Malam Barik’an RW 4 Tlogomas Digelar Berbeda, Warga Hadirkan Dialog Budaya Lintas Generasi Dengan ‘Srawung’
- account_circle Agus Yuwono
- calendar_month Minggu, 16 Agt 2026
- visibility 50
- print Cetak

Budayawan yang juga Pengelola Rumah Seni Budaya Singhasari, Sadhana Devi saat mengisi dialog budaya dan kebangsaan dal Srawung warga RW 4 Tlogomas (Foto : Agus Yuwono)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Kota Malang | ADADIMALANG.COM — Malam barik’an menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia biasanya identik dengan renungan, orasi kebangsaan, lagu perjuangan dan cerita tentang sejarah bangsa.
Namun, warga RW 4 Kelurahan Tlogomas, Kota Malang, memilih cara berbeda untuk mengisi malam 16 Agustus tahun 2026. Alih-alih menggelar acara dengan format satu arah, warga menghadirkan dialog budaya dan kebangsaan lintas generasi bertajuk “Srawung” Malam hari ini, Minggu (16/8/2026).
Srawung yang bermakna berinteraksi dan berkumpul bersama tersebut menghadirkan budayawan sekaligus Pengelola Rumah Seni Budaya Singhasari, Sadhana Devi, sebagai narasumber kegiatan. Konsep tersebut menjadi bagian dari upaya warga RW 4 Tlogomas menghidupkan kembali suasana kebersamaan sekaligus membuka ruang percakapan antara generasi muda dan generasi yang lebih senior.
Ditemui di sela-sela kegiatan, Ketua Pelaksana Dialog Budaya dan Kebangsaan “Srawung”, Fadhli Ramsi mengatakan konsep malam barik’an tahun ini memang sengaja dibuat berbeda dari pelaksanaan sebelumnya.
“Tahun ini vibes-nya old school atau tempoe doeloe dengan ada giburan musik keroncong dan panitianya juga mengenakan baju tradisional. Meskipun konsepnya berbeda, namun secara esensi tetap sama. Biasanya malam barik’an itu diisi dengan orasi kebangsaan yang satu arah, namun kali ini kita memberikan sesuatu yang baru dalam bentuk dialog budaya dan kebangsaan,” ungkapnya.

Nuansa tempoe doeloe tidak hanya terlihat dari musik keroncong dan pakaian tradisional yang dikenakan panitia, materi dialog juga diarahkan untuk membicarakan perubahan kehidupan dan budaya Malang dari masa lalu hingga kondisi saat ini.
Menurut Fadhli, pembahasan tersebut sekaligus menjadi ruang untuk melihat bagaimana budaya masyarakat berubah seiring perkembangan zaman.
“Apakah budaya itu berubah atau tetap sama seperti mungkin 20 tahun lalu atau 10 tahun lalu. Acara ini diikuti lintas generasi ya, mulai yang gen-z hingga warga yang sudah sepuh,” ungkapnya.
Sementara itu ditemui di lokasi yang sama, Ketua RW 4 Tlogomas, Subiyanto memberikan apresiasi terhadap konsep Srawung yang dinilainya dapat menjadi sarana untuk kembali mengenalkan sejarah kepada generasi muda.

“Zaman sekarang takutnya anak-anak lupa dengan sejarah sehingga dengan adanya acara Srawung ini otomatis kita mengingatkan. Apalagi anak-anak sekarang jarang ada yang tahu tentang makna Srawung yang memang kita kita munculkan lagi agar diketahui oleh semua,” ungkap Subiyanto.
Menurutnya, makna Srawung tidak berhenti pada aktivitas berkumpul, dimana di RW 4 Tlogomas tradisi berinteraksi tersebut juga dapat menjadi sarana untuk mengenang jasa para pahlawan dan sesepuh bangsa sekaligus memperkuat kembali semangat gotong royong di tengah masyarakat.
“Harapan ke depannya hubungan antar warga RW 4 Tlogomas antara warga lintas generasi akan semakin akrab. Terlebih di wilayah ini kan sudah banyak yang pensiun dan adik-adik milenial hingga gen-z, dan Srawung ini harapannya dapat menyatukan kita semuanya,” tukas Ketua RW 4 Tlogomas Kota Malang, Subiyanto.
Di tengah kemeriahan acara malam ini, juga dihadiri oleh Ketua Komisi A DPRD Kota Malang, Lelly Thresiyawati yang mengaku sangat mengapresiasi kegiatan warga di RW 4 Tlogomas dalam rangka memperingati hari Kemerdekaan tersebut.
“Alhamdulillah, puji syukur, senang sekali saya dapat berkesempatan hadir dan memberikan apresiasi di RW 4 Tlogomas ini, luar biasa warganya kompak dan saya hadir mulai pagi hingga malam ini,” ungkap Lelly.
Kehadirannya dalam kegiatan tersebut, menurut Lelly, juga menjadi bentuk dukungan kepada masyarakat yang berada di daerah pemilihannya, Lowokwaru.
“Jadi ini juga menunjukkan bahwa saya hadir hanya saat mau pemilihan saja, sehingga di momen seperti inipun saya hadir langsung dan memberikan dukungan kepada warga,” ungkapnya.
Dialog yang dilaksanakan berlangsung dengan meriah tanpa menghilangkan nuansa sakral dan kekhidmatan kemerdekaan.
Dalam dialog yang dipandu oleh Arif tersebut, Sadhana Devi mengajak warga melihat kembali perubahan Malang dari masa lalu hingga sekarang. Menurutnya, perubahan merupakan bagian dari perjalanan zaman, tetapi terdapat nilai yang semestinya tetap dijaga.
“Tentunya ada yang banyak berubah. Waktu berubah, tetapi ada yang seharusnya tidak berubah yaitu karakter yang baik, yakni karakter yang kita sebut adi luhung ini. Oleh karena itu saya kenakan motif Adiluhung yang saya jelaskan kepada semua warga yang hadir malam hari ini,” jelas Sadhana Devi.
Ia berharap kegiatan Srawung dapat menjadi ruang pertemuan antargenerasi yang tidak hanya membicarakan masa lalu, tetapi juga membangun hubungan antara generasi senior dan generasi muda.
Menurut Sadhana, generasi senior memiliki peran untuk memberikan contoh dan teladan kepada generasi berikutnya. Dengan keteladanan tersebut, generasi muda diharapkan dapat melihat dan menghargai orang yang memiliki karakter baik atau adiluhung.
Rangkaian peringatan kemerdekaan RW 4 Tlogomas sendiri telah dimulai sejak pagi. Sebelum dialog budaya dan kebangsaan digelar pada malam hari, warga mengikuti jalan santai dan bazar kemerdekaan yang diikuti sekitar 500 orang.
Dengan rangkaian kegiatan tersebut, peringatan kemerdekaan di RW 4 Tlogomas tidak hanya menjadi agenda tahunan, tetapi juga menjadi ruang pertemuan warga dari berbagai usia untuk berbagi pengalaman, mengenal kembali budaya dan sejarah, serta memperkuat hubungan sosial di lingkungan tempat tinggal. (A.Y)
- Penulis: Agus Yuwono



