Kota Malang | ADADIMALANG.COM — Studio 3 CGV City Point Malang siang tadi berubah menjadi ruang penuh haru. Sepanjang pemutaran film “Sampai Titik Terakhirmu”, isak tangis para penonton terdengar jelas. Cerita yang diangkat dari kisah nyata ini berhasil membawa penonton masuk ke perjalanan emosional dua insan yang saling mencintai.
Film produksi LYTO Pictures tersebut menyoroti perjalanan asmara Albi Dwizky dan Shella Selpi Lizah. Shella yang dikenal sebagai kapten tim sepak bola perempuan bertemu dengan Albi, seorang crew event organizer. Pertemuan yang tidak direncanakan itu berkembang menjadi kedekatan hingga keduanya menjalin hubungan asmara.
Kisah mereka tidak berjalan mulus. Ketegaran dan ketulusan cinta Albi diuji setelah Shella divonis mengidap kista yang kemudian berkembang menjadi kanker ovarium. Adegan demi adegan menggambarkan romantisme, ketulusan, perjuangan mempertahankan hubungan, serta harapan agar Shella kembali sehat. Inilah yang membuat suasana studio terasa sendu dan menyentuh perasaan para penonton.
Penampilan Mawar Eva de Jongh sebagai Shella dan Arbani Yasiz sebagai Albi menjadi salah satu daya tarik kuat. Akting keduanya membuat penonton terpaku di tempat duduknya sejak film dimulai hingga layar gelap di akhir cerita.
Setelah film selesai, para penonton semakin semakin antusias ketika sejumlah pemain hadir langsung di dalam studio. Hadir antara lain TJ Ruth (Ibu Nurul), Siti Fauziah (Ibu Yeti), dan Unique Priscilla (Ibu dari Shella).
Pemutaran di Malang terasa semakin spesial karena Albi Dwizky turut hadir menyapa penonton. Ia terlihat emosional ketika berbicara tentang sosok Shella.
“Terima kasih ya sudah menyempatkan waktunya untuk nonton film ‘Sampai Titik Terakhirmu’ ini, dan saya senang sekali bisa datang ke Malang karena Malang ini adalah salah satu kota yang pernah dikunjungi oleh almarhumah Shella waktu dia masih main bola. Jadi pas pertama aku datang ke sini, aku merasakan adanya Shella di sini,” ungkap Albi.

Albi berharap kisah dalam film ini dapat menjadi ruang refleksi bagi setiap orang yang menontonnya.
“Semoga bisa lebih sayang lagi ke pasangannya, bisa lebih sayang lagi ke keluarganya dan bisa menjadi support system yang baik buat keluarga dan pasangan dan teman-teman kita semua,” ujar Albi di hadapan penonton di Studio 3.
Sementara itu, Unique Priscilla membagikan pengalamannya selama proses produksi. Menurutnya, membangun chemistry antar pemain berlangsung sangat cepat.
“Ini tidak dapat dilepaskan dari peran mas Albi yang juga dilibatkan mulai penyusunan skenario hingga syuting. Sehingga saat kita terima naskah skenario itu kita semua sudah satu frekuensi,” ungkap Priscilla.
Ia mengakui beberapa adegan sangat emosional bagi para pemain. Ada momen ketika rasa ingin menangis begitu kuat, tetapi adegan tidak memperbolehkan air mata jatuh.

Sementara dari sisi Albi memastikan film yang trlah disaksikan masyarakat ini telah mewakili kisah cintanya bersama Shella.
“Skenario film dan adegan yang ditayangkan sudah mewakili cerita saya dan Shella, saya sudah puas dan telah merasa terwakili,” ungkap Albi.
Ketika ditanya alasan dirinya mengizinkan kisah hidupnya diangkat ke layar lebar, Albi menjawab tegas dengan penuh ketulusan.
“Biar cerita ini, semangat ini tidak hanya berhenti di Albi dan Shella saja, tetapi semua juga dapat tahu. Terimakasih Malang,” pungkas Albi Dwizky.
Film “Sampai Titik Terakhirmu” tidak hanya menawarkan kisah cinta, tetapi juga pelajaran tentang ketegaran, penghargaan atas waktu, dan pentingnya kehadiran untuk orang-orang yang dicintai. Tidak mengherankan jika penonton meninggalkan studio dengan mata berkaca-kaca dan hati hangat. (A.Y)
