaten Malang, Kota Batu), Tulungagung, Trenggalek, dan Lamongan. Kolaborasi ini juga menggandeng Asosiasi Perajin Batik Kota Malang (APBKM) sebagai bagian dari upaya digitalisasi aset budaya, yang berakar dari kerja sama internasional FIB UB dengan perguruan tinggi di Jepang.

Peresmian Batikpedia dilaksanakan di Aula Fakultas Ilmu Budaya UB dan dihadiri langsung oleh Rektor Universitas Brawijaya, Prof. Widodo, S.Si., M.Si., Ph.D., Med.Sc., dimana dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas kerja sama berbagai pihak yang telah menyelesaikan proyek ini.
“Hari ini saya merasa senang sekali karena UB meresmikan Batikpedia sebagai produk dari UB untuk digitalisasi Batik di Jawa Timur melalui program Globalizing UB. Oleh karena itu saya berterimakasih sekali kepada Wakil Rektor bidang 4 yang membawahi program Globalizing UB dan Dekan FIB serta Dekan FILKOM UB serta semua pihak yang terlibat dalam pembuatan website dan aplikasi Batikpedia ini,” ungkap Rektor UB.
Terkait arah pengembangan Batikpedia, Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kerjasama, dan Internasionalisasi UB, Prof. Andi Kurniawan, S.Pi., M.Eng., D.Sc., menjelaskan bahwa UB saat ini mengusung tema besar AI dan Digital Technology for Nature and Humanity.
“Dalam konteks ini kita mengembangkan teknologi digital yang bisa mendukung bidang ilmu sosial humaniora dengan menerapkan teknologi untuk bisa mengkonservasi karya budaya yang tidak saja merupakan bentuk preservasi dari budaya semata, tapi bisa melengkapi proses pendidikan kita dengan keluhuran nilai budaya,” ungkap Prof. Andi.
Ia berharap Batikpedia menjadi kontribusi nyata UB sebagai Kampus Berdampak, bukan hanya bagi akademisi tetapi juga bagi para perajin batik. Batikpedia disebut sebagai website dan aplikasi pertama di Indonesia yang menampilkan batik terintegrasi dari berbagai daerah di Jawa Timur.

Apresiasi juga datang dari Ketua Asosiasi Perajin Batik Kota Malang (APBKM), Isa Wahyudi, atau yang akrab disapa Ki Demang. Ia menyampaikan rasa terima kasih atas kerja sama UB dalam pengembangan Batik Malang, sekaligus mengusulkan dukungan lanjutan bagi perajin batik.
“Bagaimana batik Malang dipakai oleh seluruh civitas akademika UB menjadi baju seragam atau gelar pameran batik serentak di seluruh pelataran UB.” Seruan tersebut disambut riuh tepuk tangan dan memantik awal gerakan Batik Malang.
Senada dengan itu, Pimpinan Batik Soendari Malang, Satria Paramanandana, menilai hadirnya Batikpedia sebagai inovasi yang memudahkan perajin untuk memperkaya kreativitas.
“Dengan adanya katalog dan database yang terupdate tidak hanya untuk di Malang saja, bahkan di lingkungan Jawa Timur itu memperkaya kami mendapatkan banyak inspirasi untuk kami berkarya lagi,” ungkap Satria.
Ia juga menekankan bahwa Batikpedia membuka peluang promosi yang jauh lebih luas, bahkan hingga tingkat internasional. Di dalam aplikasi tersebut, sepuluh desain batik dari Soendari Batik telah dimasukkan sebagai bagian dari koleksi awal.
Peluncuran Batikpedia menandai langkah penting UB dalam penguatan pemajuan budaya berbasis digital, menjadi jembatan antara teknologi, pendidikan, dan pelestarian warisan bangsa. (A.Y)
