Dari Tugas Kuliah ke Produk Jualan, Ban Ban Crunch STIE Malangkuçeçwara Tembus Program P2MW
- account_circle redaksi
- calendar_month Senin, 10 Agt 2026
- visibility 223
- print Cetak

Tim Ban Ban Crunch saat melayani para pembelinya di area Car Free Day kota malang hari minggu kemarin (Foto : Agus Yuwono)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Kota Malang | ADADIMALANG.COM — Berawal dari tugas mata kuliah untuk membuat inovasi produk justru berkembang menjadi peluang usaha bagi mahasiswa STIE Malangkuçeçwara (ABM) Malang, bahkan hingga lolos Program pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) dari Direktorat Belmawa Kemendikti Saintek..
Terinspirasi dari konten-konten di media sosial, sejumlah mahasiswa STIE Malangkuçeçwara ini kemudian berhasil mengembangkan penganan Piscok (pisang coklat) yang banyak digemari masyarakat menjadi produk yang lebih inovatif.,
Tim yang kemudian diberi nama ‘Ban Ban Crunch’ ini bukan sekadar mengubah rasa, mereka membuat piscok dengan bentuk menyerupai permen dan menghadirkan pilihan isian serta topping yang beragam.
Nama Ban Ban Crunch sendiri diambil dari kata banana yang berarti pisang. Sementara kata crunch menggambarkan tekstur pisang yang renyah.
Ditemui di sela-sela waktu berjualan ban ban Crunch, Chief Executive Officer Ban Ban Crunch STIE Malangkuçeçwara yakni Najwa Aulia Wardah menjelaskan ide tersebut muncul ketika dirinya bersama anggota tim mendapat tugas kuliah untuk membuat sebuah inovasi produk.
“Jadi awalnya itu tidak sengaja ya waktu ada tugas kuliah dan kemudian kita seriusi dengan membuat produk pisang coklat namun bentuknya seperti atau menyerupai bungkus permen dimana inspirasinya itu setelah melihat media sosial. Untuk Ban Ban Crunch ini di dalamnya kami berikan isian rasa coklat, strawberry, dan keju,” jelas Najwa saat ditemui ketika berjualan di area CFD Kota Malang.
Tidak berhenti pada bentuk yang berbeda, tim Ban Ban Crunch juga mencoba memberikan pilihan rasa yang lebih beragam. Jika piscok pada umumnya identik dengan isian coklat semata, produk tersebut menawarkan isian coklat, strawberry dan keju.
Bagian luarnya juga mendapat sentuhan tambahan berupa glaze atau coklat leleh dengan pilihan rasa coklat, tiramisu dan green tea.
“Selain itu di atasnya kita beri juga topping springkle, keju, oreo dan meises dimana idenya itu hasil rembukan kami bersama,” jelas Najwa.
Dari tugas kuliah, ide tersebut kemudian dikembangkan secara lebih serius. Tim Ban Ban Crunch mengajukan produk mereka melalui Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha atau P2MW dari Direktorat Belmawa Kemendikti Saintek.
Kerja keras tim yang dipimpin Najwa Aulia Wardah sebagai Chief Executive Officer tersebut kemudian mendapat dukungan pendanaan P2MW sekitar Rp9,7 juta, yang kemudian dimanfaatkan untuk mengembangkan peralatan produksi. Menurut tim Ban Ban Crunch, pengembangan peralatan diperlukan agar proses pembuatan produk dapat berlangsung lebih cepat dan efektif.
Dalam menjalankan usaha tersebut, Najwa tidak bekerja sendiri. Ia dibantu Achmad Nauval D. J. sebagai Chief of Marketing Officer, Revinna Kartikasari sebagai Chief of Finance Officer dan Amelia Naila R. sebagai Chief of Product Officer. Tim Ban Ban Crunch dibina oleh dosen STIE Malangkuçeçwara Hadiana Fernanda, S.E., M.M., serta mendapat pendampingan dari Rina Irawati, S.E., M.M., CDM., CMSE., selaku koordinator P2MW di kampus STIE Malangkuçeçwara.
Produk tersebut kemudian mulai diperkenalkan kepada masyarakat, salah satunya melalui penjualan di area Car Free Day atau CFD Kota Malang. Anggota tim Ban Ban Crunch secara langsung menawarkan produk hasil pengembangan tugas kuliah tersebut kepada masyarakat.
Najwa mengatakan Ban Ban Crunch memiliki konsep yang masih relatif jarang ditemui di pasaran. Selain bentuknya yang menyerupai permen, konsumen mendapatkan pilihan isian, glaze dan topping dalam satu produk.
“Kalau produk piscok seperti Ban Ban Crunch ini setahu kita masih jarang ada, atau bahkan kita yang pertama memproduksi seperti ini dimana hanya dijual Rp.15 ribu sudah mendapatkan delapan buah Ban Ban Crunch dengan isian, glaze hingga topping. Kita juga memperkenalkan dan menjualnya di area CFD kota Malang bersama-sama anggota tim Ban Ban Crunch ini,” pungkas Najwa.
Dengan harga Rp15 ribu untuk satu kemasan berisi delapan buah, Ban Ban Crunch mencoba membawa piscok ke bentuk dan pilihan rasa yang berbeda. Bagi tim mahasiswa tersebut, tugas kuliah akhirnya tidak berhenti sebagai tugas akademik, tetapi berkembang menjadi produk yang dapat diperkenalkan dan dijual kepada masyarakat. (Red)
- Penulis: redaksi



