Program Sakura Ke-24 Di Kampus STIE Malangkuçeçwara Dibuka Mulai Hari Ini

Wakil Ketua I Bidang Akademik STIE Malangkuçeçwara, Dra. Tutik Arniati, Ak., M.M., CA., CPA., mengalungkan syal kepada para peserta program Sakura ke-24 (Foto : Agus Yuwono)
Wakil Ketua I Bidang Akademik STIE Malangkuçeçwara, Dra. Tutik Arniati, Ak., M.M., CA., CPA., mengalungkan syal kepada para peserta program Sakura ke-24 (Foto : Agus Yuwono)

Diikuti 10 orang mahasiswa dari Kanda University Jepang selama sebulan tinggal di Malang.

ADADIMALANG.COM | Kampus ABM – Diikuti 10 orang mahasiswa asal Kanda University Jepang, STIE Malangkuçeçwara secara resmi membuka program Sakura hari ini, Senin (12/02/2024).

Dalam kegiatan pembukaan yang dilaksanakan di gedung H STIE Malangkuçeçwara (ABM Malang) ini, dihadiri oleh sepuluh peserta program Sakura ke-24 dan peserta program Darmasiswa dan juga BIPA Khusus di kampus ABM Malang. Selain itu para pejabat kampus STIE Malangkuçeçwara juga nampak hadir mengikuti pembukaan kegiatan tersebut.

Direktur Indonesian Studies Program (ISP) STIE Malangkuçeçwara, Dra Suprapti, SPd., MPd., dalam sambutannya menyampaikan Program Sakura kali ini merupakan program ke-24 sejak mulai dibuka tahun 2002 dengan nama program Bunga.

Peserta Program Sakura dan Dharmasiswa serta BIPA Khusus di kampus STIE Malangkuçeçwara mengabadikan momen usai Pembukaan program Sakura ke-24 tahun 2024 pagi tadi (Foto Agus Yuwono)
Peserta Program Sakura dan Dharmasiswa serta BIPA Khusus di kampus STIE Malangkuçeçwara mengabadikan momen usai Pembukaan program Sakura ke-24 tahun 2024 pagi tadi (Foto Agus Yuwono)

“Dalam setiap pelaksanaan nya akan ada tema yang berbeda-beda dimana untuk tahun ini memilih tema ‘Jelajah Indonesia’, dimana para peserta akan mengikuti berbagai kegiatan termasuk berkunjung ke berbagai tempat di Malang dan juga Bali,” ungkap perempuan ramah ini.

Dengan mengikuti program Sakura, maka para peserta program akan mengikuti pembelajaran bahasa dan budaya Indonesia secara intensif dengan menggunakan metode celup total.

“Setiap peserta akan ditempatkan di rumah warga sekitar kampus ABM sehingga mereka akan dapat berinteraksi langsung dengan masyarakat dengan menggunakan bahasa Indonesia. Dengan begitu maka penguasaan bahasa Indonesia peserta akan jauh lebih cepat. Selainnitu mereka juga akan didmapingi satu mahasiswa,” ujar Suprapti.

Jika sebelumnya peserta program Sakura jumlahnya mencapai lebih dari 20 orang, kali ini hanya diikuti oleh 10 orang peserta dari Kanda University.

“Salah satunya disebabkan adanya pesta demokrasi yakni Pemilu di Indonesia dan juga kondisi ekonomi Jepang paska pandemi Covid-19 yang belum stabil. Q0 orang peserta ini ikut program Sakura dari total 17 peserta yang tertarik mengikutinya,” jelas Dosen Program Studi Bahasa Indonesia dari Kanda University of International Studies Jepang, Prof Suyoto yang juga menjadi oendamping peserta program Sakura.

Dengan mengikuti program Sakura, Prof. Suyoto berharap kemampuan berbahasa Indonesia para peserta akan meningkat secara signifikan.

“Selama ini, di kampus mereka tidak memiliki padanan kongkrit untuk para mahasiswa berpraktik dalam berkomunikasi bahasa Indonesia. Para mahasiswa hanya belajar di universitas, setelah selesai mereka tidak memiliki kesempatan untuk mempraktikkan dan mengunakan bahasa Indonesia secara nyata. Jadi melalui program Sakura ini mereka dapat praktik secara langsung,” ungkapnya.

Dosen Bahasa Indonesia Kanda University yang juga pendamping program Sakura yakni Prof. Suyoto memberikan sambutan sebelum prosesi pengenalan para peserta Program Sakura di kampus STIE Malangkuçeçwara (Foto : Agus Yuwono)
Dosen Bahasa Indonesia Kanda University yang juga pendamping program Sakura yakni Prof. Suyoto memberikan sambutan sebelum prosesi pengenalan para peserta Program Sakura di kampus STIE Malangkuçeçwara (Foto : Agus Yuwono)

Permasalahan politik di Indonesia yang berkaitan dengan pelaksanaan Pemilu 14 Februari 2024 mendatang menurut Prof. Suyoto akan menjadi pengalaman dan cara pandang yang berbeda bagi para mahasiswa Kanda University yang datang ke Malang mengikuti program Sakura.

“Sebab di sana generasi muda benar-benar tidak tertarik dengan politik karena bagi mereka urusan politik atau negara sudah ada yang mengurusnya. Semoga di program Sakura berikutnya jumlah pesertanya sudah kembali normal seperti tahun-tahun sebelumnya,” harap Prof. Suyoto. (A.Y)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini