UB Kukuhkan 5 Guru Besar, Bawa Gagasan Inovatif dari Lima Bidang Keilmuan
- account_circle Fitri Fatma
- calendar_month 8 jam yang lalu
- print Cetak

Lima orang akademisi UB yang besok akan dikukuhkan sebagai Guru Besar UB (Foto : Agus Yuwono)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Kota Malang | ADADIMALANG.COM — Universitas Brawijaya (UB) kembali menambah jajaran guru besar dengan mengukuhkan lima guru besar .
Lima orang guru besar yang akan dikukuhkan beaok antara lain Prof. Ir. Edi Dwi Cahyono, M.Agr.Sc., M.S., Ph.D. dari Fakultas Bio-Industri Pertanian dan Kehutanan (FBIPK), Prof. Dr. Ir. Putu Hadi Setyarini, S.T., M.T. dari Fakultas Teknik (FT), Prof. Cleoputri Al Yusainy, S.Psi., M.Psi., Ph.D. dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Prof. Ir. Winarto, S.T., M.T., Ph.D. dari FT, serta Prof. Dr. Desi Dwi Prianti, S.Sos., M.Comn. dari FISIP.
Melalui pengukuhan lima guru besar tersebut, UB memperluas kontribusi akademiknya melalui berbagai gagasan lintas disiplin. Prof. Edi tercatat sebagai profesor aktif ke-258 UB, Prof. Putu ke-259, Prof. Cleo ke-458, Prof. Winarto ke-459, dan Prof. Desi ke-460. Prof. Prosesi pengukuhan berlangsung di Gedung Samanta Krida, Kampus UB, Selasa (22/9/2026). Kelima profesor tersebut membawa gagasan ilmiah di bidang penyuluhan pertanian, rekayasa material, psikologi, simulasi molekuler, serta media dan studi budaya.
Prof. Edi Dwi Cahyono dikukuhkan sebagai Profesor bidang Ilmu Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian. Dalam pidato pengukuhannya, ia memperkenalkan model E/D/C-RITA yang dikembangkan dari pengalaman penelitian dan pengamatan lapangan selama 38 tahun untuk mendorong adopsi inovasi pertanian berkelanjutan.
Menurut Prof. Edi, keputusan petani untuk tidak langsung mengadopsi inovasi tidak selalu menunjukkan kegagalan atau ketidakpahaman terhadap teknologi. Petani dapat melakukan pertimbangan berdasarkan informasi, pengalaman mencoba, hasil pengamatan, dan kondisi yang dihadapi sebelum menentukan keputusan. Model E/D/C-RITA menempatkan proses refleksivitas tersebut sebagai bagian penting dalam penyuluhan. “Jangan Dipaksa-Terpaksa-Terbiasa, Tetapi Diajak-Menimbang-Memandirikan,” tegasnya.
Sementara itu, Prof. Putu Hadi Setyarini dikukuhkan sebagai Guru Besar bidang Pelapisan dan Karakterisasi Material Fakultas Teknik. Ia memperkenalkan kerangka kerja COAT360 yang menghubungkan proses rekayasa pelapisan, karakterisasi permukaan, ketahanan, hingga kinerja material fungsional dalam satu siklus yang terstruktur.
Kerangka COAT360 dirancang untuk mengurangi ketergantungan pada metode coba-coba dalam pengembangan material. Pendekatan tersebut menggunakan enam rantai bukti, mulai dari pemeriksaan kondisi awal material, keseragaman lapisan, perubahan struktur, daya lekat antarmuka, ketahanan terhadap lingkungan, hingga evaluasi fungsi akhir.
Penerapannya diarahkan untuk mendukung pengembangan kemasan pangan ramah lingkungan, biomaterial medis, teknologi energi bersih, dan pencegahan korosi.

Ke lima Calon Guru Besar saat memaparkan penelitiannya masing-masing kepada awak media sore hari tadi (Foto : Agus Yuwono)
Prof. Cleoputri Al Yusainy dikukuhkan sebagai Profesor bidang Psikologi Umum dan Eksperimen FISIP. Ia menawarkan model “Lebur Duka Labur Rasa” sebagai pendekatan psikologi berbasis realitas kehidupan. Model tersebut berangkat dari kritik terhadap kecenderungan psikologi arus utama yang menitikberatkan pada kesenangan hidup, optimisme, dan selebrasi ego.
“Di dunia Timur, filosofi ini dikenal sebagai tradisi kontemplasi. Model ini memandang bahwa segala hal terjadi karena syaratnya telah tercukupi, terlepas dari pemaknaan subjektif,” jelasnya.
Menurut Prof. Cleo, model tersebut memandang diri bukan sebagai entitas yang solid, melainkan memiliki karakter yang cair. Ia menjelaskan tiga ciri diri, yakni mineness atau rasa kepemilikan, centeredness atau rasa sebagai pusat pengalaman, dan selfhoodatau rasa sebagai seseorang yang penting. Melalui pendekatan tersebut, psikologi diarahkan tidak hanya untuk mengkaji proses mental dan perilaku, tetapi juga membentuk individu yang bermental bugar.
Guru Besar bidang Simulasi Dinamika Molekul Fakultas Teknik, Prof. Winarto, mengembangkan penelitian mengenai pemisahan air-alkohol dan penangkapan karbon dioksida (CO₂) menggunakan simulasi molecular dynamics (MD). Penelitian tersebut dilakukan untuk mencari metode yang lebih efisien karena proses pemisahan konvensional seperti distilasi membutuhkan energi dalam jumlah besar.
Melalui simulasi, Prof. Winarto menunjukkan bahwa carbon nanotubes (CNT) yang dipadukan dengan medan listrik dapat membantu proses pemisahan air dari metanol maupun etanol. Penelitiannya juga menunjukkan CNT berpotensi mengadsorpsi CO₂ lebih kuat dibandingkan nitrogen dan oksigen. Riset kemudian dikembangkan menggunakan boron nitride nanotubes (BNNT) serta membran silikon nitrida (Si₃N₄). Ke depan, simulasi tersebut diarahkan untuk mendukung pengembangan material baterai dan superkapasitor.
Sementara itu, Prof. Desi Dwi Prianti dikukuhkan sebagai Guru Besar bidang Media, Gender, dan Studi Budaya FISIP. Ia mengangkat gagasan Literasi Visual Dekolonial untuk merespons perubahan pola konsumsi informasi yang semakin didominasi visual. Menurutnya, tingginya paparan visual belum diikuti kemampuan masyarakat untuk membaca dan mengkritisi representasi yang dikonsumsi.
“Kita hidup dalam paradoks dibanjiri representasi visual, tetapi rendah kemampuan membaca dan mengkritiknya. Inilah salah satu bentuk epistemik kolonial yang bekerja dalam diam, yaitu kolonisasi cara kita membaca dunia,” jelasnya.
Prof. Desi menawarkan tiga strategi dekolonisasi pengetahuan melalui literasi visual. Pertama, menyingkap sudut pandang, pengarang, dan kepentingan di balik sebuah visual. Kedua, melacak asal-usul historis standar visual hingga ke rezim pengetahuan kolonial yang membentuknya. Ketiga, memproduksi tatanan visual tandingan melalui kurasi museum yang inklusif, bahan ajar yang tidak mereproduksi hierarki gender, serta praktik bermedia sosial yang lebih kritis.
“Harapannya, konsep ini memperkaya khazanah ilmu komunikasi Indonesia dengan tradisi yang selama ini kurang populer, dan menegaskan bahwa ilmu komunikasi bukan sekadar teknik menyusun pesan yang efektif. Sebab bagi saya, ilmu pengetahuan harus bekerja untuk memanusiakan dan memerdekakan,” pungkasnya. (Ftm/A.Y)
- Penulis: Fitri Fatma



