Turut Berperan Atasi Permasalahan pembangunan Berkelanjutan, FTAB UB Hadirkan 1000+ Solusi SDGs saat PKKMB 2026
- account_circle Agus Yuwono
- calendar_month Kamis, 13 Agt 2026
- visibility 524
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Kota Malang | ADADIMALANG.COM – Selalu ada inovasi baru yang dihadirkan oleh Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem (FTAB) Universitas Brawijaya (UB) dalam setiap momen kegiatan.
Jika pada tahun sebelumnya pihak Dekanat FTAB menyerahkan 2000 lebih sertifikat Articial Inteligence (AI) internasional kepada seluruh mahasiswa barunya saat hari pertama pelaksanaan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB), di acara yang sama di PKKMB tahun 2026 ini kembali FTAB memberikan sesuatu yang berbeda bagi para mahasiswa barunya yang akan dapat berdampak luas pada kampus dan juga masyarakat luas.
Dekan FTAB, Prof. Yusuf Hendrawan, STP., M.App.Life.Sc., Ph.D., dalam kegiatan pembukaan PKKMB FTAB menyampaikan untuk PKKMB 2026 ini pihak FTAB UB menghadirkan 1000 lebih pemetaan solusi atas problem pembangunan berkelanjiutan (sutainable development goal’s/ SDGs) di Indonesia.

Dekan didampingi Wakil Dekan FTAB UB saat memberikan keterangan kepada awak media di hari pertama PKKMB FTAB UB (Foto : Agus Yuwono)
“Jadi sebanyak 1.175 mahasiswa baru (maba) FTAB UB telah membuat karya ilmiah terkait solusi permasalahan SDGs tersebut, dimana nantinya, solusi tersebut berbentuk mind mapping dan akan dibukukan menjadi satu. Buku mind mapping tersebut nantinya akan diserahkan kepada para pemangku kebijakan sebagai salah satu rekomendasi dalam menyelesaikan masalah SDGs dari aspek perguruan tinggi,” ungkap Prof. Yusuf di sela-sela pembukaan PKKMB FTAB UB di GOR Pertamina UB, Kamis (13/8/2026).

Menurut Yusuf, pembuatan buku solusi untuk negeri ini juga tengah menjadi trend yang telah dicontohkan oleh Presiden RI Prabowo Subianto, sehingga pihaknya juga melakukan hal yang sama tetapi dari sisi akademisi.
Selain mind mapping solusi permasalahan SDGs di Indonesia, Yusuf menambahkan bahwa di akhir rangkaian PKKMB kali ini, pihak dekanat FTAB juga akan memberikan sertifikasi integritas kepada maba mengingat FTAB UB merupakan satu-satunya fakultas di Indonesia yang telah berpredikat Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM).
“FTAB UUB telah berpredikat WBBM dan menjadi acuan dan tolak ukur dalam mengembangkan zona integritas di lingkungan akademik. Oleh karena itu kita harus bisa mensertifikasi anak didik kita tentang zona integritas,” imbuhnya.
Terkait dengan potensi adanya ancaman tindakan kekerasan, bullying hingga pelecehan seksual, Prof. Yusuf menegaskan bahwa FTAB UB menolak berbagai bentuk kekerasan selama rangkaian PKKMB atau kegiatan perkuliahan. Sebagai fakultas yang telah berpredikat WBBM, maka FTAB harus mengedepankan profesionalitas dan pelayanan, termasuk menolak kekerasan.
“Sebagai WBBM kita menjunjung tinggi profesionalitas, maka segala bentuk kekerasan, bullying, hingga pelecehan seksual secara tegas kami tolak,. FTAB juga menolak berkembangnya budaya LGBTQ di dalam fakultas. FTAB menerima segala perbedaan seperti ras, suku, atau agama, namun tidak dengan penyimpangan,” ungkapnya.
Oleh karena itu, FTAB UB juga telah menyiapkan konsultan dan psikolog khusus bagi penyintas LGBTQ di lingkungan kampus FTAB UB. (A.Y)
- Penulis: Agus Yuwono



