Berkolaborasi Dengan Intibev, PPJI Malang Raya Gelar Edukasi Inovasi Tren Matcha untuk Pelaku Kuliner Malang Raya
- account_circle redaksi
- calendar_month 23 jam yang lalu
- visibility 48
- print Cetak

DPC PPJI Malang Raya menggelar kegiatan pelatihan pengolahan matcha bersama Intibev di resto Ayam Goreng Balaikota Malang pagi hari tadi (Foto : Agus Yuwono)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Kota Malang | ADADIMALANG.COM — Industri kuliner di Malang Raya menunjukkan perkembangan yang sangat dinamis. Tidak lagi sekadar menawrkan kuliner khas seperti bakso dan rawon semata, wilayah Malang Raya ini disebut telah bertransformasi menjadi pusat kuliner multicultural yang kaya akan variasi menu modern.
Menangkap peluang tersebut, sekaligus untuk menjalankan tugas dan fungsinya sebagai lembaga untuk mengedukasi, DPC Perkumpulan Penyelenggara Jasaboga Indonesia (PPJI) Malang Raya berkolaborasi dengan Inti Beverage (Intibev) menggelar pelatihan kreasi olahan matcha bagi para pelaku usaha katering dan kuliner di Malang Raya.
Dalam kegiatan yang digelar di Resto Ayam Goreng Balaikota di jalan Gajahmada kota Malang ini, Ketua PPJI DPC Malang Raya, Reza Adi Pratama menjelaskan bahwa kehadiran PPJI di Malang Raya sejak tahun 2025 lalu selain mengemban tugas untuk membangun jejaring (networking) yang solid antar pengusaha katering dan kuliner, juga menjalankan fungsi utama lainnya yaitu edukasi, serta advokasi serta mediasi bagi anggota yang membutuhkan bantuan.
“Pelatihan berbasis matcha ini menjadi salah satu bentuk nyata pelaksanaan fungsi edukasi organisasi. Dari sekitar 20 anggota resmi yang sudah terdaftar sejak tahun lalu, antusiasme peserta yang hadir pada kegiatan ini mencapai lebih dari 60 pelaku usaha yang diproyeksikan akan dapat menambah jumlah anggota resmi PPJI Malang Raya,” ungkap Reza.

Sementara itu ditemui di lokasi kegiatan, Direktur Intibev, Hans Sulistyo, mengungkapkan alasannya memilih Malang Raya sebagai target ekspansi baru perusahaannya setelah sukses menjangkau pasar Jakarta, Bandung, dan sekitarnya. Menurut Hans, karakter pasar di Malang sangat potensial dan terbuka terhadap tren kuliner baru. Matcha kini menjadi salah satu opsi bahan baku yang tengah digandrungi (hype), terutama oleh segmen milenial dan Gen Z.
Hans melihat Malang Raya dengan pertumbuhan kafe serta kedai kopinya yang pesat diyakini akan mampu mencapai kesuksesan dalam menawarkan produk matcha, produksi Intibev yang bergerak di bidang penyedia powder drink untuk sektor Horeka (Hotel, Restoran, dan Kafe).
“Matcha ini memiliki fleksibilitas tinggi, mulai dari kreasi matcha latte, kombinasi kopi dan cokelat, hingga aneka olahan kue (baking). Salah satu tantangan pelaku usaha dalam mengadopsi tren baru adalah penyesuaian harga bahan baku, sehingga Intibev menjawab tantangan tersebut dengan menawarkan konsep penjenjangan (grading) produk matcha yang bervariasi mulai dari Matcha Culinary, Matcha Latte, Matcha Premium, hingga Ceremonial Matcha.,” ungkap Hans.
Melalui sinergi antara PPJI Malang Raya dan Intibev ini, para pengusaha kuliner lokal diharapkan dapat menangkap peluang tren pasar, memperkaya variasi menu, serta mendongkrak daya saing bisnis kuliner di Jawa Timur.
Manfaat edukasi dan nilai ekonomis dari pelatihan ini dirasakan langsung oleh para peserta, salah satunya adalah Afyani Puteri, Owner dari CHAIYOO Eatery dan Sumochi yang meramu menu beverage di usahanya, mengaku mendapat insight baru yang sangat berharga. Selain mempelajari sejarah dan teknik pengolahan matcha yang benar, ia kini bisa menghitung Harga Pokok Penjualan (HPP) secara lebih presisi demi menaikkan margin profit usaha.
“Materi yang disajikan kali ini memicu banyak ide kreasi menu baru bagi saya, mulai dari variasi matcha latte, matcha berry, choco matcha, coconut matcha, hingga perpaduan unik matcha dengan umbi-umbian berwarna ungu. Saya berharap pelatihan semacam ini dapat terus berkelanjutan agar para pelaku UMKM di Malang Raya ini dapat semakin kreatif dan mampu menghasilkan produk kuliner yang makin berkualitas serta berdaya saing tinggi,” tukas Afyani. (Red)
- Penulis: redaksi



