Puluhan Guru SMK dari berbagai daerah di Indonesia mengikuti peningkatan kompetensi dan sertifikasi di kota Malang.
Kota Malang | ADADIMALANG.COM – Tekanan industri yang bergerak lebih cepat dari kurikulum membuat guru SMK berada di garis depan untuk memenuhi tuntutan kompetensi. Para guru dituntut menunjukkan kemampuan nyata, bukan sekadar hadir dalam pelatihan dan mengantongi sertifikat.
Situasi itulah yang menjadi latar belakang pelaksanaan Program Kredensial Mikro Guru SMK Tingkat Nasional yang digelar mulai tanggal 10 hingga 12 Desember 2025 di Ascent Premiere Hotel and Convention Kota Malang. Sebuah upaya pemerintah untuk memastikan tenaga pendidik vokasi benar-benar memiliki standar yang layak di mata industri.
Program yang berada di bawah Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi, Pendidikan Khusus dan PLK Kemendikdasmen ini bekerja sama dengan RRCons Indonesia sebagai pelaksana teknis. Melalui kegiatan ini, pemerintah ingin mengakselerasi kompetensi guru, memastikan mereka kembali ke sekolah dengan keterampilan yang dapat langsung diterapkan, bukan sekadar membawa dokumentasi kegiatan.

Master Asesor sekaligus Master Trainer BNSP, Rahmat Farikh, SE., M.Pd., menegaskan bahwa pelatihan ini memiliki konsekuensi nyata. “Pelatihan hanya memberi kita sertifikat pelatihan, tetapi harus ada proses untuk menunjukkan kompetensi. Di hari ketiga nanti, peserta diuji untuk memastikan mereka benar-benar punya kemampuan di bidang masing-masing,” ujarnya.
Farikh menambahkan bahwa kegiatan ini mencakup tiga skema yakni Digital Marketing, Kewirausahaan Industri Level 4, dan Petugas K3 dengan dua hari untuk pendalaman materi dan satu hari uji kompetensi penuh.
“Outputnya nanti memastikan peserta punya kompetensi yang memberi manfaat bagi dirinya, bagi peserta didik, dan bagi sekolah,” sambungnya.
Rahmat juga menyoroti ketatnya seleksi peserta oleh Direktorat SMK. “Mereka peserta terpilih dari berbagai daerah. Total nasionalnya bisa lebih dari 100 peserta,” jelasnya.
Di antara peserta yang lolos seleksi adalah Andi Musafir, S.Pd., MM., Ammar dari SMKN 3 Bone, Sulawesi Selatan. Ia mengaku proses masuk program ini tidak singkat dimana peserta wajib melampirkan berkas hingga esai motivasi.
“Saya ikut skema kewirausahaan. Latar belakang saya S2 Manajemen, dan di sekolah saya mengampu mata pelajaran proyek. Dalam proyek, pasti ada nilai jualnya. Sertifikasi profesi ini sangat penting, termasuk untuk pengembangan teaching factory di sekolah,” katanya.
Andi menekankan bahwa kompetensi guru pada akhirnya akan berpengaruh langsung pada siswa. “Harapan besarnya pada output siswa. Lulusan SMK nanti bisa keluar dengan skill yang mumpuni dan diterima dunia kerja.”
Pelatihan di Malang ini mempertemukan guru-guru dari berbagai wilayah dari Riau, Sumatera Utara, Lampung, Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Barat, hingga Sulawesi Selatan dan Malang Raya. Persebaran ini menunjukkan bahwa peningkatan kompetensi guru sedang digarap serius di level nasional.
Sebagai mitra pelaksana, RRCons Indonesia memastikan program berjalan sesuai standar industri. Founder PT Anggraeni Production House sekaligus RRCons Indonesia, Rita Anggraeni Rahayu, S.AB., M.AB., menguraikan fasilitas dan bentuk sertifikasi yang diterima peserta.
“Kita memfasilitasi 20 peserta terpilih dari seluruh Indonesia. Mereka sudah melalui proses seleksi yang berat. Ada peserta dari Blora, Klaten, Brebes, Makassar, Lampung, Riau, Tasik, Karawang, Malang, sampai Surabaya,” jelasnya.
Menurut Rita, peserta mendapatkan akomodasi penuh selama tiga malam, transportasi lokal, modul, konsumsi, serta dua jenis sertifikat. Sertifikat diklat diberikan kepada seluruh peserta, sedangkan sertifikat kompetensi BNSP hanya diberikan bagi mereka yang lolos uji.
“Kami menghadirkan asesor yang sudah terlisensi BNSP. Sertifikat kompetensi ini bukan sekadar kertas melainkan bukti bahwa mereka benar-benar lolos uji standar industri. Guru yang memiliki sertifikat BNSP pasti punya grade berbeda dibanding yang belum bersertifikasi,” tegasnya.
Mengakhiri wawancara, Rita menambahkan bahwa sertifikat kompetensi tersebut dapat digunakan untuk pengembangan karier guru, penguatan teaching factory, hingga menjadi bukti sahih dalam kerja sama sekolah dengan industri.
Program Kredensial Mikro ini memperlihatkan satu hal, yakni percepatan kualitas guru SMK tak bisa menunggu. Guru dituntut tidak hanya memahami materi, tetapi membuktikan keahlian mereka melalui asesmen yang diakui secara nasional. Pelatihan di Malang menjadi bagian dari upaya besar agar lulusan SMK memiliki keterampilan yang relevan, terstandar, dan benar-benar dibutuhkan dunia kerja. (A.Y)
