Kampung Gribig Religi Tetap Lestarikan Tradisi Bubur Sapar

Baca Juga

Plt. Walikota Malang tawari Teh Pucuk Harum Gelar Event Kuliner Skala Nasional di Kota Malang

Kota Malang – Bertempat di lapangan Rampal kota Malang, event festival kuliner ‘Pucuk Coolinary Festival’ dibuka secara resmi sekitar...

1,5 Bulan Ini Naga Menghidupi Ibunya Seorang Diri

Anak 8,5 tahun mengemis untuk hidupi ibunya yang patah tulang korban kecelakaan. ADADIMALANG - Tidak ada yang menyangka bahwa roda...

Organisasi Pemuda Internasional AIESEC lakukan Studi Budaya ke KBP

Mahasiswa Asing mendominasi kunjungan studI budaya AIESEC ke Kampung Budaya Polowijen. Kota Malang - Didominasi oleh mahasiswa asing, orgaanisasi Association...

ADADIMALANG – Sebagai orang Jawa pastinya mengetahui dengan istilah Safaran dimana setiap daerah memiliki tradisi Safaran yang berbeda-beda sesuai dengan kultur dan wilayahnya masing-masing.

Menurut kepercayaan masyarakat Jawa pada umumnya, sifat bulan Safar hampir sama dengan bulan sebelumnya yang merupakan kelanjutan dari bulan Suro (Muharram).

Pada hari Kamis Kliwon atau malam Jum’at Legi kemarin (16/09/2021), Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kampung Gribig Religi (KGR) menggelar even secara terbatas berupa ‘Mbabar Bubur Sapar’ di areal destinasi wisata komplek cagar budaya dan pesarean Ki Ageng Gribig Kedung Kandang kota Malang.

Kegiatan Mabar Bubur Safar tersebut merupakan even promosi pariwisata Kota Malang yang berasal dari Kampung Tematik Kampung Gribig Religi (KGR).

Kampung Gribik Religi ini merupakan salah satu Kampung wisata berbasis religi yang menjadi Kampung Tematik yang paling ramai di di kunjungi para peziarah di Kota Malang. Dalam kondisi pandemi akibat Covid-19 ini, even Mabar Bubur Safar dilaksanakan secara terbatas dan tidak seramai dengan tahun-tahun sebelumnya,

“Maklum karena masa Pandemi Covid-19 dimana Kota Malang PPKM masih lavel 3, maka kegiatan ini tidak bisa di kunjungi wisatawan,” ungkap Sekretaris KGR, Agus Ahmad Saichu.

Menurut Agus Ahmad Saichu, Bubur sapar atau yang biasa disebut dengan ‘Jenang Grendul’ berbentuk bundar tersebut mengandung makna bahwa ada kalanya siklus kehidupan manusia ada di atas dan terkadang di bawah seperti konsep bola (roda kehidupan).

“Bahan untuk membuat bubur Sapar adalah beras ketan. Sebagaimana kita tahu ketan adalah lekat atau “lengket” yang mengandung makna bahwa perbedaan apa pun dalam hal bermasyarakat tetap “lengket” atau erat dalam bersosialisasi dengan warga masyarakat yang lain. Sehingga ada harmonisasi dalam menjalani kehidupan ini,” ungkap Agus yang juga menjabat sebagai Sekretaris Forkom Pokdarwis Kampung Tematik Kota Malang.

Sementara itu, Ketua Pokdarwis Kota Malang, Ki Demang yang merupakan Pengggas Kampung Budaya Polowijen juga memberikan tanggapan bahwa bulan Safar sebenarnya banyak diyakini sebagai bulan yang penuh bencana, Bala malapetaka dan kesialan.

“Mayoritas masyarakat Jawa hingga saat ini masih mempercayai bahwa bulan ini dipenuhi dengan hal-hal yang bersifat ketidakberuntungan”.

Menurut pria yang memiliki nama asli Isa Wahyudi ini menyampaikan masyarakat Jawa yang beraliran kejawen menganggap hari Rabu Legi pada bulan Safar dianggap sebagai hari yang jelek sekali sehingga tidak boleh dibuat bepergian dan hari Rabu Pahing yang dipercaya sebagai Dina Taliwangke yaitu hari yang sebaiknya disirik (dihindari). (A.Y)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -

Berita Terbaru

Jamaluddin, Santri Pondok Pesantren Mamba’ul ‘Ulum Malang Juarai LBKK Ke-5V FPKS di Malang Raya 2021

Para Juara akan dikirim ke LBKK tingkat Provinsi jawa Timur. Kabupaten Malang ADADIMALANG - Setelah 71 orang peserta berjuang dalam...

Lestarikan Budaya Pesantren, PKS Se-Malang Raya Gelar Lomba Baca Kitab Kuning

ADADIMALANG - DPD Partai Keadilan Sejahtera (PKS) se-Malang Raya kembali sukses menggelar Lomba Baca Kitab Kuning (LBKK) yang dilaksanakan secara hybrid Sabtu kemarin (27/11/2021). Kegiatan...

Tak Mau Kecolongan, Polinema Jaga Ketat Protokol Kesehatan Saat Wisuda Hybrid

Lakukan screening pendamping wisudawan sejak pintu gerbang masuk kampus. ADADIMALANG - Tidak menginginkan adanya kondisi yang tidak diinginkan saat pandemi Covid-19 ini terjadi, panitia wisuda...

Polinema Tuntaskan Tiga Gelombang Wisuda Tahun 2021

Gelombang ketiga dilaksanakan secara hybrid dengan dua sesi. ADADIMALANG - Sesuai dengan target yang telah ditetapkan sebelumnya untuk melaksanakan tiga kali gelombang wisuda tahun ajaran...

Refleksi Toleransi 2021 Di Jawa Timur Berdasarkan Catatan Riset Lapangan

Tingkat toleransi diketahui semakin menurun dari tahun ke tahun. ADADIMALANG - Menjelang akhir tahun 2021 ini, terjadinya penangkapan Ahmad Zain (AZ), anggota Majelis Ulama Indonesia...
- Advertisement -

Berita Terkait