Cegah Kepunahan Kesenian Tradisional, Pemprov Jatim Apresiasi Pelestari Topeng Malangan Di Malang Raya
- account_circle Agus Yuwono
- calendar_month Kamis, 20 Agt 2026
- visibility 38
- print Cetak

Pemberian bantuan 1 set gamelan oleh Gubernur Jawa Timur (Foto : Agus Yuwono)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Kota Malang | ADADIMALANG.COM — Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Pemprov Jatim) memberikan apresiasi kepada pelaku pelestari salah satunya Topeng Malang di Taman Krida Budaya Jatim, Jalan Soekarno-Hatta, Kota Malang, Kamis (20/8/2026). Langkah ini dilakukan untuk mendukung keberlangsungan kesenian tradisional yang sempat dikategorikan hampir punah agar tetap memiliki panggung dan ruang berkembang bagi generasi muda.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Jawa Timur, Evy Afianasari, menegaskan bahwa apresiasi tersebut merupakan bentuk komitmen langsung dari Gubernur Jawa Timur terhadap keberlanjutan seni tradisional di Jawa Timur.
“Ini adalah bentuk kepedulian Ibu Gubernur terhadap para pelaku pelestari kesenian, khususnya pelestari Topeng Malang,” ujar Evy.

Evy menjelaskan, penyerahan apresiasi ini tidak dilakukan secara sembarangan, melainkan melalui proses seleksi dan kurasi ketat terhadap sanggar-sanggar maupun seniman yang aktif memelihara warisan budaya daerah.
“Jadi kami mengkurasi terlebih dahulu sanggar-sanggar atau pelaku-pelaku pelestari kesenian khususnya Topeng Malang. Kenapa Topeng Malang? Karena di catatan kami pada 2024, Topeng Malang itu menjadi salah satu jenis kesenian yang hampir punah,” tutur Evy.
Ia menambahkan, status hampir punah tersebut bukan disebabkan oleh ketiadaan seniman, melainkan karena minimnya sarana dan pertunjukan yang memfasilitasi karya mereka selama beberapa tahun terakhir.
“Hampir punah itu artinya pelakunya masih banyak, tapi tidak ada panggung. Ya, tidak ada wadah untuk mereka beraktivasi. Nah, 2024 kami mencoba mengaktivasi kembali dan alhamdulillah ini mengalami peningkatan yang signifikan,” terangnya.
Upaya aktivasi tersebut kini membuahkan hasil manis dengan lonjakan jumlah penonton secara masif, sekaligus menandai meningkatnya kepedulian generasi muda di Malang Raya terhadap seni lokal.
“Dari penontonnya yang hanya 200 orang, sekarang sudah sekitar 2.800 orang. Artinya anak-anak muda sekarang sudah melek budaya, udah peduli terhadap budaya asli Jawa Timur,” ungkapnya.

Selain pertunjukan seni, perhatian Pemprov Jatim juga menyasar penguatan sarana dan prasarana pendukung, seperti penyerahan alat musik tradisional kepada sanggar yang membutuhkan.
“Kemarin ada proposal untuk memohon set gamelan dan sudah terkurasi bahwa sanggar tersebut memang minim sarana prasarananya. Sanggar tersebut mempunyai komitmen yang kuat terhadap pelestarian, dan Ibu Khofifah akhirnya memberikan perhatiannya untuk memberikan satu set gamelan pada Sanggar Setio Utomo,” kata Evy.
Secara akumulatif sepanjang tahun ini, Pemprov Jatim telah menyalurkan apresiasi kepada sekitar 1.000 seniman dari berbagai daerah, dengan fokus khusus pada kesenian Topeng Malang untuk agenda kali ini.
“Yang aktif ikut melestarikan adalah 13 sanggar. Jadi hanya untuk 13 sanggar ini yang diputuskan untuk menerima apresiasi,” pungkasnya. (Ftm/A.Y)
- Penulis: Agus Yuwono



